Sajen dalam Pesta

Berbicara mengenai pesta, maka takkan terlepas dari sesajen sebagai wujud dari budaya. Apalagi dalam konteks masyarakat tradisional Indonesia. Yang kental dengan unsur-unsur mistisisme dan adat-istiadat masyarakat desa. Maka tak heran jika setiap perhelatan pesta kerap sisertai oleh bumbu-bumbu sajen sebagai bentuk penghormatan terhadap ruh leluhur atau orang tua ataupun sebagai bentuk pencegah bala.

Sesajen sebagai wujud budaya

Gambar

(sajen yang dipercayai oleh penduduk Utan Ringin, Kab. Bekasi, sebagai bentuk penghormatan terhadap roh leluhur dan pencegah hujan dalam suatu pesta)

 

Menurut Koentjaraningrat, ahli Antropologi, ada tiga jenis wujud budaya; ide atau gagasan, aktivitas, dan hasil karya manusia. Jika menelaah pada pemahaman tersebut, maka sesajen merupakan wujud dari budaya. Sesajen dapat berupa ide, aktivitas, dan hasil karya.

Sebagai sebuah ide, sesajen dapat dimaknai sebagai wujud dari rasa hormat keturunan terhadap para ruh leluhurnya. Kepercayaan terhadap ruh leluhur masih banyak dianut serta dijaga oleh masyarakat tradisional Indonesia. Mereka menganggap pula bahwa para ruh leluhurnya masih bersemayam disekitar lingkungan bahkan ikut serta dalam menjaga konstelasi alam dunia.

Sesajen sebagai suatu aktivitas budaya dapat dilakukan secara individu maupun bersama. Dilakukan secara individu, biasanya tergantung pada niat pribadi dan tujuan dari apa yang diinginkannya. Sedangkan yang dilakukan secara bersama biasanya diperuntukkan demi keselamatan desa, seperti dalam pesta rakyat ataupun dalam rangka berdoa untuk dilindungi dari bala.

Sebagai wujud dari hasil karya manusia, sesajen biasanya berupa bingkisan makanan dan minuman serta benda-benda. Bingkisan tersebut dipersembahkan kepada para ruh leluhur sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas pertolongannya. Dalam setiap pesta pun sering dijumpai rangkaian bingkisan sajen yang menghiasinya.

Gambar

(Stevanus, seorang pemuda Flores NTT, sedang membakar sebatang rokok di depan nisan sebagai simbolisasi rasa cinta terhadap roh salah seorang keluarganya yang telah meninggal dunia.) 

Kearifan terhadap sesajen dalam konteks budaya

Terlepas dari benar dan salah, sesajen merupakan bentuk “kearifan lokal” masyarakat tradisional Indonesia. Keberadaannya tak dapat dihapuskan begitu saja. Walau banyak pemahaman yang melarang, bahkan tak jarang menganggapnya nista. Namun sebagai wujud dari budaya, maka sesajen seyogyanya dilestarikan agar tradisi itu tak sirna ditelan masa. Hanya saja pemahaman terhadap substansi dari sesajen tersebut yang idealnya diluruskan demi menjaga aqidah terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kearifan lokal masyarakat tradisonal Indonesia merupakan aset bersama. Karena tanpanya bangsa ini takkan mengenal jati dirinya. Apalagi dalam era globalisasi saat ini dimana westernisasi menjadi trend dan telah mengancam budaya bangsa. Untuk itu bersama mari menjaga kearifan budaya bangsa demi mengangkat harga diri bangsa agar terpandang di mata dunia. Bukan tak mungkin jika kelak di luar negeri sana, bangsa Indonesia menyelenggarakan suatu perhelatan pesta dengan rangkaian sesajen didalamnya.

(sampahfl051/11/06/12)

Iklan

Menguapnya “Keramahan” Warga Ibukota

Sore itu di sebuah stasiun kereta.

Beribu manusia pulang kerja.

Berpeluh keringat terkuras tenaga.

Berharap ke rumah dengan segera.

 

Gambar 

 

 

Naas, kereta besi tak jua tiba.

Resah, gelisah, bercampur amarah, terlontar kata.

Mengintip sang waktu berlalu dengan cepatnya.

Sedang sang muazin bersiap mengumandangkan seruannya.

 

Beribu pasang mata menatap asa.

