Ujian Nasional Menjadi Perhatian Semua

 oleh: Ahmad Rafli Anhar

(Co-Founder saungelmu)

Ujian Nasional, selalu menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa. Bagaimana tidak, bayangan mereka tentang masa depan ditentukan hanya dalam beberapa hari saja. Ujian Nasional yang menjadi salah satu tolak ukur kelulusan siswa tentu menjadikan hal tersebut sangat berharga.

Keberhargaan dalam memandang Ujian Nasional tersebut yang akhirnya membangun paradigma paranoid dalam benak para siswa. Sehinga beragam cara diupayakan untuk berhasil menghadapi Ujian Nasional, baik itu dalam ataupun diluar koridor sebuah norma.

Seperti halnya banyak dari para siswa yang sebelum ujian terlaksana melakukan doa bersama. Kegiatan itu memang sungguh mulia dan jelas berada dalam koridor sebuah norma. Namun ada yang sebaliknya, mereka melakukan kecurangan misalnya dengan membeli kunci jawaban dari pihak-pihak yang juga tak bertanggung-jawab memanfaatkan keadaan yang ada.

Gambar

(Ujian Akhir Semester di saungelmu. Walau terbatas, semangat tetap diatas)

Tetapi terlepas dari beragam upaya siswa tersebut adalah mengapa sepertinya kondisi ini terus dibiarkan dan seakan telah membudaya? Dari tahun ke tahun yang diwariskan adalah bagaimana cara agar lulus dari baying-bayang hantu Ujian Nasional dengan aman tanpa terkendala.

Bercermin dari kondisi saat ini yang ada

JIka melihat keadaan saat ini yang ada, tapaknya paradigma seperti halnya diatas masih bersemayam dalam benak para siswa. Hal tersebut makin mudah terlihat melalui media massa dan sosial yang kian merajalela. Bagaimana saat ini kegalauan para siswa semakin mengemuka dan terpampang di beragam media yang ada. Baik itu melalui layar kaca, atau bahkan kicauan di sosial media.

Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya di tataran generasi muda, tampak sebuah fenomena. Para siswa terlihat mengalami kegamangan serta kelelahan baik itu secara fisik maupun mental setiap akan menghadapi Ujian Nasional yang hal itu berulang tiap tahunnya. Mereka seakan merasa dijadikan sebuah objek dari unit analisa berupa angka-angka yang tertera sebagai syarat kelulusan siswa. Tanpa menempatkan mereka sebagai subjek dari pemenuhan syarat kelulusan tersebut, tentunya dengan sebuah mekanisme yang disepakati bersama.

Merumuskan solusi bagi semua

Dengan memahami keadaan yang ada, maka perlu dipertimbangkan sebuah langkah nyata yang dapat diterima. Problematika yang selama ini berulang adalah seperti halnya diatas, siswa selalu merasa diposisikan sebagai objek sehingga merasa diri tertekan dan tidak dianggap seutuhnya. Padahal perjuangan selama ini bergumul dengan buku dalam rentang waktu kurang lebih tiga tahun lamanya, hanya ditentukan oleh beberapa hari saja dengan standarisasi yang kurang objektif bagi mereka.

Gambar

(Proses pembelajaran di saungelmu mengutamakan kedekatan personal bagai sebuah keluarga)

Dikarenakan hal tersebut dipandang tidak fair  yang kurang menilai dari segi proses pembelajaran selama tiga tahun yang ditempuh oleh mereka. Padahal aspek utama dari kerangka pendidikan adalah proses pembelajaran dan transformasi ilmu dari pendidik ke yang dididik melalui beragam metode dan cara. Sehingga mereka dapat menyerap ilmu yang mencerahkan dan bermanfaat bagi masa depan mereka.

Namun memang perlu dibutuhkan sebuah alat ukur atau evaluasi dari proses pembelajaran yang ada. Sehingga keberadaan Ujian Nasional menjadi hal yang penting dan tidak pula dapat dikesampingkan begitu saja. Untuk itu agar mudah keberadaannya diterima oleh semua, bagaimana jika Ujian Nasional diragamkan dalam beberapa tingkatan untuk mengukur beragam kemampuan para siswa, tentu dengan beragam aspek penilaian dan kriteria.(Fly)

Iklan