Intan

Intan…
Matamu bagiku memancarkan sebuah pesan.
Seperti yang selalu kau sampaikan.
Kala tubuh ini letih dalam sandaran.
Kau tetap mengajak menempuh pelajaran.

Gambar

Intan…
Tanyamu kerap merepotkan.
Membimbangkan hati tak karuan.
Letih raga ini menjadi menyebalkan.
Namun semangatmu menularkan kekuatan.

Intan…
Bantu aku berada dalam perjalanan.
Bersama dalam harapan mewujudkan impian.
Pancaran sinar binar mata itu menjadi pembuktian.
Bahwa tanyamu letihku bukanlah suatu halangan.
Biarlah kenyataan nanti Tuhan yang tentukan.

Fly, 27 Februari 2013

Pendidikan yang Mencerahkan(5):

Kurikulum yang Diharapkan Membawa Angin Perubahan Terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co-Founder and Managing Director of saungelmu)

Diskursus mengenai kurikulum 2013 masih terus berkelanjutan. Pro-kontra seputar hal tersebut seperti tak kunjung usai, bahkan selalu membuka baru sebuah lembaran. Seperti contoh kasus di tulisan sebelumnya yang telah dipaparkan. Sebuah dikotomis antara penentu dengan pemerhati kebijakan. Keduanya sama-sama mengangkat masalah kurikulum yang sama namun dengan berbeda pandangan.

Problematika akut kualitas pendidikan

Idealnya, diskursus kurikulum 2013 ini dipandang sebagai sebuah percobaan. Problematika yang selama ini melatari keberadaannya, memang tak terlepas dari gonta-gantinya kebijakan. Sehingga ditengarai secara tak langsung memberi dampak negatif terhadap rendahnya kualitas pendidikan.

Untuk menangani problematika akut yang terjadi pada dunia pendidikan, memang perlu dirumuskan sebuah terobosan. Mungkin saja dengan kurikulum 2013 ini terjadi sebuah perubahan ke arah yang lebih baik agar terjadi sebuah peningkatan. Sehingga kualitas pendidikan, yang diukur dari kualitas sumber daya manusia Indonesia, dapat bersaing di kancah dunia internasional di masa depan.

Kurikulum 2013 diharapkan memberi angin perubahan

Keunggulan, yang diklaim oleh para pemangku kebijakan, dari kurikulum 2013 ini adalah dikedepankannya tingkat kereativitasan.[1] Karena dengan hal tersebut diharapkan, tingkat satuan pendidikan menciptakan siswa atau sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain di masa depan.

Gambar(saungelmu, sebagai sebuah sekolah non-formal yang mengikuti kurikulum yang ada dengan masih tetap menjaga independensinya, telah menerapkan proses pembelajaran tematik-integratif walau belum sepenuhnya utuh selama kurun waktu setaun ini)

Pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan atau sumber daya manusia di Indonesia ini telah menjadi isu yang harus diutamakan. Terlebih jika berkaca dari apa yang pada saat ini telah dihasilkan oleh dunia pendidikan. Berdasarkan hasil kajian Programme for International Student Assessment (PISA),[2] ternyata kualitas siswa Indonesia masih berada dibawah negara-negara lain yang ditengarai disebabkan oleh lemahnya proses pembelajaran.

Oleh karena itu dibutuhkannya sebuah langkah “progresif” untuk mendekonstruksi proses pembelajaran yang selama ini telah dijalankan. Seperti menurut seorang Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media,[3] inti dari kurikulum 2013 adalah bersifat tematik-integratif dan adanya upaya penyederhanan. Penyederhanan yang dimaksud adalah dalam jumlah mata pelajaran yang diajarkan pada setiap tingkat satuan pendidikan.

Peran serta masyarakat dapat membantu peningkatan kualitas pendidikan

Memang isu mengenai peningkatan kualitas pendidikan menjadi prioritas utama untuk dijalankan. Pemberlakuan kurikulum 2013 yang telah menjadi sebuah diskursus, mau tidak mau mesti diimplementasikan. Namun terlepas dari pemberlakuan kurikulum tersebut, ada hal yang tak kalah utamanya untuk dilakukan yaitu peran serta masyarakat untuk bersama membantu meningkatkan kualitas pendidikan.

