saungelmu;

Walau hidup dalam bilik bangunan di balik bayang-bayang kemegahan namun tak menjadikan penghalang untuk menuntut ilmu pengetahuan demi mengangkat derajat kehidupan.

Kemanusian, hal itulah yang menjadikan sebuah landasan. Ketika di hadapan mata terlihat suatu fenomena keadaan. Bukan lagi sebuah fatamorgana yang tak dapat di genggam oleh tangan. Namun ini realita nyata di balik bayang-bayang kemewahan kota metropolitan. Di kala kesejahteraan menjadi sebuah ukuran. Dengan bangunan kediaman menjadi sebuah variabel yang menentukan.

Gambar

Mereka saudara kita, atas nama kemanusiaan. Mereka hidup dalam bilik bangunan di balik bayang-bayang kemegahan yang berada di depan pandangan. Namun bayang kemegahan itu tak mengecilkan hati dan menyurutkan gelora semangat mereka untuk menuntut ilmu pengetahuan. Walau hadangan kelelahan kerap dirasakan sekujur badan setelah sepanjang siang mengais rezeki di jalan. Mereka tak gentar untuk mendobrak sekat bayang kemewahan itu demi satu tujuan, yaitu mengangkat derajat kehidupan.

Kita mungkin lebih merasa nyaman di banding mereka dari segi kehidupan. Dapat menikmati kenyamanan di dalam bangunan tanpa harus merasakan dingin ketika malam dan hujan. Tak perlu juga merasakan panas ketika terik cahaya sang surya langsung menerjang tanpa penyaring gumpalan awan. Lantas apakah kita hidup tenang ketika mereka berada berdampingan dengan dinding kokoh serta atap tebal rumah idaman?

Gambar

Mari kawan, kita ikut merasakan. Karena kita adalah insan ciptaan Tuhan yang dikaruniai hati dan perasaan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan. Dengan bekal hati yang merasakan, maka akan terbuka jalan untuk melakukan tindakan. Kembali atas nama kemanusiaan, mari kita bertindak membantu mereka untuk mengangkat derajat kehidupan dengan ilmu pengetahuan.(fly/030312)

Lihat juga;

http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/06/saungelmu/

Kedewasaan yang Dipaksakan (Jilid 2)

“Kedewasaan yang dipaksakan” terhadap anak tidak hanya diindikasikan oleh faktor musik saja. Melainkan pula ada faktor lainnya yang cenderung berdampak pada hal yang lebih berbahaya. Seperti halnya mempekerjakan seorang anak di jalan raya. Hal tersebut seyogyanya tidak berdiri sendiri tanpa motif atau alasan dibelakangnya. Motif memenuhi kebutuhan hidup, kemiskinan, dan lain sebagainya. Namun ketika hal itu telah mengerucut pada satu penyebutan istilah, seperti halnya eksploitasi, maka akan menimbulkan citra negatif dalam berbagai paradigma.

Motif memenuhi kebutuhan hidup menjadi salah satu hal yang utama

Gambar

“Eksploitasi anak” seperti dijelaskan sebelumnya, tidaklah berdiri sendiri tanpa faktor lain yang melatarinya. Seperti mengikutsertakan anak yang dilakukan oleh orang tua. Tidaklah dilakukan demi “merauk untung” semata dari hasil mempekerjakan anaknya di jalan raya. Namun mungkin lebih dikarenakan faktor ekonomi keluarga. Sehingga dengan “berat hati” memrelakan sang anak untuk bekerja.

Tidak hanya menimpa mereka para rakyat miskin kota. Tetapi justru merambah pada masyarakat desa. Seperti di sebagian masyarakat desa yang senantiasa “memperdagangkan” anak gadisnya, yang terhitung masih dibawah umur dan harusnya dalam pengawasan orang tua. Tetapi kembali dengan dalih faktor ekonomi, para orang tua menjadikannya sebagai seorang “wanita dewasa” yang bernilai ekonomis untuk dijajakkan kepada para pria.

