Jalani Kembali Meski Dengan Apa Yang Telah Terjadi

Tragedi kemarin menyisakan luka di hati. Harta materi habis dilalap api. Tak tersisa sama sekali. Hanyalah busana yang dikenakan jasmani pada saat tragedi terjadi. Hari ini, tuntutan hidup harus kembali dipenuhi.

Gambar

(Kondisi lapak pasca kebakaran, Sabtu 15 September 2012, Pukul 14.15 WIB)

Tragedi yang memilukan hati

Memang tragedi itu tak mungkin dilupai. Namun tak semestinya hal itu dijadikan hambatan untuk terus bereksisitensi. Mencari dan terus mencari, mengais rezeki di jalan panjang yang tak bertepi. Walau peluh harus di tanggung tiap langkah kaki.

Saat ini, sudah beberapa hari berganti. Dan mengais rezeki sudah menjadi kewajiban untuk memenuhi hidup ini. Walaupun godaan bantuan itu datang mengimingi, baik dari organisasi maupun instansi. Namun tidaklah menjadi sebuah alibi untuk tidak berjuang sendiri.

Gambar

(Dua orang anak kecil bertubuh dekil yang tengah berjuang kembali memperjuangkan nasib pasca tragedi)

Hikmah atas tragedi

Tragedi kebakaran kemarin yang menghabiskan seisi lapak di malam hari. Ternyata tidak hanya menyisakan perih hati, namun ternyata justru mengilhami. Bahwa dalam tragedi itu terdapat hikmah yang dapat diresapi. Bagaimana mensyukuri terhadap rezeki yang dimiliki, bukan hanya sebatas pada materi. Melainkan pula yang tersirat dalam suatu esensi. Yaitu keselamatan diri merupakan hal yang paling berharga saat ini sebagai modal untuk melanjutkan hidup kembali. Yang semua itu tak terlepas berkat perlindungan Illahi.  

Fly, 18 September 2012

Lapak Saudara Kami Dilahap Api

Malam tadi, ketika kami sedang bersenda-gurau di pelataran saung sambil meminum secangkir kopi dan segenggam roti, kami dikejutkan dengan kelamnya langit malam oleh asap yang membumbung tinggi. Kami bertanya dalam hati, “Ada apa gerangan yang terjadi?”.

Selang beberapa menit berganti, kami dihentakkan kembali. Kali ini seorang ibu yang berperasa sendu tengah menggendong bayi, berlari menghampiri. Berteriak dia, “Tolong!! Tolong!! Lapak kami habis terbakar api!”.Sontak kami berlari kearah ibu tadi. Dengan panik kami bergegas pergi. Tanpa disadari ibu tadi, kami hiraukan bukan tak menghargai.

Gambar

(Tampak siluet seorang pria yang tengah mengamankan “hartanya” dari kobaran api yang membara di Lapak Pemulung, Jati Padang, Jakarta Selatan)

Kenikmatan aroma secangkir kopi dengan roti dalam genggaman jari, kami seakan tak peduli. Kami berlari-lari seperti mengejar mimpi. Tak ada rasa gentar menghadapi apa yang akan ditemui. Justru kami mendatangi tempat peristiwa terjadi dengan gagah berani. Walaupun kami tak tahu apa yang akan kami beri sebagai bentuk kontribusi memadamkan api.

Api itu melalap seluruh bagian lapak beserta isi

Benar, api telah membesar dan melahap lapak berikut isi. Asap pun talah membumbung tinggi seakan tak mau tertandingi. Saudara-saudari kami berada dalam kesedihan dengan perasaan yang tak terkendali. Berteriak histeris, menangis meringis, berlari kesana-kemari, menjadi pandangan yang memilukan hati.

Api dengan leluasanya melahap apapun yang ada di lapak tanpa terkecuali. Saudara-saudari kami hanya dapat meratapi apa yang tengah terjadi. Seraya bersabar dan menyerahkan segala yang terjadi kepada Illahi. Walau kucuran keringat dan desiran air mata membasahi pipi hingga menetesi bumi.

Gambar

(Siluet seorang anak kecil yang tengah bersandar meratapi kejadian pada gerobak nasibnya di Lapak Pemulung, Jati Padang, Poncol)

“Ikhlaskanlah kepada Tuhan Yang Maha Esa…”, seorang lelaki tua menasehati. Memeluk mereka yang tengah bersedih dengan kehangatan dan rasa empati layaknya saudara sehati. Jika diantara saudara atau keluarga yang sedang bersedih, maka saudara lainnya ikut merasakan hal yang serupa karena adanya ikatan emosi.

Jadikan pelajaran diri

Peristiwa malam tadi, menjadikan pelajaran bagi kami. Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, merupakan suratan Illahi yang tak mungkin dihindari. Namun kami yakin bahwa segala peristiwa yang terjadi, baik yang memilukan atau mungkin membahagiakan hati, ada hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan intisari. Selama kami mau berintrospeksi diri dan merenungi dengan kejernihan hati.

*Fly-Berdasarkan kejadian nyata yang terjadi, Kamis 13 September 2012 pukul 20.10 WIB.