Bercinta dengan-Mu

Tuhan,

Aku ingin mencintai-Mu.

Mencintai dengan seluruh hatiku.

Menempatkan-Mu dalam tiap sel tubuhku.

Tuhan,

Aku ingin dicintai-Mu.

Dicintai sebagai hamba yang mengabdi hanya pada-Mu.

Yang selalu menyebut lafadz-Mu dalam tiap nafasku.

Tuhan,

Aku ingin bercinta dengan-Mu.

Bercinta sepanjang masaku.

Di siang maupun malamku.

Tuhan,

Kenikmatanku adalah ketika Engkau memanggilku.

Menyentuh dan membelai lembut hatiku.

Dengan kasih-Mu yang ku rindu.

Tuhan,

Aku sungguh merindu-Mu.

Rindu akan nikmat-Mu yang menentramkan batinku.

Yang membiusku sehingga tak ingin berpaling dari-Mu.

Fly, 28 Nov 2010

Iklan

22 April diperingati agar bumi lestari

Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, seyogyanya menjadi momentum bagi kita semua dalam menjaga kelestarian planet bumi tercinta. Karena kelestarianya berperan besar bagi kelangsungan hidup kita semua. Tidak hanya khusus bagi umat manusia. Melainkan juga bagi makhluk hidup lainnya.

Bumi dengan segala isinya, merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Ekosistem yang terdapat didalamnya merupakan suatu bentuk keseimbangan. Jika terdapat ketimpangan dalam suatu ekosistem, maka kelangsungan makhluk hidup didalamnya pun berada dalam ancaman.

Seperti yang tengah kita rasakan saat ini. Terjadi perubahan iklim yang ekstrem dengan cuaca yang bervariasi setiap hari. Jika hari ini turun hujan, esok hal tersebut belum tentu kembali terjadi. Mungkin sebaliknya, cuaca akan panas dengan tingginya terik matahari. Padahal jika meruntut pada siklus musim tahunan, harusnya telah memasuki musim panas di seantero negeri ini.

Perubahan iklim yang ekstrem, harusnya disikapi dengan sigap oleh kita semua. Mengingat kita adalah mikrokosmos yang memiliki peran vital dalam keseimbangan alam raya. Maka dengan demikia kita harus memiliki rasa peduli. Yaitu dalam menjaga lingkungan hidup yang berperan dalam menentukan nasib kita sekarang hingga kedepannya.

Untuk itulah tujuan diperingatinya Hari Bumi yang diselenggarakan sejak era 70-an. Selain sebagai bentuk simbolisasi, ternyata momen Hari Bumi telah menjadi semacam peringatan. Yaitu untuk mengingatkan betapa penting dan berharganya lingkungan. Oleh karena itu sejak diperingatinya, beribu aktivis dan masyarakat berperan aktif dengan melakukan beragam kegiatan.

Mengingat penting dan berharganya planet bumi ini. Maka kita harus ikut berperan aktif menjaganya sebagai bentuk partisipasi. Walau dengan contoh tindakan yang sederhana, namun telah memiliki andil menjaga bumi agar lestari. Misalnya, contoh perbuatan menghemat listrik sebagai bentuk dari hemat energi. Jika energi dapat kita hemat maka akan menjaga kelangsungan bumi ini.

Nah, sekarang tinggal rasa peduli dalam diri yang akan mendorong kita untuk aktif menjaga bumi ini. Karena sekecil apapun perbuatan kita dalam rangka menjaga bumi, telah mengandung manfaat yang besar bagi semua dan pribadi.

(sampahfly033/24/04/2010)

Yoga ala Anand Krisna (jilid 2)

Yoga telah lama dikenal oleh bangsa India. Terutama di ranah spiritualitas dalam aliran kepercayaan ataupun ajaran keagamaan mereka. Tujuan dari yoga itu sendiri adalah untuk mengontrol pikiran manusia. Serta pula untuk mengendalikan alam sadar kita. Dan metode ini yang kemudian diadopsi dalam ajaran Anand Krisna.