Kemiskinan yang membutakan mata
Gambar

Kedua contoh kasus tersebut bukanlah sebatas buah bibir saja, tetapi telah menjadi sebuah realita yang nyata. Bagaimana kemiskinan menjadi alasan untuk menghalalkan berbagai cara. Ini menjadi sebuah keironian di dunia, karena kemiskinan ternyata telah membutakan mata. Dan kemiskinan secara ekonomi juga telah memiskinkan hati dan moral sebagian dari kita.

Sebenarnya jika kita mau melihat dan merasakan lebih dalam dari apa yang terjadi pada suatu fenomena. Kita mungkin akan menafikan cara diatas walau pada kenyataannya kemiskinan membelenggu dan menerpa. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa masa pertumbuhan serta perkembangan seorang anak merupakan tanggung jawab orang tua.

Anaklah yang akhirnya merasakan nestapa

Apa yang kelak dicitakan orang tua terhadap anaknya berangkat dari sana. Karena masa pertumbuhan dan perkembangan seorang anak merupakan masa-masa yang sangat berharga. Pada masa tersebut seorang anak mulai mengenal dunia. Mulai berproses dalam mengembangkan pribadinya. Dan mulai membuka cakrawala berpikir yang kelak akan menjadikannya seorang dewasa.

Namun yang terjadi adalah kebalikannya. Seorang anak seakan dihadapkan pada kerasnya hidup dan kejamnya dunia. Mereka harus berjuang mempertahankan hidup, baik baginya maupun keluarga. Sehingga masa anak yang harusnya mereka nikmati dengan keriangan seakan tak berpihak justru malah menjauh dan menghilang darinya.

Hal tersebut menyedihkan dan juga menorehkan sebuah duka. Bagaimana kemiskinan memupuskan harapan hidup mereka. Bagaimana kemiskinan juga telah menenggelamkan mereka pada nestapa. Mereka para anak dipaksakan untuk menjadi seorang dewasa. Yang harusnya tak mereka hadapi dengan minimnya usia. Namun harus mereka terima sebagai sebuah hadiah dan warisan orang tua.

Permasalahan ini menjadi tanggung-jawab kita semua

Kita semua idealnya harus menumbuhkan kepekaan terhadap sesama dan pada realita yang ada. Karena bagaimanapun juga, seperti kasus diatas, mereka merupakan para anak Indonesia yang harusnya dijaga dan dipelihara bersama. Agar kelak mereka dapat menjalani hidup seperti biasa layaknya para anak pada umumnya. Dan mungkin akan menjadi penerus bangsa yang membawa Indonesia pada kehidupan adil sejahtera.

(sampahfly020/22/03/2010)

lihat juga:

http://sampahfly.blogspot.com/2010/03/kedewasaan-yang-dipaksakan.html

Pemuda Sebagai Agen Perubahan (new edition):


Potensi pemuda Kampung Baru untuk berperan aktif mengubah kondisi lingkungan hidup sekitar kearah yang lebih baik melalui gerakan penghijauan.

(oleh; Ahmad Rafli A.)

 

Dalam perjalanan hidup manusia terdapat beberapa fase kehidupan. Fase tersebut dimulai sejak ia dilahirkan. Mulai dari masa kanak-kanak, muda, hingga tua, dimana akan ditinggalkannya kembali kehidupan. Pada masa kanak, mungkin hanya segelintir pengetahuan yang didapatkan. Namun ketika beranjak remaja atau menuju dewasa, bertambah pula pengetahuan berkat adanya proses pembelajaran. Dan di masa tua, tinggallah pengetahuan tersebut diwariskan.

Namun apakah dengan menunggu datangnya tua pengetahuan itu baru diwariskan? Bukankah manusia tidak pernah tahu akan datangnya kematian? Untuk itu di kala hayat di kandung badan, terlebih jika usia masih muda dengan semangat membara, ada baiknya pengetahuan itu diamalkan.

