Rasionalitas Berbudaya(1)

oleh; Erwin Saleh

(Chief Officer of saungelmu)

“Win, inget ye jaga diri bae-bae. Jangan macem-macem di utan. Ga boleh ngambil batu, kembang sembarangan dari sono. Nanti kalo ngambil, ada penghuninye yang marah!!!”

Petikan kalimat langsung diatas coba mengilustrasikan nasehat orang tua tatkala sebelum mengizinkan anaknya berpergian atau berkemah di alam terbuka. Hal tersebut dahulu sering ditemui ataupun kita alami sendiri melalui orang tua. Bahkan hal tersebut seakan telah menjadi bagian dari budaya.

Anggapan sebatas mitos belaka

Nasehat seperti halnya diatas, mungkin saja oleh masyarakat modern hanyalah dipandang sebatas mitos belaka. Karena bicara saat ini, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, nasehat tersebut sudah dianggap kuno dan di pandang sebelah mata.

Masyarakat modern, mungkin menganggap hal tersebut lucu bahkan dapat saja dibuat tertawa. Karena mungkin menilai dunia yang kasat mata dan tak dapat diindera, seperti yang dimaksud istilah “penghuni” diatas, bukanlah sebagai sebuah realita. Mengapa? Karena sebagian besar masyarakat modern lebih berorientasi pada segala sesuatu hal yang besifat rasionalitas hingga materialitas semata.

Gambar

(Ket. poto: Kondisi pasca banjir yang menerjang sekolah saungelmu di Jakarta. Banjir merupakan dampak derivasi dari deforestasi yang terjadi di hulu sungai, baik gunung maupun hutan akibat penebangan secara membabi-buta.)

Dibalik pandangan sebelah mata

Namun terlepas dari anggapan mitos tadi, nasehat tersebut sesungguhnya memiliki nilai kearifan dan berimplikasi positif kepada kemaslahatan bersama. Bagaimana bisa? Karena dalam nasehat tersebut terimplisit pesan moral tentang pelestarian alam yang harus selalu dipelihara.

Apalagi jika menilik kondisi alam saat ini dimana kita masyarakat modern hidup didalamnya. Banyak terjadi kerusakan alam yang telah kita saksikan dan alami bersama. Seperti misalnya terjadi deforestasi akibat Illegal logging dengan cara penebangan pohon yang membabi-buta. Sehingga merusak ekosistem yang ada. Yang pada akhirnya dampak derivasi dari deforestasi tersebut menimpa kita dalam bentuk bencana.

Berbangga sebagai sebuah bangsa

Jadi apakah nasehat orang tua dahulu hanyalah sebagai isapan jempol belaka? Yang kita sebagai masyarakat modern menganggap hal tersebut irasional dan hanya sebuah mitos semata. Andai saja jika sejak lama kita menempatkan nasehat tersebut sebagai sebuah kearifan yang harus diamalkan dan dijaga. Mungkin keadaan alam nusantara ini akan selalu terpelihara dan dapat memberikan manfaat yang nyata. Bahkan kita dapat pula berbangga sebagai sebuah bangsa yang memiliki kearifan tinggi dalam berbudaya. (Editor; Fly)

Sebuah Lagu Diatara Tradisi dan Modernisasi

oleh; Erwin Saleh

(Chief Officer of saungelmu)

 

“Indung-indung kepala lindung,

ujan di udik disini mendung,

anak siapa pakai kerudung,

mata melirik kaki ke sandung…”

                “Duh, aduh Siti Aisyah,

                mandi di kali rambutnya basah,

                tiada sembahyang tiada puasa,

                di dalam kubur mendapat siksa..”

“La hawla wala kuata,

mata melihat seperti buta,

tiada daya tiada upaya,

melainkan Tuhan Yang Maha Esa.”

 

Ingatkah kawan dengan lagu ini? Lagu yang tampaknya jarang disenandungkan kembali. Apalagi di era sekarang ini dengan ragam modernisasi. Mungkin saat ini, lagu tersebut tinggallah sebuah imaji.

Lagu “Indung-indung” dahulu menjadi buah bibir sang ibunda sehari-hari. Bagaimana kasih sayang sang ibunda terhadap anaknya tergambarkan dalam melantunkan dengan syahdu lagu ini. Sambil beliau menina-bobokan sang buah hati. Berharap kelak sang buah hatinya menjadi orang yang memiliki tingkat intelegensi dan keimanan yg tinggi.

Gambar

(Kasih sayang ibu terbukti; seorang ibu akan selalu menjaga dan merawat, memomong, menggendong, hingga menina-bobokan anaknya selama ia belum dapat mandiri. Foto; penyuluhan kesehatan di saungelmu)

 

Pergeseran tradisi

Melantunkan lagu ini tampaknya dahulu bagai suatu tradisi. Dilakukan oleh ibu sehari-hari pada malam hari tatkala ingin menidurkan sang buah hati. Namun kini hal itu tidaklah terlihat lagi. Lantaran tradisi telah tergerus globalisasi.

Sang ibu, yang dahulu mayoritas berperan sebagai pengurus rumah tangga sehari-hari. Kini dengan semangat emansipasi, banyak yang ingin menunjukkan jati diri. Sehingga nilai-nilai tradisi tadi perlahan tapi pasti tak lagi diimplementasi.

Modernisasi ataukah Westernisasi?

Namun ada uniknya dalam diskursus ini, lagu “Indung-indung” yang menggambarkan tradisi, tampaknya telah kalah popular dengan lagu luar negeri. Lagu “Indung-indung” dianggap telah usang dan basi. Karena terbukti banyak dari ibu-ibu modern kini yang mendendangkan lagu-lagu klasik luar negeri kepada si buah hati ataupun cabang bayi.