Meditasi yoga ala Anand Krisna ini telah banyak menarik simpati dikalangan masyarakat Indonesia. Terutama bagi mereka yang berdomisili di Pulau Dewata. Karena lokasi pendopo/petilasan sang guruji, sebutan bagi Anand Krisna, terletak di sana. Bahkan tidak hanya masyarakat setempat yang menjadi pengikutnya. Namun juga para pengunjung yang sedang berwisata. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Yoga ala Anand Krisna menjadi metode penentraman jiwa

Keberadaan Anand Krisna di sana, seakan menjadi solusi bagi mereka yang mencari ketenangan jiwa. Meditasi yoga yang ditawarkannya, terbukti ampuh mengobati “sakit jiwa” yang diderita para pengikutnya. Akibat keberhasilan pengobatan jiwa tersebut, ternyata menimbulkan juga rasa “kecanduan” dalam diri mereka. Tidak hanya rasa candu tetapi juga menumbuhkan sikap loyalitas dan rasa keterikatan yang berlebih kepada sang guruji, Anand Krisna.

Rasa keterikatan berlebih, seakan tak dapat melepaskannya, yang lantas menanamkan sikap kultus persona. Oleh pengikutnya, sang guruji dianggap sebagai manusia setengah dewa. Dengan tutur katanya yang bijaksana. Yang memberikan pencerahan pada alam pikir yang terbuka. Serta pula mengobati hati-hati yang tengah terluka. Sehingga figurnya begitu memesona dan sungguh berkarisma.

Karisma yang dimiliki sang guruji, memesona beratus pasang mata. Terutama bagi mereka para pengikutnya yang bergender wanita. Mereka seakan terbius oleh beragam patah kata indah serta bijaksana yang terlontar dari sang guruji yang dikaguminya. Sehingga menggelorakan suatu rasa. Melebihi rasa murid kepada gurunya. Tidak hanya rasa kagum semata, namun semacam rasa seseorang yang sedang terpanah asmara.

Rasa keterikatan yang berlebihan mengakibatkan suatu perkara

Hal tersebut yang kemudian menimbulkan “tindakan tak wajar” yang dilakukan oleh sang guruji kepada muridnya. Terutama terhadap seseorang dari kaum hawa. Dengan dalih suka sama suka, sang guruji mewajarkan suatu cara. Cara yang dinilai olehnya masih dalam batas kewajaran karena tak ada unsur memaksa. Melainkan adanya rasa diantara mereka berdua. Yang pada akhirnya menganggap tindakan tersebut seperti hal yang biasa.

Namun berbeda dengan penilaian salah satu murid wanitanya. Merasa dilecehkan, dia lantas membongkarkan tindakan diluar kewajaran yang dialaminya oleh sang guruji, Anand Krisna. Dia pun lantas melaporkan tindakan tersebut kepada aparat negara. Dalih pelaporannya itu lantaran sang guruji telah melecehkannya secara fisik dengan mengontrol alam bawah sadarnya. Seolah dia terhipnotis oleh sang guruji seketika.

Namun terlepas dari polemik antara guru dengan muridnya. Biarlah perkara tersebut diproses oleh para aparat negara. Untuk mencari kebenaran dari alibi yang bertentangan diantara mereka. Dan kita juga berusaha untuk menarik sebuah benang merah dari suatu analisa.

Sebuah analisa sederhana

Zaman modern memaksa manusia beradaptasi dengan peradabannya. Tuntutan materi menjadikan manusia lupa akan segala. Akibatnya melupakan hal esensial dalam dirinya. Yaitu spiritualitas dalam realitas sempurna.

Spiritualitas manusia mengalami degradasi makna. Sehingga menimbulkan berbagai penyakit jiwa. Penyakit tersebut harus diobati dengan suatu cara. Yoga merupakan salah satu diantaranya.

Anand Krisna menawarkan yoga sebagai meditasi spiritual untuk menentramkan jiwa. Keberhasilan yoga yang diajarkannya menimbulkan sifat adiktif dalam diri para pengikutnya. Sehingga menumbuhkan ketergantungan serta kecintaan berlebih  terhadapnya.

