Uneg sang penyampah2

Dialektika Angka

Ketika kecil ku di kenalkan pada angka.

Melalui bimbingan orang tua,

aku pun diajarkan berhitung oleh bapa.

Sejak itu dunia menghitung ku suka..

Masuk sekolah dasar, aku kian suka angka-angka.

Tiap ajaran guru, ku simak dengan seksama.

Ku cerna dan ku latih kembali dengan cara berbeda.

Untuk menemukan jawab atas berbagai tanya.

Untuk menghilangkan rasa akan dahaga.

Bagaikan seorang yang gila,

pengidap kelainan jiwa.

Atau layaknya seorang yang terpanah asmara.

Begitulah keadaanku ketika itu dalam dunia nyata…

Beranjak ke sekolah menengah pertama.

Rasa suka ku masih sama,

bahkan tak jua reda.

Justru aku kian menyukai matematika.

Terlebih dipicu oleh didikan ibu guru nan bijaksana,

mengajarkan ilmu yang ia punya,

membimbing para siswa hingga bisa.

Jujurku terpesona oleh kasihnya.

Berkat kasihnya,

aku semakin cinta terhadap matematika.

Namun terjadi hal yang sulit dipercaya.

Rasa cinta itu sirna,

berubah menjadi benci terhadap pelajaran matematika.

Antiklimaks itu mendera kala aku SMA.

Aku memandang matematika seakan beda.

Hidupku menjadi sulit karenanya.

Aku tak lagi merasakan cinta yang dahulu ku rasa.

seakan hampa tak berdaya..

Entah mengapa?

Namun sadarku bahwa aku telah terlena,

tergoda oleh indahnya dunia,

terbius dalam bebasnya pergaulan remaja.

Yang sesungguhnya semu dan fana.

Jangankan prestasi yang sempat ku raih pada masa sebelumnya.

Untuk bertahan agar tak tinggal kelas saja sulit terasa.

Bukan lagi puja yang pernah ku terima,

melainkan hina yang menerpa…

Namun terlepas dari beragam duka,

bersyukur ku ketika beranjak dewasa.

Ternyata melalui perenungan yang lama,

semua itu hanyalah dinamika.

Justru kini telah membuka mata.

memberi secercah cahaya,

menerangkan cakrawala serta mencerahkan logika.

Semua itu tak terlepas dari peran matematika.

Padahal dahulu ku ragukan untuk apa?

Karena tak dibutuhkan dalam dunia kerja.

Terlebih akibat ku jatuh dalam putus asa.

Aku masih berkutat dengan pertanyaan yang sama.

Untuk apa mempelajari matematika??

Namun kini terjawab semua.

Terbukti benar manfaatnya.

Kini aku menjadi manusia yang terbuka.

Memandang sesuatu dengan logika,

mencari solusi melalui dialektika.

Dan yang lebih berharga,

aku sekarang dapat menerima realita,

kerap bersyukur kehadirat-Nya atas beragam karunia…

Terima kasih Tuhan, bapa,

Terima kasih ibu guru tercinta..

fly08052010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s