Masih berharap kereta segera tiba.

Mendengar himbauan Toa bicara.

“kereta telah berangkat dari stasiun sebelumnya.”

 

Secerca asa kembali merasuk jiwa.

Hati yang gundah seakan sirna.

Berharap cemas menanti kereta.

Mengharap seonggok raga terbawa.

 

Gambar 

 

Syukurlah, kereta yang dinanti tiba jua.

Namun tak seperti yang di duga.

Ternyata kereta membawa lebih ribuan manusia.

Hingga tak terlihat lagi wujud aslinya.

 

Ribuan manusia lain, menanti menyiapkan tenaga.

Untuk mengadu fisik dengan saudaranya.

Tak peduli tua-muda, balita-dewasa, kuat-renta pun dihajarnya.

Berdesakan satu dengan lainnya,

bersikutan dengan disampingnya,

hingga mendorong sekuat tenaga dengan didepannya.

Demi satu tujuan, dapat tiba ke rumah dengan segera.

 

Gambar 

 

Apa ini yang dinamakan dengan masyarakat modern ibukota?

Yang katanya lebih maju daripada masyarakat desa.

Atau ini akibat virus metropolitan yang mendera.

Membawa wabah individualistik kepada mereka.

Sehingga menghilangkan rasa peduli terhadap sesama.

 

Lantas dimana “keramahan” yang katanya menjadi karakter bangsa?

“keramahan” yang dahulu selalu di puja.

Apa karena virus metropolitan tersebut merusak semua?

Atau kejamnya ibukota menelurkan trauma?

Sehingga menjadikan manusia lupa akan jati dirinya.

Dan “keramahan” itu sirna entah kemana.

Menguap ke udara dan hanya menyisakan romansa.

(Fly, 26 Agustus 2010)

Kedewasaan yang Dipaksakan; sebuah potret dari selatan wilayah Jakarta

Dewasa, menjadi sebuah pergulatan dalam jiwa. Bagaimana tidak, jika arti kedewasaan sesungguhnya mengalami keabsurdan makna. Karena “menjadi dewasa” tidak ditentukan oleh faktor usia saja. Kedewasaan tidak ditentukan dengan tua atau uzurnya usia. Terbukti dengan maraknya sikap dewasa yang justru ditunjukkan oleh para pemuda yang usianya masih sangat belia.

Sebuah potret kedewasaan yang berangkat dari gelapnya sisi gemerlap kota   

Ketika sinar fajar mulai memancar indah, gelapnya sisa malam masih tersisa dan dinginnya embun pagi masih terasa. Perlahan, para pemuda yang masih belia itu berangkat menapaki jalan nasibnya. Mereka tanpa ragu melangkah dengan “tas dan perlengkapan” dinasnya mendobrak kantuk yang masih mendera. Demi mengais rejeki yang akan dikepulnya dan kemudian dijual dengan satuan berat dalam harga.

Mereka menerima profesi itu ternyata dengan rela. Walau dalam pandangan banyak mata, profesi mereka menggugah rasa iba dengan balutan kain kumuh yang menutupi tubuh mereka. Namun banyak pula mata lainnya justru memandang miring profesi mereka lantaran “aktifitas dinas” mereka yang kerap meresahkan warga.

Gambar

Sikap dewasa demi orang tua

Pandangan miring yang kerap melekat pada profesi yang dijalani, tak menggentarkan niat mereka untuk tetap “mengarungi rezeki” demi membantu orang tua. Mereka sadar dengan apa yang dijalani sebagai bentuk berbakti kepada keduanya. Sehingga dengan kerelaan dan tanpa paksaan mereka jalankan dengan menunjukkan sikap dewasa.

Idealnya, sikap dewasa yang mereka tunjukan itu tidaklah tepat waktunya. Mengingat usia mereka yang masih sangat belia. Namun apa mau di kata, toh mereka dengan sadar melakoninya. Mungkin itu pula yang melatari kerelaan kedua orang tua mereka untuk melepas anaknya menggeluti kejam dunia di antara belantara gedung-gedung tinggi kota Jakarta.

Gambar 

Salah siapa?

Seperti itulah salah satu contoh potret gelapnya sisi gemerlap kota. Bahwa kekumuhan merupakan realitas nyata dan tak mungkin pula dapat dipungkiri keberadaannya. Lantas harus mengadu kepada siapa? Apakah ada yang harus disalahkan dengan keniscayaan yang ada?