Kecintaan yang berlebihan menumbuhkan bentuk kultus persona. Dalam konteks ini sang murid mengagungkan gurunya. Seakan “menghipnotisnya” untuk rela melakukan apa saja. Maka muncullah skandal antara guru dengan muridnya. Yang akan kita lihat kelanjutannya. Dan nanti akan diputuskan siapa diantara mereka yang berbicara apa adanya. Baik bagi yang merasa dilecehkan ataupun dicemarkan nama baiknya.

(sampahfly030/12/04/2010)

Yoga ala Anand Krisna

Spiritualisme, menjadi tema yang selalu hangat diperbincangkan di antara kita. Tema tersebut bersifat universal melampaui perbedaaan kepercayaan maupun paham agama. Karena spiritualisme sejatinya adalah kodrat Sang Pencipta kepada insan manusia. Dan tak dapat dipisahkan dalam kehidupan yang nyata.

Dalam diskursus ini, spiritualisme dibahas dalam bingkai dialektika. Khususnya dalam ranah agama maupun budaya. Karena sifatnya melebihi segala benda. Melintasi batas dimensi material dunia. Melebihi kepuasan biologis dan hasrat akan harta. Sehingga penilaian terhadap kepuasan spiritualisme berada pada puncak tertinggi dalam beragama. Baik itu yang kerap disebut dengan tahap pencapaian ma’rifatubillah, manunggaling kawula Gusti, wahdah al-wujud, atau ana al-Haq, yang mengklaim sebagai pelepasan dir terhadap hal yang fana. Hingga pencapaian moksa maupun prilaku asketik terhadap dunia dalam tradisi gereja.

Berharganya aspek spiritualisme dalam menyikapi evolusi manusia maupun masa

Begitu pentingnya aspek spiritual dalam diri setiap manusia. Sehingga meposisikanya sebagai suatu kebutuhan fundamen yang harus selalu dipenuhi oleh kita. Apalagi dalam konteks kehidupan postmodernisme sekarang, yang menafikan ketentraman jiwa. Lantaran hanya mengejar tuntutan zaman maupun biologis saja.

Hal itu yang menjadikan manusia modern saat ini seakan kehilangan arah; hendak kemana dia? Walaupun banyak dari mereka yang mengaku menganut suatu ajaran agama. Namun ternyata tak mendalami sepenuhnya. Seperti sebatas memenuhi perintah-Nya saja dengan menjalankan berbagai ritual, tanpa memahami sebuah makna. Padahal jika direnungkan, ritual itu merupakan salah satu mediasi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Selain itu juga alasan lain menganut agama, mungkin hanya untuk melengkapi syarat identitas diri sebagai warga negara.*

Kekosongan jiwa yang dialami manusia modern seperti kasus diatas, menyebabkan mereka tergiring ke dalam hidup yang hampa. Seakan merasa teralienasikan dalam kehidupan di dunia. Karena merasa terbebani dengan kondisi dan suasana. Sehingga menumbuhkan motivasi untuk keluar dari kehampaan yang menyiksa. Mencari berbagai metode atau solusi untuk mengatasinya. Dan ternyata salah satu metode mengatasinya, seperti yang ditawarkan oleh seorang spiritualis, Anand Krisna.

Metode rehabilitasi spiritual yang ditawarkan oleh Anand Krisna begitu banyak menarik minat warga, baik domestic maupun mancanegara. Hal tersebut tidak hanya karena ajaran spiritualnya. Namun juga karena figur pribadinya yang toleran dan terbuka. Dengan memandang semua manusia sama. Sehingga tidak melihat seseorang dari latarnya. Baik itu dari segi agama, suku bangsa maupun usia.

Karena sikap keterbukaannya tersebut maka tak heran banyak orang yang menaruh simpati untuk mengikuti ajarannya. Ajaran yang memuat metode untuk memenuhi hasrat jiwa manusia. Yaitu berupa metode dalam merehabilitasi jiwa-jiwa yang hampa. Baik itu karena perubahan dunia yang telah menggila. Ataupun pemenuhan dalam rangka menyejukkan rohani dalam beragama. Metode rehabilitasi yang ditawarkan olehnya, yaitu meditasi ala India yang dikenal dengan istilah yoga.