Peran serta tersebut dapat dilakukan oleh siapapun tanpa pengecualian. Sekalipun masyarakat tersebut bukanlah berlatar-belakang pendidikan. Namun jauh lebih penting dari itu adalah rasa kepedulian. Seperti misalkan dengan membuka tempat atau fasilitas belajar kepada orang lain yang belum tersentuh atau tak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan. Karena dengan cara tersebut diharapkan pula kualitas pendidikan di tanah air akan mengalami peningkatan. Dengan begitu kedepannya masyarakat Indonesia akan semakin tercerahkan.(fly)

Rasionalitas Berbudaya(4):

Perjalanan (Stigmatisasi) Pusaka dari Masa Lalu Hingga Era Baru

oleh; Erwin Saleh

(Chief Officer of saungelmu)

Berbicara mengenai keindonesiaan, maka tak akan terlepas dari sejarah raja-raja nusantara di masa lalu. Bagaimana sejarah mengenai kehidupan seseorang raja dan kerajaannya selalu menarik untuk diceritakan, baik melalui tulisan maupun lisan secara turun-temurun dari kakek hingga anak-cucu.

Cerita mengenai kehidupan seorang raja tersebut biasanya identik dengan aspek kesaktian, kedigdayaan maupun mistisisme yang direpresentatifkan oleh hal-hal dan makhluk ghaib seperti memedi ataupun hantu. Kesaktian ataupun kedigdayaan seorang raja biasanya disimbolisasikan pada sebuah pusaka yang dimiliki dan dipakainya, seperti senjata keris ataupun cincin batu. Yang sesungguhnya, jika berbicara pada zaman modern saat ini, simbol-simbol itu tampaknya telah dianggap sebagai hal yang lucu. Namun di mata sebagian masyarakat tradisional simbol-simbol tersebut masih dilestarikan bahkan dielu-elukan, sebagai bentuk rasa hormat terhadap roh leluhur dan orang-orang terdahulu.

IMG_2470(Batu cincin masih dianggap memiliki kemagisan tertentu)

Terlepas dari hal-hal yang telah dianggap lucu oleh masyarakat modern, toh simbol-simbol tadi seperti halnya pusaka raja-raja pada masa itu telah menunjukkan “kesaktiannya” walau mungkin secara semu. Seperti yang telah banyak dilegendakan dalam literatur sejarah-sejarah masa lalu yang mengisahkan bahwa raja-raja nusantara pernah mengalami masa kejayaannya dengan menaklukkan daerah-daerah baru. Dan kejayaan tersebut mungkin saja disebabkan oleh khasiat dari pusaka-pusaka itu.

Sekarang tibalah bagi kita yang hidup di zaman modern ini untuk menyikapi hal itu. Bahwasahnya secara tidak langsung kita merupakan bagian dari produk masa lalu. Yang mau tidak mau, hal lucu mengenai kedigdayaan, kesaktian, ataupun kemistikkan itu merupakan suatu keniscayaan yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah peradaban manusia hingga menciptakan era baru.(Editor: Fly)  

Pendidikan yang Mencerahkan(4):

 

Kurikulum yang Diharapkan Membawa Angin Perubahan

 

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co-Founder and Managing Director of saungelmu)

 

Diskursus mengenai pelaksanaan kurikulum 2013, hingga saat ini masih saja menjadi topik hangat berbagai pemberitaan. Polemik mengenai hal itu pun seakan tak ada henti-hentinya, seperti carut-marutnya persepakbolaan. Berbagai pro dan kontra mengenai kurikulum 2013 pun saling menyerang bagai sebuah pertempuran.

Dikotomis dalam diskursus itu pun akhirnya tak lagi dapat dipungkiri, pihak yang pro jelas direpresentatfkan oleh pemangku kebijakan. Sedangkan pihak yang berkeberatan atau berseberangan diwakili oleh pihak-pihak dalam tubuh masyarakat yang peduli akan pendidikan.

