Uneg Sang Penyampah

BUMI

Bumi..

Pagi ini ku terbangun dari mimpi.

Mimpi tentang kedamaian suatu negeri.

Dimana bumi yang ku pijaki indah nan asri,

berhiasan kilau bening air yang berseri,

bertaburan gemerlap hijau dedaunan yang menyejukkan hati,

berbingkai sang mentari yang dibaluti warna pelangi..

Sungguh sebuah maha karya yang dikaruniakan dari-Mu,  illahi robbi…

Bumi..

Andai ku tahu riwayatmu dahulu hingga kini.

Dimana kala itu pesona kealamianmu terpancar dari beragam hayati,

dengan keasrianmu yang tak tertandingi.

Dan keindahanmua yang tak terbataskan oleh sebuah imaji.

Mungkin hanya keelokkan sang bidadari yang dapat menandingi.

Sebagai sebuah analogi terhadap suatu keindahan yang abadi..

Bumi..

Namun, kini ku telah sadar diri.

Seiring dengan terbangunnya diriku dari mimpi pagi ini.

Sadar bahwa imajinasiku itu tak lebih hanya sebatas mimpi,

yang sulit menjadi bukti untuk terrealisasi.

Karena kini ku tahu usiamu kian senja sebagai hal yang alami.

Dan rentan terhadap berbagai bencana yang menghujami.

Serta perlahan dirimu akan tergerus oleh sang waktu yang kian tak peduli.

Hingga akhirnya meruntuhkan kedigdayaanmu dengan segala isi.

Seperti yang telah terpatri sebelum semua ini terjadi.

Dari ketiadaan menjadi tiada kembali.

fly22042010

DIALEKTIKA ANGKA

Ketika kecil ku di kenalkan pada angka.

Melalui bimbingan orang tua,

aku pun diajarkan berhitung oleh bapa.

Sejak itu dunia menghitung ku suka..

Masuk sekolah dasar, aku kian suka angka-angka.

Tiap ajaran guru, ku simak dengan seksama.

Ku cerna dan ku latih kembali dengan cara berbeda.

Untuk menemukan jawab atas berbagai tanya.

Untuk menghilangkan rasa akan dahaga.

Bagaikan seorang yang gila,

pengidap kelainan jiwa.

Atau layaknya seorang yang terpanah asmara.

Begitulah keadaanku ketika itu dalam dunia nyata…

Beranjak ke sekolah menengah pertama.

Rasa suka ku masih sama,

bahkan tak jua reda.

Justru aku kian menyukai matematika.

Terlebih dipicu oleh didikan ibu guru nan bijaksana,

mengajarkan ilmu yang ia punya,

membimbing para siswa hingga bisa.

Jujurku terpesona oleh kasihnya.

Berkat kasihnya,

aku semakin cinta terhadap matematika.

Namun terjadi hal yang sulit dipercaya.

Rasa cinta itu sirna,

berubah menjadi benci terhadap pelajaran matematika.

Antiklimaks itu mendera kala aku SMA.

Aku memandang matematika seakan beda.

Hidupku menjadi sulit karenanya.

Aku tak lagi merasakan cinta yang dahulu ku rasa.

seakan hampa tak berdaya..

Entah mengapa?

Namun sadarku bahwa aku telah terlena,

tergoda oleh indahnya dunia,

terbius dalam bebasnya pergaulan remaja.

Yang sesungguhnya semu dan fana.

Jangankan prestasi yang sempat ku raih pada masa sebelumnya.

Untuk bertahan agar tak tinggal kelas saja sulit terasa.

Bukan lagi puja yang pernah ku terima,

melainkan hina yang menerpa…

Namun terlepas dari duka,

bersyukur ku ketika beranjak dewasa.

Ternyata melalui perenungan yang lama,

semua itu hanyalah dinamika.

Justru kini telah membuka mata.

memberi secercah cahaya,

menerangkan cakrawala serta mencerahkan logika.

Semua itu tak terlepas dari peran matematika.

Padahal dahulu ku ragukan untuk apa?

Karena tak dibutuhkan dalam dunia kerja.

Terlebih akibat ku jatuh dalam putus asa.

Aku masih berkutat dengan pertanyaan yang sama.

Untuk apa mempelajari matematika??

Namun kini terjawab semua.

Terbukti benar manfaatnya.

Kini aku menjadi manusia yang terbuka.

Memandang sesuatu dengan logika,

mencari solusi melalui dialektika.

Dan yang lebih berharga,

aku sekarang dapat menerima realita,

kerap bersyukur kehadirat-Nya atas beragam karunia…

Terima kasih Tuhan, bapa,

Terima kasih ibu guru tercinta..

fly08052010

Iklan

One thought on “Uneg Sang Penyampah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s