**bersambung

Memaknai kekudusan dalam tragedi penyaliban

Kisah seorang pembawa pesan kedamaian yang begitu dramatik, tatkala dia harus menebus kesalahan umat manusia dengan mengorbankan dirinya di tiang penyalib  an, sungguh mengandung nilai kesucian. Terutama bagi para pengikutnya, ketika masa itu di Tanah Kanaan hingga sekarang maupun akhir zaman. Tokoh yang disalib itu adalah Isa putra Maryam, sang juru selamat kehidupan.

Menapak tilasi keadaan sosio-kultural pra-penyaliban

Berbagai makna sesungguhnya terkandung dalam tragedi penyaliban. Bagaimana seorang Isa putra Maryam rela mengorbankan nyawanya demi suatu agenda penyelamatan. Yaitu secara umum dengan menyelamatkan umat manusia keseluruhan. Namun lebih spesifik dalam konteks masa terjadinya penyaliban itu, adalah menyelamatkan nyawa bangsa Yahudi dan umatnya dari tindak kekejaman. Kekejaman yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi yang tiran dalam pendudukan Kota Yerusalem dan Tanah Kanaan.

Pendudukan tersebut dikarenakan Yerusalem kala itu telah menjadi lahan perebutan kekuasaan. Lantaran lokasinya yang strategis dalam jalur perdagangan. Sehingga pendudukan atas Yerusalem menjadi suatu kemutlakan. Dengan demikian, maka segala bentuk ajaran yang disinyalir dapat mengganggu hegemoni Kekaisaran Romawi di Tanah Kanaan harus ditekan. Bahkan kalau bias diberanguskan, agar tak tersisa ajaran sempalan yang nantinya dapat membahayakan.

Atas dasar demikian, maka pemerintah yang berkuasa kala itu menindak Isa putra Maryam dengan ajarannya mengenai kedamaian serta kebijakan. Karena ditengarai oleh mereka dapat menumbuhkan benih-benih patriotisme di kalangan para militant. Sehingga dapat memicu meletusnya api pemberontakan. Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Karena ajaran yang dibawanya lambat laun memperoleh banyak dukungan dari para simpatisan. Terutama di kalangan Bangsa Yahudi yang merupakan satu keturunan.

Ditambah lagi dalam keyakinan mereka (bangsa Yahudi) terdapat kepercayaan akan datangnya “sang juru selamat” yang membawa mereka keluar dari penindasan. Dan juga membawa mereka pada suatu kemerdekaan. Apalagi Isa putra Maryam digadang-gadang oleh mereka sebagai prototipe raja yang ideal dalam menciptakan kemaslahatan. Yang kelak akan menjadi raja yang bijaksana dari segi kepemimpinan.

Alasan mengorbankan sang juru selamat keatas bukit penyaliban

Kekhawatiran yang berlebihan tersebut yang pada akhirnya menjadi kebijakan yang diambil oleh Pilatus, penguasa Yerusalem kala itu, untuk mengambil suatu tindakan. Yaitu dengan menangkap Isa putra Maryam dan menjebloskannya ke dalam tahanan. Dengan begitu menurutnya, benih-benih pemberontakan dapat diminimalisir dan memberi shock terapy bagi rakyat kebanyakan.

Namun kekhawatirannya tak lantas hilang begitu saja, lantaran dia tak dapat memenjarakan Isa putra Maryam tanpa suatu alasan. Alih-alih untuk memberi suatu penjelasan. Maka cara lain pun harus ditempuh agar legitimasi penangkapannya menjadi jelas yaitu dengan dikenai pasal penistaan terhadap ajaran. Sehingga pengadilan terhadapnya pun harus diserahkan kepada mereka (bangsa Yahudi) sendiri yang memeluk suatu ajaran kepercayaan. Dengan begitu, Pilatus atas nama kekaisaran lepas tangan. Dan menyerahkan proses hukumnya kepada rakyat kebanyakan.