DSC06319

(suasana belajar di sekolah saungelmu yang mengikuti kurikulum yang berlaku dan telah dikondisikan)

Perang argumentasi mewarnai kebijakan pendidikan

Adu argumentasi diantara kedua belah pihak jelas tak terelakkan. Pemerintah dalam hal ini, selaku pemangku sekaligus pelaksana kebijakan kurikulum 2013 telah mengklaim berbagai keunggulan. Misalnya saja, pemerintah mengklaim kurikulum 2013 ini akan menciptakan siswa sekolah yang memiliki kekreativitasan. “Desainnya dibuat untuk menciptakan generasi penerus yang mampu menghadapi dunia yang makin rumit”, demikian yang dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.[1]

Pemerintah sah-sah saja mengklaim keunggulan dari kurikulum 2013 yang telah dirumuskan. Namun masyarakat pun tak salah pula jika ingin “menguji” keunggulan kurikulum 2013 tersebut yang nantinya juga akan ikut melaksanakan. Bahkan diantara masyarakat yang berseberangan pun berhak mengajukan keberatan dengan didasari oleh berbagai argumen sebagai bahan pertimbangan.

Seperti misalnya yang dikemukakan oleh salah seorang rektor universitas di Yogyakarta yang menilai bahwa kurikulum 2013 belum menyentuh sekolah-sekolah luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan. “Padahal yang justru harus diperhatikan juga adalah anak-anak berkebutuhan khusus”, demikian yang dikatakannya dihadapan forum anggota dewan.[2]

CIMG2624

(sekolah saungelmu dikelola secara swadaya atas dasar kepedulian terhadap pendidikan dan kemanusiaan)

Peningkatan kualitas pendidikan yang harus diutamakan

Namun terlepas dari diskursus diatas, peningkatan kualitas pendidikan bangsa ini memang mesti disegerakan. Dikarenakan kualitas pendidikan suatu bangsa akan menentukan nasib suatu bangsa ke depan. Terebih lagi dalam percaturan dunia internasional, baik itu dari segi geo-politik, ekonomi maupun kebudayaan.

Sebagai contoh dalam bidang ekonomi, Indonesia sebagai sebuah negara akan menghadapi perdagangan bebas pada 2015 mendatang untuk zona Asean. Untuk mempersiapkan hal itu maka sudah seyogyanya kualitas pendidikan, yang akan menentukan pula kualitas sumber daya manusia Indonesia, harus segera ditingkatkan. Oleh karena itu dengan cara melaksanakan kurikulum 2013 tersebut, diharapkan terjadi sebuah terobosan. Walau keberhasilan dari pelaksanaannya belum dapat dipastikan, namun setidaknya bangsa ini sudah mulai melakukan sebuah perubahan.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing sumber daya manusia Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya terutama di kawasan Asean, seorang pemerhati pendidikan pun memberikan masukan. Baginya, “Siswa harus mempunyai self confidence (kepercayaan diri), self awareness (kesadaran).” Karena kedua aspek tersebut akan menentukan keberhasilan siswa tersebut di masa depan. Apalagi bagi para siswa yang ingin menjadi seorang wirausaha,“Dua hal tersebut adalah modal untuk menjadi wirausaha” tambahnya untuk menegaskan.[3] Baginya pula kepercayaan diri seorang siswa tumbuh dari penguasaannya terhadap bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris sebagai bahasa internasional untuk menjalin suatu hubungan.

Peran masyarakat sangat menetukan

Mengingat pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, maka sudah semestinya ada suatu perubahan. Terlepas dari adanya pro-kontra seputar pelaksanaan kurikulum 2013, maka masyarakat sudah selayaknya mendukung program pemerintah tersebut sebagai sebuah usaha perbaikan. Jika ternyata nanti kedepannya terjadi kejanggalan, maka masyarakat pun dapat melakukan tindakan. tidak melulu menunggu dan mengikuti dengan pasif suatu kebijakan. Tetapi masyarakat itu sendiri pun dapat bergerak bersama melakukan perubahan secara aktif demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan tercerahkan. Hal tersebut tak lain dikarenakan adanya hikmah pencerahan dari apa yang dinamakan pendidikan.(fly)

Intan

Intan,..
Bagiku kau bagai sebuah berlian,
berkilau menarik pandangan,
di bawah kelam cahya gemerlapan.

Intan,..
Salammu penuh kehangatan,
ringan tanganmu kian mendebarkan,
walau peluh kuman dalam kepalan.