 

Pemuda; Agen Perubahan

Nah, disinilah pentingnya peran pemuda dalam mengamalkan pengetahuan. Karena dalam jiwa pemuda memiliki potensi yang dapat diharapkan. Pemuda memiliki semangat yang sulit dipadamkan. Terlebih jika semangat bercampur dengan pengetahuan dan diimplementasikan melalui tindakan. Maka akan terciptalah suatu perubahan.

Pemuda sebagai agen perubahan (agent of change). Hal tersebut merupakan suatu keniscayaan. Bahkan dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia, telah tertorehkan beragam peran pemuda dalam hal perubahan. Tak terkecuali dalam sejarah bangsa Indonesia, para pemuda menorehkan hal yang demikian. Berdirinya organisasi pemuda di masa penjajahan, tercetusnya Sumpah Pemuda 1928, hingga peran pemuda dalam membantu memproklamirkan kemerdekaan. Bahkan  salah seorang founding father bangsa menaruh apresiasi pada sosok pemuda; “Berikan aku 10 pemuda maka akan aku ubah dunia”, demikian yang ia katakan.

 

Kondisi Lingkungan Hidup; Deforestasi mengancam kelestarian hutan 

Gambar

Berbicara mengenai lingkungan hidup, maka takkan terlepas dari bumi beserta isinya, seperti halnya manusia, hewan maupun tumbuhan. Namun tidak terbatas pula pada makhluk hidup, karena dalam lingkungan hidup terdapat segala macam “benda” lainnya, seperti air, tanah, ataupun sumber energi, yang kesemuanya merupakan satu kesatuan.

Jika menilik kondisi lingkungan hidup saat ini seperti halnya hutan. Maka akan banyak problematika yang ditemukan. Permasalahan deforestasi (penggundulan) hutan, seperti penebangan liar (illegal logging) memiliki dampak sangat mengerikan. Dapat mengakibatkan erupsi lahan, terancamnya berbagai aneka satwa didalamnya, hingga mengakibatkan global warming atau pemanasan. Bahkan jika tidak dihentikan, tidak menutup kemungkinan dapat menghilangkan hutan di masa depan dan menyisakan kenangan. Menurut Menteri Kehutanan, pada tahun 2009, luas kawasan hutan Indonesia mencapai 138 juta hektare.[i]  Dengan laju deforestasi hutan pada periode 2005-2009 mencapai 5,4 juta hektare, yang secara finansial juga menyebabkan timbulnya kerugian.[ii]

 

Jakarta; Potret buram lingkungan hidup perkotaan

Tak berbeda jauh dengan kondisi hutan Indonesia, dalam lingkup yang lebih kecil, kondisi lingkungan hidup di perkotaan juga terlihat mengalami penurunan. Contoh saja yang terjadi di Jakarta sebagai kota metropolitan. Dengan kian tingginya laju pertumbuhan, baik dari segi kependudukan maupun bangunan, mengakibatkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan. Akibatnya setiap musim hujan datang, banjirpun tak dapat terelakkan. Untuk itu disinilah pentingnya peran ruang terbuka hijau (RTH) dalam meminimalisir terjadinya banjir dan sebagai penyaring udara dari ancaman polutan.

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, beginilah nasib ibukota sekarang dan mungkin masa depan. Laju pembangunan telah mengikis kepedulian akan pentingnya kelestarian. Dahulu Jakarta asri dengan rimbunnya pepohonan di taman maupun di sisi jalan, kini seakan telah tergerus zaman. Bahkan amanat konstitusi tampaknya tidak lagi dihiraukan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, luas ruang terbuka hijau (RTH) idealnya sebesar 30% dari luas wilayah provinsi keseluruhan.[iii] Tetapi realitanya luas RTH DKI Jakarta pada tahun 2007 ditaksir tinggal 6.2% dan jauh dari harapan.[iv]

 