Dengan mempertimbangkan konstelasi politik yang ketika itu tengah memanas karena adanya benih pemberontakan. Dan juga menimbang akan utamanya kemaslahatan. Maka mereka (bangsa Yahudi) mengambil suatu keputusan dengan mengadili Isa putra Maryam melalui proses penyaliban. Agar stabilitas politik dan kemasyarakatan kambali terkendali dan aman.

Dengan pertimbangan demikian, maka secara lansung mereka memiliki andil dalam menormalisasi keadaan. Sehingga konstelasi politik yang sebelumnya sempat memanas dapat kembali didinginkan. Dan ketakutan akan meletusnya pemberontakan yang mengakibatkan pertumpahan darah dapat terelakkan.

Maka proses penyaliban terhadap Isa putra Maryam pun segera dilaksanakan. Dengan terlebih dahulu dilakukan eksekusi terhadapnya berupa cambukan. Baik cambukan yang dilakukan di halaman istana kekaisaran. Maupun cambukan ketika Isa putra Maryam melakukan perjalanan dari ruang tahanan hingga sesampainya di bukit penyaliban.

Makna tragedi penyaliban bagi umat manusia keseluruhan

Perlakuan kekerasan berupa cambukan yang menimpa Isa putra Maryam tak menyurutkannya dalam menyikapi suatu keyakinan. Keyakinan terhadap ajaran kedamaian yang dirisalahkan kepadanya melalui kasih Tuhan. Baginya, cambukan bertubi-tubi yang dihujamkan oleh para algojo istana kepadanya, hanyalah segelintir perih di dunia dan tak sebanding dengan kenikmatan yang dijanjikan Tuhan di akhir zaman. Karena baginya pula, dunia ini hanyalah seponggah derita dan menilai harta tidak sebagai suatu kekayaan. Kekayaan di dunia baginya justru adalah kedamaian dan kemerdekaan.

Oleh karena itu, diutuslah dia ke dunia oleh Tuhan melalui rahim sang perawan. Dengan tujuan membawa pesan damai dan menjunjung tinggi kasih Tuhan. Melalui rahim (ar-rahim, bahasa Arab yang berarti kasih/pengasih) seorang perawan yang terjaga kesuciannya, Tuhan meniupkan roh kudus untuk membuktikan kekuasaan. Sehingga kelahiran Isa putra Maryam tersebut menyiratkan pula pesan kekuasaan dan kesucian Tuhan.

Hingga menjelang proses penyalibannya tersebut, Tuhan pun masih menunjukkan kesucian dan kekuasaan. Dengan menunjukkan keteguhan hati seorang Isa putra Maryam dalam memandang suatu kebenaran. Rasa sakit yang dideritanya akibat cambukan tak menjadi sebuah hambatan. Melainkan menjadi suatu kenikmatan dan kebahagian. Kebahagiaan itu yang dirasanya, walau tidak demikian penilaian orang kebanyakan. Karena dia telah melampaui batas manusia biasa dalam aspek mencintai Tuhan.

Jangankan Isa putra Maryam, seorang istimewa yang tengah merasakan cinta terhadap Tuhan yang berlebihan. Manusia biasa saja dapat merasa mabuk kepayang ketika merasakan jatuh cinta dengan sesama insan. Bahkan dapat membawanya pula larut dalam suatu kebahagiaan yang berlebihan. Namun menurut orang lain yang tidak merasakan deikian akan menganggapnya sebagai suatu kegilaan. Hal tersebut yang terjadi dalam kasus Isa putra Maryam yang tengan mengalami kegilaan sehingga menafikan segala rasa sakit akibat cambukan maupun penyaliban.

Karena kegilaannya dalam mencintai Tuhan. Maka dengan kasih-Nya, Tuhan pun lantas mengangkatnya ke dalam surga keabadian. Disana dia akan menemukan kedamaian abadi yang semasa hidupnya diperjuangkan. Hal tersebut merupakan bentuk dari ganjaran dan penghargaan terhadapnya dalam hal pengabdian. Dan kelak kasih Tuhan pun selalu memberkati umat manusia yang beriman.