Gambar

Intan,..
Kau sadarkan ku dari kegampangan,
kau selalu bertanya tanpa kebimbangan,
bahwa ilmu itu mesti diajarkan.

Intan,..
gantung citamu hingga batas ketinggian,
jaga semangat yang selalu kau tunjukkan,
agar cemerlang di masa depan,
demi menebar kebahagiaan,
di wajah ibu yang penuh senyuman.

Fly, 21 Februari 2013

Rasionalitas Berbudaya(3):

Sesajen sebagai sebuah ide, aktifitas, dan hasil karya manusia berbudaya*

 

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co- Founder and Managing Director of saungelmu)

Berbicara mengenai pesta, maka takkan terlepas dari sesajen sebagai wujud dari budaya. Apalagi dalam konteks masyarakat tradisional Indonesia. Yang kental dengan unsur-unsur mistisisme dan adat-istiadat masyarakat desa. Maka tak heran jika setiap perhelatan pesta kerap sisertai oleh bumbu-bumbu sajen sebagai bentuk penghormatan terhadap ruh leluhur atau orang tua ataupun sebagai bentuk pencegah bala.

 

Sesajen sebagai wujud budaya

Gambar(sajen yang dipercayai oleh penduduk Utan Ringin Kab. Bekasi dan mayoritas dari anak-anak didik saungelmu, sebagai bentuk penghormatan terhadap roh leluhur dan pencegah hujan dalam suatu pesta)

 

Menurut Koentjaraningrat, ahli Antropologi, ada tiga jenis wujud budaya; ide atau gagasan, aktivitas, dan hasil karya manusia. Jika menelaah pada pemahaman tersebut, maka sesajen merupakan wujud dari budaya. Sesajen dapat berupa ide, aktivitas, dan hasil karya.

Sebagai sebuah ide, sesajen dapat dimaknai sebagai wujud dari rasa hormat keturunan terhadap para ruh leluhurnya. Kepercayaan terhadap ruh leluhur masih banyak dianut serta dijaga oleh masyarakat tradisional Indonesia. Mereka menganggap pula bahwa para ruh leluhurnya masih bersemayam disekitar lingkungan bahkan ikut serta dalam menjaga konstelasi alam dunia.

Sesajen sebagai suatu aktivitas budaya dapat dilakukan secara individu maupun bersama. Dilakukan secara individu, biasanya tergantung pada niat pribadi dan tujuan dari apa yang diinginkannya. Sedangkan yang dilakukan secara bersama biasanya diperuntukkan demi keselamatan desa, seperti dalam pesta rakyat ataupun dalam rangka berdoa untuk dilindungi dari bala.

Sebagai wujud dari hasil karya manusia, sesajen biasanya berupa bingkisan makanan dan minuman serta benda-benda. Bingkisan tersebut dipersembahkan kepada para ruh leluhur sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas pertolongannya. Dalam setiap pesta pun sering dijumpai rangkaian bingkisan sajen yang menghiasinya.

Gambar(Stevanus, seorang pemuda Flores NTT, sedang membakar sebatang rokok di depan nisan sebagai simbolisasi rasa cinta terhadap roh salah seorang keluarganya yang telah meninggal dunia.) 

 

Kearifan terhadap sesajen dalam konteks budaya

Terlepas dari benar dan salah, sesajen merupakan bentuk “kearifan lokal” masyarakat tradisional Indonesia. Keberadaannya tak dapat dihapuskan begitu saja. Walau banyak pemahaman yang melarang, bahkan tak jarang menganggapnya nista. Namun sebagai wujud dari budaya, maka sesajen seyogyanya dilestarikan agar tradisi itu tak sirna ditelan masa. Hanya saja pemahaman terhadap substansi dari sesajen tersebut yang idealnya diluruskan demi menjaga aqidah terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kearifan lokal masyarakat tradisonal Indonesia merupakan aset bersama. Karena tanpanya bangsa ini takkan mengenal jati dirinya. Apalagi dalam era globalisasi saat ini dimana westernisasi menjadi trend dan telah mengancam budaya bangsa. Untuk itu bersama mari menjaga kearifan budaya bangsa demi mengangkat harga diri bangsa agar terpandang di mata dunia. Bukan tak mungkin jika kelak di luar negeri sana, bangsa Indonesia menyelenggarakan suatu perhelatan pesta dengan rangkaian sesajen didalamnya.