Berkurangnya peran ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan

Gambar

Dengan minimnya luas tersebut, maka semakin sedikit pula volume air tanah di Jakarta, dikarenakan menurunnya peran RTH sebagai daerah resapan. Akibatnya Jakarta akan mengalami krisis air tanah yang berkepanjangan. Dan yang memprihatinkan adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan. Volume air tanah yang dikonsumsi mencapai 251,8 juta meter kubik pertahun dan hal itu diatas batas penggunaan.[v]

Dampak eksploitasi air tanah yang berlebihan dan berkepanjangan mengakibatkan adanya ruang hampa dibawah permukaan. Akibatnya terjadilah penurunan permukaan tanah secara perlahan. Sehingga tak dapat dihindari lagi akan terjadinya banjir rob, terutama di daerah utara Jakarta yang berbatasan langsung dengan lautan. Mungkin tak ayal pula jika mimpi buruk akan tenggelamnya Jakarta di masa depan menjadi kenyataan.

 

Pemuda yang Berwawasan Lingkungan

Gambar

Sebagai seorang pemuda yang memiliki semangat belajar dan rasa ingin tahu yang besar, idealnya ia memiliki kepekaan. Yakni kepekaan terhadap kelestarian lingkungan. Sehingga timbul kepedulian untuk menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan seputar lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi potensi yang dimiliki pemuda untuk mengimplementasikannya ke dalam suatu tindakan ataupun gerakan.

Gerakan tersebut bertujuan untuk melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik terkait dengan kondisi lingkungan hidup saat ini yang tengah berada pada titik nadir yang memprihatinkan. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari diri dan lingkungan. Yang diharapkan kelak gerakan perubahan tersebut dapat berkelanjutan. Sehingga dapat menyelamatkan kondisi lingkungan saat ini dan menatap masa depan penuh harapan.

 

Pemuda Kampung Baru mencanangkan gerakan penghijauan

Gambar

Gerakan perubahan yang dimulai dari diri dan lingkungan, membangkitkan semangat khususnya pemuda wilayah Kampung Baru untuk melakukan suatu tindakan. Yaitu tindakan untuk ikut berperan aktif melestarikan lingkungan. Terlebih jika mengingat kondisi lingkungan wilayah DKI Jakarta secara keseluruhan yang telah mengalami penurunan.

Dengan kurangnya lahan hijau di wilayah DKI Jakarta, maka dengan niat melestarikan lingkungan, Pemuda Kampung Baru mencanangkan gerakan penghijauan. Yakni dengan penanaman seribu pohon di wilayah Kampung Baru dengan menggunakan media pot, mengingat semakin minimnya luas lahan.

Gerakan penghijauan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi polusi udara akibat tingginya tingkat emisi kendaraan. Serta dapat menciptakan lingkungan hidup yang asri dan nyaman. Sehingga mengurangi kepenatan dan warga merasakan betapa sejuknya udara sekitar walau berada di tengah perkotaan.


[i] http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/80291/89/14/Luas-Hutan-di-Indonesia-138-Juta-Hektare

[ii] Berdasarkan data riset Indonesia Corruption Watch (ICW) kerugian mencapai Rp 71,28 triliun. Lebih lengkapnya unduh di halaman: http://www.walhi.or.id/id/ruang-media/walhi-di-media/berita-hutan/377-kehutanan–deforestasi-rugikan-negara-rp-71-triliun

[iii] http://www.tempointeraktif.com/hg/tata_kota/2010/06/21/brk,20100621-257195,id.html

[iv] http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/27/12531425/Jakarta.Kurang.Ruang.Terbuka.Hijau-5

[v] http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/27/12531425/Jakarta.Kurang.Ruang.Terbuka.Hijau-5

 

Stigma dalam Balutan Busana

(refleksi terhadap berbagai tindak kekerasan berlatar agama)
 

Tragedi pengeboman yang kerap terjadi, selalu menyisakan beribu duka dan berjuta kecewa. Tidak hanya menyelimuti mereka para korban yang menderita. Namun juga bagi segenap warga negara. Karena tragedi tersebut terjadi layaknya suatu bencana yang menimpa tanah air Indonesia. Dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Bahkan bagi mereka yang tak berdosa. Sehingga menggoreskan sebuah luka. Yang takkan pernah terlupa. Yaitu sebuah luka berupa trauma.