Mereka lebih memilih mendendangkan lagu klasik dari luar negeri ketimbang melantunkan lagu tadi. Lantaran nilai-nilai modernisasi dianggap lebih tinggi. Apalagi dibungkus dalam kemasan edukasi.

Memiliki nilai kebaikan sendiri-sendiri

Padahal jika menilik dari dikotomi tadi, antara lagu “Indung-indung” dan lagu klasik luar negeri. Keduanya memiliki nilai kearifan lokal sendiri-sendiri. Lagu “Indung-indung” sarat dengan pesan dan nilai-nilai norma kebaikan yang berlaku di sini. Sedangkan lagu klasik luar negeri pun sama memiliki pesan kebaikan tersendiri.

Namun yang menjadi problematika adalah, apakah nilai budaya luar negeri lebih tinggi dibandingkan di sini sehingga haruslah mengadopsi? Ataukah karena alasan modernisasi, sehingga lagu “Indung-indung” tadi sudah tak lagi trendi?? Padahal jika dikemas dalam bungkus edukasi, lagu “Indung-indung” sangatlah memiliki nilai tinggi. Apalagi jika menilik hal itu dari cabang ilmu psikologi.

Namun pertanyaannya apakah kita mau untuk kembali menumbuh-kembangkan nilai-nilai tradisi. Yang sesungguhnya pesan itu telah diwariskan secara turun-temurun bahkan dari sang ibu melalui lagu “Indung-indung” tadi. Yang dahulu sering terdengar langsung lantunan syahdu lirihnya suara beliau di halaman depan daun telinga kita sendiri.(editor; Fly)

Pendidikan yang Mencerahkan (1)

oleh; Ahmad Rafli Anhar

(Co-Founder and Managing Director of saungelmu)

Pendidikan, selalu menarik untuk diperbincangkan. Apalagi jika bercermin pada potret dunia pendidikan di tanah air saat ini dalam kenyataan. Pendidikan yang seyogyanya menjadi embun penyejuk di pagi hari dengan memberikan kesegaran. Laksana oasis di padang pasir nan gersang yang menghapus kehausan. Namun pada realitanya pendidikan malah bagai kepalsuan yang menghantui dalam segala keadaan.

(sudahkah) Pendidikan yang berkeadilan?

Pendidikan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam konstitusi dasar haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemakmuran. Bagai sinar mentari yang menerangi kegelapan dalam segala keadaan dan hangat cahayanya pun memberikan pencerahan. Namun ternyata hal itu tidaklah dijumpai dalam kenyataan. Buktinya sebagian besar rakyat negeri ini masih berada dalam bayang-bayang kelamnya kebodohan.

Gambar

(sebagian dari mereka ternyata masih ada yang belum memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan)

Hal tersebut, bukanlah semata karena tak adanya semangat pada diri sebagian besar mereka untuk mengikuti berbagai jenjang pendidikan. Namun lebih karena takutnya mereka pada momok pendidikan yang saat ini terkesan eksklusif dan arogan. Sehingga api semangat mereka padam sebelum perang di medan pertempuran yang bernama pendidikan.

Permasalahan tersebut hanyalah sebagian contoh dari beragam masalah pendidikan yang muncul ke permukaan. Bagaimana citra pendidikan yang eksklusif, mewah, ataupun arogan terbentuk sedemikian rupa dalam benak sebagian besar rakyat atau berbagai kalangan. Yang pada akhirnya menciptakan kesenjangan dalam dunia pendidikan karena adanya suatu bentuk pelapisan.

Apakah ini yang dinamakan pendidikan yang berkeadilan? Jika ternyata memang kerap dijumpai adanya pelapisan bahkan kesenjangan dalam dunia pendidikan di lapangan. Bagi sebagian besar rakyat, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan untuk memperbaiki tingkat kehidupan. Namun nyatanya tak mudah untuk didapatkan, bahkan perlu lebih besar pengorbanan. Sedang bagi sebagian kecil lainnya pendidikan adalah harga diri dan merupakan bagian dari apa yang dinamakan kehormatan. Walau dibutuhkan pula pengorbanan namun tak kan pernah menyulitkan.

 

Peran dan tanggung jawab semua lapisan

Gambar

(peran aktif masyarakat, pemuda, dan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menciptakan tempat belajar yang mudah diakses oleh siapapun tanpa pembedaan)

Problematika yang melekat dalam dunia pendidikan seperti diatas sesungguhnya bukanlah menjadi tanggung jawab pemerintah semata sebagai pemangku kebijakan. Walau nyatanya amanat konstitusi dasar negara dengan jelas menerangkan mengenai tanggung jawab serta kewenangan yang pemerintah emban. Namun peran serta seluruh masyarakat sebagai warga negara sangatlah dibutuhkan. Mengingat pendidikan, terlepas dari dikotomi diatas, merupakan kebutuhan dasar bagi seluruh rakyat yang tak terbantahkan.

Jika kesadaran akan tanggung jawab ini tumbuh dan berkembang, baik di sisi pemerintah maupun warga masyarakat, tentu muncul harapan akan terciptanya pendidikan yang berkeadilan. Salah satu solusinya yaitu dengan menciptakan akses pendidikan yang mudah bagi siapapun dengan mereduksi kesan mewah yang telah menelurkan pelapisan. Seperti membangun tempat belajar baik secara swadaya ataupun bekerja sama dengan pemangku kebijakan. Hal tersebut dapat dilakukan oleh siapapun juga selama kesadaran akan pentingnya pendidikan selalu bersemayam dalam jiwa, bagai hayat di kandung badan.(fly)