 

*Tulisan ini merupakan kemasan ulang dari artikel; Sajen dalam Pesta (sampahfl051/11/06/12) yang diterbitkan pada Juni 2012.

Pendidikan yang Mencerahkan(3);

Menyegarkan Kembali Semangat Pahlawan Bangsa Pada Era Ini Demi Indonesia yang Sejahtera*

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co- Founder and Managing Director of saungelmu)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tahunnya. Peringatan tersebut merupakan suatu bentuk apresiasi kita akan pentingnya pendidikan terhadap kualitas sumber daya manusia. Karena dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas maka akan tercerminkan jati diri suatu bangsa. Oleh karena itu pengaruh pendidikan dinilai sebagai sesuatu hal yang luar biasa.

Latar belakang ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai Hardiknas oleh Negara

Hardiknas yang diperingati pertanggal 2 Mei, sesungguhnya tak terlepas dari sosok pahlawan nasional yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan Indonesia. Pahlawan nasional tersebut adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal dengan sapaan Ki Hajar Dewantara.

Tanggal 2 Mei, yang telah ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, merupakan tanggal kelahirannya. Tanggal itu dipilih lantaran mengingat jasanya yang besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itulah dalam rangka mengenang jasanya, maka tanggal kelahirannya ditetapkan sebagai Hardiknas pada masa orde lama.

Gambar(Gambar Bapak Pendidikan Nasional; Ki Hajar Dewantara)

Sosok seorang pahlawan nasional yang peduli terhadap pendidikan bangsanya

Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Kota Yogyakarta. Sepanjang masa hidupnya selain didedikasikan untuk dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantara juga aktif berjuang demi mewujudkan Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara berjuang dengan menyuarakan segala kegundahannya terhadap kolonial Belanda. Tidak hanya melalui perlawanan fisik semata, namun juga melalui pesan kritik berupa tulisan-tulisannya. Akibat dari tulisannya tersebut, Ki Hajar Dewantara harus merasakan hidup dalam pengasingan dari Pulau Bangka hingga tanah Belanda.

Semasa pengasingannya di tanah Belanda, Ki Hajar Dewantara aktif dalam organisasi Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia. Dimana para anggota organisasi tersebut adalah para pelajar Indonesia. Selain aktif dalam organisasi tersebut, Ki Hajar Dewantara juga meraih gelar pendidikan di Belanda. Yang kemudian dimanfaatnya sebagai “modal” dalam mendirikan sekolah di tanah air dengan nama Taman Siswa.

Dinamika pendidikan dari era Ki Hajar Dewantara hingga masa Indonesia merdeka

Berbeda dengan dahulu dimana spirit mengenyam pendidikan begitu tinggi terasa, maka saat ini tak demikian adanya. Jika dahulu Ki Hajar Dewantara begitu bersemangat dalam memajukan pendidikan bangsa, maka yang terjadi saat ini sungguh berbeda.

Pendidikan saat ini dianggap sebagai sesuatu barang yang mewah karena dianggap mahal harganya. Bahkan demi memperoleh pendidikan, seseorang harus mengorbankan sebagian harta benda.  Fenomena itu tak lain dikarenakan mahalnya biaya. Institusi pendidikan yang dahulu sejatinya didirikan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai media membantu sesama.  Namun yang terjadi saat ini sungguh berbeda.

Institusi pendidikan seakan berorientasi hanya pada keuntungan semata. Seperti layaknya sebuah perusahaan yang telah mengeluarkan sejumlah modal usaha. Yang pada akhir masanya, akan diambil kembali beserta dengan keuntungannya.

Gambar

(saungelmu; menyelenggarakan program kejar paket bagi siapapun yang kurang mampu dan pernah merasakan putus sekolah)

Potret pendidikan saat ini beserta problematikanya

Beralih fungsinya orientasi pendidikan saat ini terindikasi akibat terinfeksi hasrat komersialisasi para pengusaha. Jika demikian adanya, maka kian menyuramkan masa depan dunia pendidikan Indonesia.