Gambar

Ketraumaan kerap menyelimuti mereka para korban bencana. Dalam hal ini bagi mereka para korban peledakkan bom, yang kian sering terjadi pasca runtuhnya Orba. Dan berbarengan pula dengan berulirnya millennium ketiga. Semenjak itu teror bom kerap menimpa. Menyusul kian berhembus kencangnya angin propaganda. Yaitu propaganda berupa sentimen suku, agama, ras dan antar golongan yang dikenal dengan SARA.

Propaganda pemicu konflik bermuatan SARA

Sikap sentimen berbau SARA memang semakin kental dirasa. Khususnya semenjak era reformasi dan jatuhnya rezim Orba. Padahal jika menoleh ke awal tujuan dari reformasi, bukanlah untuk menumbuhkan sikap bangga. Apalagi menanamkan kebanggaan terhadap suku, agama, ras dan antar golongan dalam suatu komunitas massa. Tetapi lebuh memfokuskan pada suatu agenda. Yaitu dengan mengubah sistem yang telah ada. Yang ditengarai telah membawa derita dan membuat sengsara. Dan menggantinya dengan sistem baru yang diklaim dapat mengarah pada tingkat sejahtera.

Namun, untung tak dapat diraih, yang terjadi saat ini adalah kian tumbuh suburnya sikap sentimen berbau SARA. Sikap tersebut pun kerap kita temui di mana-mana. Karena bukan lagi sebatas isu belaka atau sesuatu yang mengada-ada. Namun telah menjadi realita dalam kehidupan berbangsa. Seperi yang telah terjadi di berbagai belahan nusantara. Berbagai konflik meletus dan mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa.

Berbagai konflik yang telah terjadi, tidak hanya disebabkan akibat permasalahan yang sederhana. Seperti akibat sikap kedaerahan yang berlebihan dalam suatu kelompok massa. Namun lebih kompleks lagi, karena telah merambah ke bidang agama. Hal tersebut yang kita jumpai saat ini, seperti dalam kejadian peledakkan bom khususnya. Karena para pelaku peledakan bom tersebut selalu bertindak “berdasarkan” perintah agama.

Alat legitimasi kekerasan mengatasnamakan agama

Permasalahan ini menjadi semakin rumit dan sulit untuk dipecahkan bersama. Karena jika telah menyinggung wilayah agama, maka penyelesaiannya pun menjadi sebuah dilema. Di satu sisi perbuatan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, dianggap sebagai perbuatan yang melanggar hukum dan hak asasi manusia. Namun di sisi lain, para pelakunya masih bersihkeras bahwa mereka bertindak berdasarkan perintah agama.

Legitimasi kekerasaan yang mengatasnamakan agama menjadi sebuah permasalahan yang menggurita. Karena tingkat sensitivitasnya begitu terasa. Jika sistem kepercayaan telah dijadikan alasan dalam melakukan tindakan diluar batas kemanusiaan, seperti teror bom misalnya. Sesungguhnya hal tersebut telah menggadaikan kesakralan dari suatu agama. Dan dapat menumbuhkan stereotip negatif terhadap suatu agama. Bahkan akan menumbuhkan sikap sentimen terhadap agama tertentu dan memicu meledaknya konflik antar pemeluk agama.

Stereotip negatif terhadap suatu agama

Pandangan negatif terhadap suatu agama, tidaklah muncul dengan sendirinya. Melainkan suatu rangkaian akibat tindakan yang memicu permusuhan diantara berbagai agama. Salah satu tindakanny, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Yaitu peledakkan bom dengan dalih perintah agama. Apalagi jika para pelakunya membawa symbol-simbol agama. Serta menjadikan lembaga atau penganut agama lain diluar mereka sebagai target dari peledakkan bom yang halal darahnya.