(sampafly028/05/04/2010)

Pertikaian antar geng; sebuah contoh perebutan kekuasaan baik dalam konteks premanisme jalanan maupun provesionalisme “negarawan”

Pertikaian antar geng yang mengakibatkan meninggalnya seseorang diantara mereka terjadi pada dini hari minggu kemarin di bilangan Jakarta Selatan. Pertikaian tersebut disinyalir buntut dari perebutan daerah kekuasaan. Dan seperti telah menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka akan penguasaan suatu lahan. Walaupun cara penguasaan harus dilalui dengan tindak kekerasan. Yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban. Tetapi tak menjadikan hal itu sebagai sebuah persoalan.

Melihat realita diatas, tampaknya keberadaan “geng” dalam masyarakat menjadi suatu kenyataan yang tak dapat terelakkan. Kerena dinilai telah menjadi suatu kebutuhan bagi segelintir kalangan. Baik itu kebutuhan akan pemenuhan hajat kehidupan. Maupun kebutuhan yang berdasar pada hasrat kekuasaan. Entah itu kekuasaan dalam konteks premanisme jalanan ataupun provesionalisme sang “negarawan”.

Menarik jika mencermati kenyataan yang demikian. Kerena keberadaan atau eksistensi suatu kelompok massa tak mungkin tanpa alasan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, mungkin karena alasan pemenuhan kebutuhan maupun hasrat kekuasaan. Namun itu bukanlah semata alasan untuk bertindak dengan kekerasan.

Walau tak dapat dipungkiri bahwa cara-cara kekerasan telah lumrah menjadi suatu kebiasaan dalam konteks premanisme jalanan. Namun menjadi hal yang tak biasa jika cara-cara kekerasan itu merambah dunia provesionalisme sang negarawan. Apalagi bagi mereka para wakil rakyat yang duduk di gedung dewan. Seperti kejadian waktu itu yang disiarkan langsung oleh media kepada rakyat kebanyakan.

Tingkah-tingkah seperti memang kurang pantas dilakukan oleh para anggota dewan. Namun tak kuasa untuk mereka hindarkan. Lantaran hasrat kekuasaan dalam diri mereka begitu kuat dan belum dapat ditekan. Sehingga berkecamuk dalam diri dan meluap dalam bentuk tindakan yang kurang sopan.

Cara-cara “kekerasan” yang mereka (anggota dewan) tunjukkan, serupa dengan cara penyelesaian ala preman jalanan. Seperti kejadian yang telah dijelaskan. Itu mengindikasikan adanya persamaan diantara preman dengan seorang “negarawan”. Persamaan itu adalah dalam memandang hasrat kekuasaan sebagai suatu kepintingan bahkan kebutuhan. Sehingga perlu adanya suatu tindakan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

Persamaan pandangan tersebut yang pada akhirnya memotivasi mereka (preman dan negarawan) untuk berkolaborasi dalam meraih kekuasaan. Jika bagi seorang preman kekuasaan itu cukup dalam bentuk penguasaan suatu daerah atau kawasan. Lain bagi seorang “negarawan” yang memandang kekuasan lebih dari sekedar kawasan. Yaitu memandang kekuasaan dalam konteks pemerintahan maupun kebijakan.

Dengan adanya “kolaborasi” diantara mereka, maka semakin besar kekuatan. Dan semakin banyak peluang untuk memperoleh dan mempertahankan suatu kekuasaan. Sehingga akan menumbuhkan benih-benih sikap otoriter maupun arogan. Dan ketika sikap itu telah mengusai mereka, berbagai tindakan apapun akan dilakukan. Hal demikian yang pada akhirnya melegitimasikan tindakan kekerasan.

Pandangan saling membutuhkan diantara mereka yang kemudian menjadi hal yang sulit dipisahkan. Sehingga untuk memisahkan atau menindak salah satu diantaranya menjadi suatu kesulitan. Terutama bagi para aparat keamanan. Karena untuk menindak seorang atau sekelompok preman (geng) akan membutuhkan suatu kekuatan. Tidak hanya dari segi jumlah pasukan, tetapi juga elektabilitas hubungan.