Bayangkan saja, banyak dari anak usia sekolah di tanah air tak mampu melanjutkan studinya. Masalah yang mereka hadapi begitu klasik, yaitu akibat terbentur biaya. Bahkan ironisnya, banyak dari mereka yang putus sekolah merupakan siswa-siswa berprestasi di sekolahnya yang kelak akan mengharumkan nama bangsa.

Jika sudah demikian potret pendidikan kita dalam realita. Lantas mau dibawa kemana bangsa ini ke depannya? Karena alasan biaya, seorang anak usia sekolah tak dapat memperjuangkan cita-cita. Padahal jika kita mau bercermin pada cita-cita Bapak Pendidikan Indonesia. Sejak masa penjajahan Belanda, Ki Hajar Dewantara telah memiliki angan untuk kemajuan pendidikan bangsa Indonesia.

Tentu itu harusnya menjadi spirit bagi kita semua untuk merealisasikan cita-citanya. Bukan malah sebaliknya memupuskan angan-angannya. Jika dia mengetahui realita pendidikan tanah air saat ini, mungkin arwahnya tengah bersedih di alam baka sana.

Harusnya saat ini kita melanjutkan perjuangannya dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Karena; “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”

*Tulisan ini merupakan kemasan baru dari artikel; Merefleksikan spirit Ki Hajar Dewantara dan Hardiknas dalam realita (sampahfly035/08/05/2010) yang diterbitkan sebelumnya pada Mei 2010.

Rasionalitas Berbudaya(2)

oleh; Erwin Saleh

(Chief Officer of saungelmu)

(Ilustrasi) Kisah seorang kakek dan cucunya

Di pagi yang cerah, Dayat membantu sang kakek berkebun di belakang rumahnya. Di sela-sela waktu, Dayat melihat sang kakek sedang menanam jenis pohon buah diantaranya, rambutan, durian, ataupun mangga. Dayat pun lantas bertanya, “Kong (Engkong; panggilan untuk kakek dalam bahasa Betawi), ngapain nanem pohon kaya gitu?”, seraya menghampirinya. “Biar ini pu’un bisa ngasilin duit kalo udeh bebuah”, jawab singkat kakeknya.

Gambar(Dayat, peserta didik saungelmu, tengah “ngebolang” di kebun belakang gedung biru tak jauh dari tempatnya menimba ilmu)

Dayat pun terperangah dengan jawaban sang kakek karena sepengetahuannya jenis pohon tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah. “Pan nanem pu’un ntu butuh waktu nyang lama kong?”, tanya Dayat sambil menggaruk kepala. “Lah, kalo engkong masih dikasih umur nyang panjang”, lanjut Dayat dengan tak bermaksud menyumpahinya.

“Yat, sini dengerin! Engkong nanem ini pu’un emang buat anak ame cucu-cucu lu yat. Sebab dulu juga engkong gitu. Engkongnye engkong juga nanem ini pu’un buat makan anak cucu engkong. Jadi kalo bise, lu juga ngelakuin nyang same.” Demikian jawaban dan nasehat sang kakek kepada Dayat dengan bijaknya.

Nilai moral dan budaya yang terkandung didalamnya     

Kisah diatas walau sebatas rekayasa, namun sesungguhnya merupakan peristiwa yang kerap ditemui dalam dunia nyata. Mungkin dahulu orang tua atau sebagian dari kita pun mengalaminya. Saat dimana sang ayah atau kakek mengajak kita berkebun bersama. Untuk bercocok tanam, mengenal jenis tanaman, atau membantu meringankan pekerjaannya.

Di sela-sela itulah mungkin muncul petuah-petuah orang tua mengenai nilai-nilai yang selama ini dianutnya. Yang semua itu sebenarnya merupakan bagian dari tradisi dan budaya. Nilai-nilai kebaikan yang dari dulu mereka jaga dan pelihara. Hingga akhirnya mewariskan nilai tersebut kepada kita.

Gambar(Mamih Agil, begitu sapaan akrab bagi Founder Planet Satwa ini, sedang menunjukkan dan menjelaskan manfaat salah satu dari jenis tanaman sayur di kebun samping saungelmu)

Bercermin kembali kepada ilustrasi kisah diatas, nilai moral yang terkandung didalamnya sungguhlah jelas dan terbuka. Bagaimana kita sebagai seorang anak atau cucu telah diwariskan sekaligus diamanatkan untuk memelihara ekosistem yang ada. Salah satunya dengan melestarikan dan menanam pohon-pohon tersebut agar kelestarian dan sumber penghidupan kita terjaga.