Akibat dari prilaku pemeluk agama seperti diatas, maka citra negatif pun diterima. Khususnya kepada suatu agama yang dianut oleh mereka. Terlebih mereka (para pelaku/pemeluk agama) dalam aksinya membawa-bawa symbol agama. Tidak hanya dalam aspek ideologi sebagai landasan tindakannya. Tetapi juga dalam ranah materi, dimana mereka merealisasikan simbol agama ke dalam unsur busana.

Busana menunjukkan identitas suatu agama

Gambar

Busana merupakan salah satu bagian dari kebutuhan primer manusia. Selain kegunaannya untuk menutupi kemaluan atau aurat kita. Busana juga bermanfaat pula melindungi diri iklim maupun cuaca. Sehingga kebutuhan akan busana atau sandang menjadi suatu hal yang utama.

Tidak hanya sebagai penutup aurat semata. Busana ternyata telah menjadi suatu identitas diri manusia. Terlebih dalam suatu kelompok massa. Yang dengan demikian dapat membedakan antara ciri kelompok satu dengan lainnya. Apalagi jika mengingat beranekaragamnya ras manusia maupun budaya. Semakin menambah pula keragaman dalam segi pemakaian busana.

Khususnnya dalam konteks agama. Ternyata busana telah menjadi suatu identitas bersama. Yaitu dalam suatu komunitas massa penganut agama yang sama. Tidak hanya dalam ideologi yang sama, tetapi juga mereka menyeragamkan dalam aspek berbusana. Sehingga busana yang mereka kenakan menjadi bagian dari simbol agama. Dan menumbuhkan pencitraan terhadap mereka dengan busananya dalam benak penganut agama lainnya.

Relevansi tragedi peledakkan bom dengan busana suatu pemeluk agama

Tragedi atau teror berupa peledakkan bom seakan menjadi momok bagi kita semua. Terutama bagi mereka para korban yang dirundung duka hingga trauma. Ketraumaan itu berbekas hingga saat ini dan tak mudah hilang begitu saja. Apalagi jika telah tertanam dendam dalam diri mereka. Maka menjadi semakin sulit hilang apalagi hingga terlupa.

Ditambah jika mengingat para pelaku peledakkan bom yang telah membawa sengsara. Tidak hanya ketraumaan, tetapi juga dendam pun akan terus menyelimuti mereka. Sehingga menumbuhkan stigma negatif terhadap suatu agama. Yang di”dakwa” mengajarkan ajaran kekerasan seperti teror dan lainnya.

Tidak hanya stigma negative terhadap ajaran agama saja. Namun juga kepada para penganutnya sebagai pelaku dan aktor utama. Imbasnya mereka, khususnya para korban, selalu diliputi ketraumaan tiap kali berjumpa dengan suatu pemeluka agama. Yang diduga mereka sebagai teman dari pelaku teror, lantaran busananya.

Sintesa dari ketraumaan hingga berbuah stigma

Disinilah titik temu dari permasalahan yang ada. Berawal dari ketraumaan yang diderita, kemudian menanamkan sebuah stigma. Yaitu pandangan terhadap suatu kelompok massa yang berlatar ideology yang sama. Yang diidentikan dalam cara berbusana. Sehingga mengerucut pada stereotip negatif dalam citra. Dan menimbulkan ketakutan dan sikap paranoid di benak para warga. Padahal busana tidaklah sepenuhnya mencerminkan karakter seseorang ataupun kelompok massa. Bahkan dapat menipu mereka yang telah berpandangan negatif dalam praduga.