Yang pasti adalah kekumuhan itu sebuah realitas ataupun keniscayaan yang idealnya disikapi arif dan bijaksana dengan cara seksama. Bagaimana orang di luar wilayah kumuh dapat membantu mengangkat derajat mereka kearah yang tak lagi dianggap tercela. Dengan kepedulian bersama yang dapat mereka terima, dengan catatan tidaklah memberi kesan manja. Karena dengan demikian maka akan membangkitkan kembali gelora semangat mereka untuk tetap memiliki asa yang seakan telah sirna ditelan derita realita yang menerpa.

(sampahfly050/05/06/2012)

lihat juga:

https://sampahfly.wordpress.com/2012/05/23/kedewasaan-yang-dipaksakan-jilid-2-2/

http://sampahfly.blogspot.com/2010/03/kedewasaan-yang-dipaksakan.html

Indahnya Makna Pancasila(new edition)

Gambar

Pancasila, sebagai sebuah ideologi negera memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan berbangsa. Hal ini tak terlepas dengan kaitannya sebagai payung pemersatu dalam bingkai keragaman di Nusantara. Mengingat latar belakang bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dengan hamparan wilayah yang terbentang mulai dari timur Papua hingga ujung barat Sumatera.

Keanekaragaman suku bangsa yang ada mengindikasikan akan kekayaan budaya. Maka tak heran jika bangsa Indonesia kerap disebut dengan Jamrud Khatulistiwa. “Label” tersebut seyogyanya dinilai sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Namun kini yang terjadi justru sebaliknya. Bangsa ini seakan tengah mengalami keraguan terhadap jati diri bangsa.

Dimana jati diri bangsa?

Indikasi itu terlihat dengan semakin tingginya sikap emosional anak bangsa. Berbagai kabar mengenai kerusuhan di berbagai daerah yang kerap terjadi kontan membengkakkan telinga. Seakan-akan bangsa ini tengah mengalami kelabilan emosional, layaknya seorang anak manusia yang menuju dewasa.

Kerusuhan yang kerap terjadi biasanya hanya karena masalah sederhana. Yang harusnya dapat dicegah dengan cara seksama. Jika saja setiap anak bangsa memahami makna dan nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.

Selain sebagai pemersatu dalam kerangka negara kesatuan, Pancasila juga merupakan asas hukum dan pedoman hidup bagi warga negara. Jika hal tersebut sudah dicermati sebagai sebuah patron dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, maka potensi-potensi yang dapat melahirkan kerusuhan atau konflik dapat diantisipasi bersama.

Indahnya nilai yang terkandung dalam Pancasila

Pentingnya memahami nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah agar setiap anak bangsa dapat menghargai perbedaan dalam bernegara. Hal itu penting lantaran setiap perbedaan memiliki konsekuensi didalamnya. Konsekuensi itu dapat berupa sebuah gesekan akibat kepentingan yang berbeda. Jika gesekan tersebut tak dapat diredam, maka akan berpotensi menyebabkan pecahnya konflik atau kerusuhan antar massa.

Gambar

(kerjabakti; salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila)

Untuk itu dibutuhkan tindakan preventif berupa pengamalan nilai-nilai Pancasila. Seperti nilai dalam; “Kemanusiaan yang adil dan beradab” pada sila kedua. Jika direnungi makna didalamnya, maka setiap anak bangsa dalam keseharian akan berusaha memiliki sikap tenggang rasa. Yaitu menjunjung tinggi keanekaragaman yang dijumpai dalam kesehariannya. Tidak mengedepankan kepentingan pribadi, namun akan bertindak lebih arif dengan menghargai dan mengutamakan keutuhan bersama.

Jika nilai itu telah direnungi, apalagi dimanifestasikan dalam keseharian bertetangga. Maka akan tercipta suatu keharmonisan dan kerukunan antar warga. Satu dengan lainnya saling memahami dan menghargai perbedaan, terlebih menjadikan kepentingan bersama dalam posisi yang utama. Dengan begitu keadilan dapat dirasakan sebagai suatu keindahan dan keadaban menjadi kearifan bersama.

(sampahfly040/01/06/2010)