Karena jelas, jika saja kita mau mengikuti amanat orang tua dan menjaganya, maka kemaslahatan akan tercipta. Kita pun dapat merasakan banyak manfaat dari pohon-pohon buah tersebut, seperti memperoleh penghasilan ketika masa panen tiba, dapat pula mengurangi pencemaran udara, bahkan dapat sebagai peredam timbulnya bencana.

Maka jelaslah hikmah dari ilustrasi kisah diatas yang dapat kita petik dan rasa. Untuk itu mari bersama menjaga amanat menanam beragam jenis pohon atau tanaman seperti yang telah dititipkan oleh orang tua kita agar kelestarian alam ini dapat terjaga. Karena manfaatnya tidak hanya kita yang rasa, tetapi juga anak-cucu kita nantinya. Pinjam slogan yang ramai digunakan, “Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang melakukannya??”. Editor; Fly

Tarsiahku(2)

Tarsiah, kau selalu mengharu,
dengan wajah lugu dan tingkah lucu,
kau tak pernah dirundung pilu,
walau daya hanya sebatas postur itu,
kau telah mengganti peran ibu.

Gambar

Tarsiah, angkat topiku untukmu,
kau selalu tersenyum tersipu,
walau tangis adik kecilmu,
menggema tak kenal waktu,
namun kau tak lelah dan ragu.

Tarsiah, ajari aku nikmati rasa itu,
rasa bahagia yang kau lihatkan dalam prilaku,
di tengah lemah fisik kecilmu,
di bawah terjangan wabah flu,
kau selalu berusaha maju,
mendobrak tabu demi asa yang kau patri selalu…

Fly, 12 Februari 2013

Pendidikan yang Mencerahkan(2);

Potret Ujian Nasional dalam Beragam Sudut Pandang*

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co-Founder and Managing Director of saungelmu)

Hari ini ujian kelulusan digelar secara nasional, baik di kota maupun di desa. Ujian yang diklaim sebagai parameter dari syarat kelulusan seorang siswa. Tampak sering kali menuai berbagai polemik pada tiap tahun penyelenggaraannya. Hal tersebut lantaran kelulusan lebih berdasar pada angka-angka yang tertera. Namun ukuran lain dalam menilai suatu kelulusan tak begitu dipertimbangkan, seperti penilaian budi pekerti para siswa.

Hal tersebut yang sering dikeluhkan oleh berbagai kalangan, terutama mereka para akademisi serta pemerhati pendidikan, seni maupun budaya. Apalagi pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan kearifan yang harus dijaga. Dan dalam kebudayaan itu sendiri mengandung nilai moral mengenai budi pekerti yang harus dimiliki para siswa. Sehingga diharapkan para siswa yang telah dinyatakan lulus tidak hanya memiliki kekayaan intelektual saja. Melainkan pula memiliki kekayaan moral yang akan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama dalam berbagai fenomena.

Gambar(Hanni, peserta didik saungemu, sedang berupaya mengerjakan soal Ujian Tengah Semester Matematika dalam kelas program Kejar Paket B)

Budi pekerti sebagai syarat kelulusan seorang siswa?

Integritas seorang siswa dapat dinilai dari sikap dan prilaku keseharian di sekolahnya. Hal tersebut yang kemudian sering diajukan oleh para pelaku pendidikan terutama guru dan siswa untuk dijadikan sebagai aspek penilaian terhadap syarat kelulusan mereka. Namun ketika penilaian budi pekerti itu telah menjadi salah satu ukuran dari kelulusan para siswa. Lantas bagaimana mekanisme penilaiannya? Dan apakah dapat dipertanggung-jawabkan validitasnya? Karena budi pekerti bersifat abstrak dan sulit untuk menempatkannya pada angka-angka yang tersedia.

Sebagai analogi; siswa A yang dalam keseharian di sekolah baik, tidak pernah berbuat onar, dan selalu patuh pada gurunya. Kemungkinan siswa A tersebut akan dinilai siswa teladan lantaran berbudi pekerti yang santun, sopan dan sebagainya. Lantas akan diberikan nilai tinggi dalam bentuk huruf ataupun angka. Kemudian bagi siswa B yang dikenal nakal serta pembangkang terhadap gurunya, justru akan dinilai sebaliknya.