Walau busana telah menjadi suatu identitas, namun kita harusnya dapat memilah dan membedakan sesuatu prasangka. Karena penampilan kadang tak seperti adanya. Seperti orang bijak mengatakan; Jangan melihat buku dari sampulnya. Agar kita tak terjerembab pada ketakutan dan keparanoidan semata. Sehingga kita tidak menutup diri dan dapat saling terbuka. Dan kecurigaan pun tak selalu membayangi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(sampahfly31/21/04/2010)

link:

http://sampahfly.blogspot.com/2010/04/stigma-dalam-balutan-busana.html

Gaza (new edition)

Gambar

Gaza..

Kau bukanlah yang pertama.

Bukan pula yang utama.

Namun mengapa menarik perhatian dunia?

 

Jika berbicara tragedi manusia, telah dan tengah berlangsung lama.

Bukan saja di sana, di bumi Palestina.

Namun di hampir seluruh belahan bumi lainnya.

 

Contoh saja pembantaian bayi lelaki di tanah air Cleopatra, sebelum lahirnya sang juru selamat Musa.

Belum lagi peristiwa genocida, di tanah Jerman pada masa perang dunia kedua.

Di tambah lagi yang terjadi di nusantara, pembantaian terhadap simpatisan Partai Komunis Indonesia, di masa rezim yang berkuasa tahun enam lima.

 

Jika diamati semua, peristiwa demi peristiwa tersebut akibat ulah penguasa, yang ingin mempertahankan status quo dengan menghalalkan berbagai cara.

Seperti halnya Lenin yang berkata; “Tragedi kemanusiaan hanyalah soal statistika.”

 

Jika masalah Palestina berkaitan dengan sentimen ras bangsa.

Apa dapat di percaya begitu saja?

Karena penduduk di sana berasal dari keturunan yang sama.

Yaitu keturunan Bapak semua bangsa, Abraham dalam bahasa Ibrani, atau Ibrahim dalam lafaz kita.

 

Bahkan jika meruntut dari sejarah bermula.

Tanah itu telah diwariskan pada keturunannya.

Namun akibat tak kuasanya mereka menjaga, tanah itu pun berpindah dari tangan ke tangan yang menjajahnya.

Dari penguasaan Babilonia hingga Persia.

Dan akhirnya sebagian dari mereka berdiaspora, ke penjuru dunia hingga ke Eropa.

 

Ini mengawali babakan baru dalam sejarah mereka.

Namun apakah tanah yang telah ditinggal pergi oleh mereka, dapat diminta paksa kembali atas dasar hibah Balfour dari Britania?

Mengingat sejak ditinggal pergi oleh mereka, tanah itu telah didiami oleh suatu bangsa.

Bangsa Palestina yang berasal dari sebuah pulau di utara.

Dan sebagian dari mereka yang tak berdiaspora melakukan difusi budaya.

Maka tak relevan atas dasar ras bangsa, mereka menjajah sesama saudara.

Gambar

Jika tragedi Gaza terkait dengan konflik agama.

Apakah agama mengajarkan permusuhan terhadap yang beda?

Tentu tidak demikian pemahaman keagamaan yang idealnya.

Karena pada dasarnya agama mengajarkan nilai-nilai moral dan etika.

Bahkan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

 

Apalagi yang kerap dibicarakan Agama Samawi yang tiga.

Yahudi, Kristen, dan Islam yang menganut Tuhan yang sama.

Tentu ketiganya mempunyai dasar ajaran yang seiya sekata.

 

Namun mengapa dalam tataran furu’ terjadi saling takfir diantaranya.

Bahkan di kalangan ortodoksi dalam ketiganya, darah umat yang berbeda, halal adanya.

 

Apakah pertumpahan darah yang diingini Tuhan dari ketiga hamba?

Bukankah dengan ini Tuhan mengajak berkontemplasi kepada kita?

Agar pemahaman keagamaan menjadi kaffah dan sempurna, dengan tak hanya berkutat pada tataran pahala dan dosa, halal dan haram, kufur dan syuhada.

Karena sesungguhnya otoritas terhadap manusia, adalah kehendak mutlak-Nya.

(sampahfly038/09/06/2010)