Kisah Seorang Pemuda yang Tergerak untuk Bertindak Melawan Kebodohan.

Dari sebuah keprihatinan dan rasa penasaran yang melebihi batas kewajaran, seorang pemuda bernama Erwin Saleh tergerak hatinya untuk melakukan perubahan. Melalui pengalamannya bergumul dengan para pengepul barang bekas yang hidup di sebuah lapak sebelah kebun keluarganya, Erwin pun mulai melakukan gerakan.

Siang yang takkan terlupakan

Pada suatu siang, kala Erwin sedang beristirahat, meregangkan otot-ototnya, merebahkan tubuhnya selepas membantu ayahnya menggarap kebun, di sebuah saung di bawah pepohonan. Tiba-tiba datanglah seorang kawannya yang berprofesi sebagai pengepul barang bekas ke saung yang tak berpenghalang sehigga terbuka dalam pandangan. Dengan penampilannya yang meyeramkan, terkesan liar dan urakan, dengan membawa gendongan dan ganco dalam genggaman, kawannya itu langsung membuka pembicaraan.

Gambar

(Erwin Saleh, lebih akrab dipanggil Bang Sating didunia nyata dan Mahesa Hitam didunia maya adalah kepala sekolah saungelmu, tengah bekerja membangun saung keilmuan)

 

“Ting, tau ga arti kalimat itu???”, tanya kawannya itu kepada Erwin, yang biasa dipanggil dengan Sating, seraya menunjuk kearah tiang pojok saung di depan hadapan. Kaget dan bingung, itu yang dirasakan oleh Erwin ketika mendengar tiba-tiba suara mengelegar dan sosok hitam kawannya yang baru datang menghampirinya tanpa ada kalimat pembukaan.

Masih bingung dengan apa yang dimaksudkan kawannya itu, Erwin pun mempertegas penglihatannya ke arah yang ditujukan. Dengan seksama, Erwin memperhatikan pojok tiang saung yang dimaksudkan. Ternyata di pojok itu terdapat secarik sobekan kertas yang terselip di sela-sela tiang kayu saung sebagai penopang bangunan.

Tersontak, terkejut, gemetar, dan merinding terasa di tubuh seorang Erwin ketika dia mendapatkan secarik sobekan kertas tersebut yang ternyata didalamnya terdapat tulisan berbahasa Arab berlafazkan qur’an. Bingung harus merespon apa yang akan dilakukannya kepada kawannya itu yang sedaritadi tengah menunggu sebuah jawaban.

Erwin pun lantas bersuara dengan mencoba menenangkan diri terlebih dahulu, “Ini (secarik sobekan kertas), lu dapet darimana??”, seraya memegang secarik kertas tersebut di tangan. Kawannya pun langsung menjawab, “Gua dapet waktu lagi nyari di jalan”. Kemudian kawannya itu pun melanjutkan pertanyaannya, “Mau ga lu ajarin gua supaya bisa baca itu???”, sambil menunjuk ke arak sobekan kertas yang Erwin pegang di tangan kanan.

Gambar(Bang Riman, seorang pengepul barang bekas, yang tengah besantai-ria di selasar Mushola As-Syifa dimana dahulunya hanyalah sebuah bangunan saung tempat menimba ilmu agama)

 

Tonggak sebuah perubahan

Belum hilang rasa terkejutnya karena menemukan secarik sobekan kertas berlafazkan qur’an, Erwin pun kembali tersontak dengan sebuah permintaan. Sebuah harapan dari seorang kawannya pengepul barang bekas yang urakan, yang terkesan liar dengan citra buruk yang disandangnya selama ini dalam beragam pandangan. Namun ternyata dibalik citra hina dina yang melekat pada kawannya tersebut, dia masih memiliki niat untuk menimba ilmu keagamaan.

Akhirnya dengan niat belajar bersama, memperdalam ilmu agama, Erwin bersedia mengajarkan kawannya untuk dapat membaca Al-qur’an. Mereka pun memulailah pengajian di saung tiap harinya selepas melakukan aktivitas harian. Kawan pengepul Erwin itu bernama Bang Riman, yang telah membelalakan mata sebagian orang bahwa urakan tak selamanya hina seperti apa yang selama ini melekat dalam penilaian yang tereduksi hanya dari penampilan.

Bersambung.

(berdasarkan pengalaman hidup seorang Erwin Saleh belasan tahun silam yang masih terkenang dalam ingatan)

tulisan oleh:

Fly, 16 November 2012    

Iklan