Dari kedua contoh tersebut, “angka kelulusan” yang diberikan oleh seorang guru terhadap para siswa tak terlepas dari unsur subjektivitas di dalam penilaiannya. Sehingga mengindikasikan adanya kelemahan dalam validitas penilaian terhadap para siswa. Apalagi jika terjadi praktek “jual-beli perkara”. Misalkan; siswa C yang kerap kali berbuat melanggar peraturan sekolah bahkan bertindak diluar prilaku seorang siswa. Kemudian mendapat pengampunan dan kelulusan lantaran siswa C tersebut memberikan sebuah “hadiah” yang berharga.

Gambar(Muhammad Abdul Hasan, peserta didik saungelmu, masih menganggap Ujian Nasional untuk program Kejar Paket B sebagai momok yg mengerikan mengingat akan keterbatasannya.)

Ujian nasional yang menorehkan duka

Kemungkinan diatas bisa saja merupakan sebuah realita. Namun lebih dari itu adalah, kontroversi seputar kelulusan siswa yang kerap kali menorehkan luka. Terutama bagi para siswa yang kurang beruntung lantaran nilai kelulusannya dibawah rata-rata. Dan akhirnya menyisakan tangis kesedihan karena menilai kegagalan dalam dirinya. Lebih tragis lagi jika terjadi depresi oleh siswa karena tak mencapai kelulusan pada ujian negara.

Karena kelulusan menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Sehingga banyak dari mereka yang menghalalkan berbagai cara. Tak lain demi mencapai kelulusan dan tak memalukan nama keluarga. Dan membeli kunci jawaban dari soal-soal yang diujikan merupakan salah satunya.

Kenaikan standar kelulusan siswa secara otomatis mendongkrak nilai mereka

Polemik tersebut terus bergulir seakan mengawal ujian ketika terselenggara. Sampai hari ini pun setia menghiasi berbagai media. Banyak yang menilai bahwa ujian nasional yang tiap tahunnya mengalami kenaikan standar kelulusan, secara tidak langsung membebani siswa. Namun jika melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kenaikan standar kelulusan akan berdampak positif bagi nilai mereka. Karena secara otomatis akan mendongkrak nilai siswa tahun ini lebih tinggi dari sebelumnya. Itu yang kemudian mendistorsi nilai pada kelulusan seorang siswa lantaran hanya dilihat pada angka-angka semata.

Seperti yang telah diuraikan sebebelumnya, permasalahan ini akan selalu menuai sebuah dilema. Jika kelulusan hanya berdasar pada ujian nasional yang diselenggarakan tiap tahunnya dan mengedepankan angka semata. Maka akan menafikan proses belajar-mengajar harian para siswa, yang sesungguhnya mengandung unsur penilaian juga.

Namun jika kelulusan itu kembali diserahkan kepada pihak sekolah yang berada di seluruh nusantara. Hal tersebut juga akan menyisakan pertanyaan mengenai kualitas pendidikan Indonesia. Karena kita akui pula bahwa sumber daya pendidik maupun peserta didik dan juga fasilitas yang ada belumlah merata. Lantaran pembangunan dan kesejahteraan belum tercapai di mana-mana. Itu yang kemudian menjadikan sebuah kendala, yang harus kita selesaikan bersama.

Mungkin nanti pada saatnya, kita akan menemukan formulasi yang tepat dalam perumusan standar nasional untuk menyatakan lulus bagi para siswa Indonesia. Dengan mempertimbangkan berbagai potensi yang ada. Mempertimbangkan secara komprehensif agar siswa tak terbebani dengan nilai rata-rata. Dan juga yang lebih penting adalah agar para siswa dapat mengeksplorasi dirinya dan tidak berkutat pada persoalan kelulusan semata. Sehingga semua kalangan dapat merasakan kepuasan terhadap kualitas pendidikan yang ada.

*Tulisan ini hanyalah kemasan baru dari artikel; Ujian nasional yang diselenggarakan di seluruh nusantara kerap menuai berbagai perkara (sampahfly021/23/03/2010) yang dipublikasikan pada Maret 2010.