Melihat keadaan yang demikian, maka menjadi hal rumit bagi pihak keamanan. Apalagi jika mereka memiliki obsesi menjaga ketertiban dengan menindak tegas preman. Tentu akan menjadi suatu tantangan. Karena bukan hanya preman yang harus mereka tindak tegas, namun juga “oknum” yang bermain dibelakang seolah seperti bayangan. Apalagi jika oknum tersebut merupakan seorang “negarawan”, atau bahkan seorang dari mereka yang haus akan kekuasaan.

(sampahfly027/05/04/2010)

Keislaman dalam Keseharian (jilid 3)

Seperti sebuah analogi sederhana pada uraian sebelumnya, Islam bukanlah sebagai suatu nilai semata. Melainkan suatu nilai yang terimplementasikan pada tindakan yang nyata. Tindakan itu berbentuk prilaku hidup keseharian manusia. Tidak hanya dilakukan oleh para penganutnya, tetapi juga oleh mereka yang berada diluarnya. Prilaku keislaman, seperti diuraikan sebelumnya, bukan pula sebagai suatu nilai yang mengangkasa melainkan mendunia. Sehingga tanpa terkecuali dilakukan baik oleh kita maupun mereka.

Berikut berbagai contoh prilaku keislaman yang sederhana dalam hidup keseharian yang nyata

Ada seorang anak yang hendak pergi ke sekolahnya. Kemudian dia memohon restu dengan mencium tangan kedua orang tuanya. Permohonan itu pun dibalas oleh kedua orang tuanya dengan memberkati sebuah doa. Kemudian pergilah dia dari rumah dengan menaiki kendaraan umum menuju sekolahnya.

Selama perjalanan di dalam kendaraan, ternyata dia melihat seorang jompo yang tampak tak kuasa. Entah karena terlalu tuanya atau penyakit yang dideritanya, dia pun merasa tak tega. Apalagi ketika milihat jompo tersebut tak mendapatkan tempat duduk lantaran penumpang yang memadatinya. Dia pun kontan mempersilahkan sang jompo itu untuk menempati kursi yang dudukinya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, dia kembali melihat seorang pengemis tua bertubuh lesuh dengan pakaian kusam yang dikenakannya. Hatinya pun terketuk untuk memberikan pengemis itu sebagian uang sakunya. Setelah memberikan sebagian uang sakunya pada pengemis itu, dia pun melanjutkan perjalanannya. Setibanya di halaman sekolah, dia melihat ada benda kecil tajam yang merintangi jalannya. Lalu dia mengambil benda tersebut dan membuangnya ke tempat yang aman agar terhindar dari para siswa.

Begitu hendak memasuki kelas, dia tak lupa mengucapkan salam seraya merekahkan senyuman kepada temannya. Temannya pun membalas salam dan juga menyapa. Maka terjadilah senda-gurau dan timbullah kehangatan diantara mereka para siswa. Hal itu menggambarkan betapa indahnya keislaman yang ada dalam dunia mereka.***

Betapa indah pesan kedamaian yang terkandung dalam keislaman seorang hamba. Seperti contoh yang diperankan oleh seorang anak diatas baik kepada orang tua maupun sesamanya. Bagaimana sikap dia dalam rutinitas kesehariannya yang ternyata sarat akan makna. Makna akan sebuah kedamaian yang termanifestasikan dalam kehidupan nyata.

Jadi, Islam dan keislaman bukanlah suatu yang mengangkasa. Yang hanya memuat pesan-pesan kedamaian di surga. Sehingga tanpa disadari telah memiliki andil dalam meninabobokan para umatnya. Dengan penanaman paradigma yang menilai kehidupan dunia ini bersifat nisbi dan sementara. Sehingga menafikan sikap berusaha untuk menggapai kebahagiaan di dunia. Paradigma tersebut yang kemudian membawa umat Islam dalam tidur berkepanjangan tanpa berusaha untuk meraih kebahagiaan di dunia. Dan telah terlena oleh janji-janji surga yang mengobral kemolekan tubuh sang bidadari maupun makanan-minuman yang berlimpah ruah yang bias dinikmati sesukanya. Padahal sejatinya surga tersebut adalah Dia, sang pemilik alam semesta. Tak ada yang lain kecuali Dia.

(sampahfly026/04/04/2010)