Banjir Menggenangi Lapak dan Sekolah Tercinta Kami

Oleh: Muhamad Abdul Hasan (peserta didik di “saungelmu” Jati Padang)

Disunting oleh: Fly

 

 

Pada minggu yang lalu, saya dan teman-teman mencari hewan bunglon di kebun dengan beratapan langit biru yang cerah. Namun ketika asiknya mencari, tiba-tiba langit yang sebelumnya cerah berwana kebiruan berubah menjadi kehitaman dan gelap. Kami menduga mungkin hujan akan turun, sehingga kami bergegas kembali ke rumah masing-masing. Setibanya di rumah, dugaan kami tersebut terbukti, hujan pun akhirnya turun ke bumi.

Hujan turun begitu derasnya dengan disertai suara-suara petir yang menggelegar. Derasnya air hujan juga mengakibatkan sungai kecil yang berada tepat di belakang Mushola As-Syifa, tempat kami bersekolah dan menuntut ilmu di lapak, ikut meluap. Hal tersebut dikarenakan sungai tak mampu menampung debit air yang mengalir. Dan akhirnya air yang tak tertampug dan meluap dari sungai itu pun menggenangi lapak dan rumah-rumah kami. Sehingga banjir tak dapat dipungkiri.

Gambar

Banjir yang kerap terjadi di wilayah (lapak) kami diakibatkan banyaknya masyarakat, baik dari lingkungan lapak sendiri ataupun orang-orang di sekitar lapak, yang membuang sampah di sungai. Sehingga sungai yang berada dekat lapak kami itu pun menjadi kotor dan mengalami pendangkalan.

Penyebab banjir lainnya adalah banyaknya penebangan pohon secara sembarang. Dahulu, di wilayah lapak dan sekitarnya seperti di kebun milik keluarga Bang Sating tempat di mana kami mencari bunglon, sungguhlah teduh karena banyaknya pohon yang berdiri. Namun sekarang tidaklah demikian adanya. Padahal keberadaan pohon-pohon tersebut sangatlah bermanfaat sebagai penyerap air hujan dan pencegah banjir.

Untuk itu berkaca dari banjir yang kerap terjadi, mari kita bersama menjaga kelestarian sungai dan pepohonan, dengan cara tidak lagi membuang sampah ke sungai dan menebang pohon sembarangan. Agar banjir yang datang tidak semakin meninggi dan merusak lingkungan. Sekali lagi mari kita bersama menjaga lingkungan sebaik-baiknya, seperti dengan menanam pohon. Dengan banyak pohon maka akan banyak rezeki.  

Kerja Bakti; Sebuah Aplikasi dari Kearifan Lokal Pribumi yang Masih Terbukti di Tengah Hegemoni Prilaku Individualistis Masyarakat Ibukota Pada Era Global Saat Ini.

oleh; Ahmad Rafli Anhar

 

Siang itu di bawah teriknya mentari, Minggu 18 Februari 2012, berlokasi di tempat mencari dan mengepul rezeki sekelompok “masyarakat marginal” berperan aktif dalam membersihkan lingkungan mereka sendiri. Mereka berjibaku, bergotong-royong, kerja bakti dengan tujuan mengubah hidup ini. Karena, dengan mencermati, kerja bakti pada siang itu dapat dianggap sebagai cermin dari kesungguhan hati dan dapat dijadikan sebagai momentum dalam sebuah rangkaian prosesi. Yaitu dalam rangkaian proses untuk mengubah dan mengangkat derajat hidup mereka ke arah yang lebih tinggi melalui bidang pendidikan atau edukasi.

Gambar

Kerja bakti yang dilakukan oleh mereka merupakan salah satu bentuk proses untuk mewujudkan serta merealisasikan sebuah wadah edukasi. Mereka, “masyarakat marginal” dan para pengelola saungelmu, memiliki misi untuk membangun saung keilmuan sebagai wadah dalam menuntut ilmu pengetahuan yang dipercayai sebagai bentuk realisasi dari sebuah mimpi. Mimpi yang berasal dari sebuah visi dalam menuntut serta mengamalkan ilmu pengetahuan untuk sekaligus menebarkan manfaatnya demi mengangkat derajat insani sesuai dengan janji Illahi.

Kerja Bakti Sebagai Sebuah Aplikasi dari Kearifan Lokal Pribumi

Bangsa Indonesia atau sebagai pribumi, memiliki beragam kearifan lokal yang telah turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kerja bakti merupakan salah satu dari kearifan lokal pribumi. Dalam kerja bakti tersimpan pesan yang sarat akan nilai edukasi. Dengan kerja bakti, ikatan keluarga kian tersambung rapih, kesusahan yang dialami dapat terobati, karena dilakukan bersama-sama dengan senang hati.

Demikian makna filosofi yang terkandung dalam kerja bakti. Nilai-nilai di dalam kerja baktipun sungguh mulia dan tinggi. Kerja bakti sudah dicontohkan oleh para leluhur bangsa ini. Mereka melakukan kerja bakti dalam segala aspek kehidupan dengan tujuan saling melengkapi dan berbagi. Sehingga pekerjaan yang awalnya di nilai tak mungkin teratasi, namun dengan kerja bakti sungguh dapat terealisasi. Untuk itu sebagai generasinya, mari menjaga dan mengaplikasikan kerja bakti sebagai sebuah tradisi.

Gambar

Kerja Bakti di Tengah Hegemoni Prilaku Individualistis Masyarakat Ibukota Saat Ini

“Masyarakat marginal”, para penghuni lapak di Jalan Jati Padang Poncol Jati Padang-Pasar Minggu, dan  pengelola saungelmu membuktikan bahwa “ancaman” dari pengaruh sikap individual masyarakat ibukota bagi mereka ternyata tak mumpuni. Hal itu ditunjukkan oleh kegiatan kerja bakti yang kerap dilakukan oleh mereka pada akhir-akhir ini. Kerja bakti itu kerap dilakukan karena seiring-sejalan dengan niat mereka untuk membangun saung keilmuan sebagai wadah edukasi. Dengan edukasi mereka mengharapkan dapat membentengi diri dari sikap-sikap yang dapat menjauhkan diri dari tradisi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kerja bakti merupakan kearifan lokal (local genius) pribumi yang harus dijaga dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan tujuan agar generasi selanjutnya dapat mengenal jati diri. Karena dengan mengenal jati diri maka mereka akan mengetahui arah tujuan dari hidup ini. Dan lebih utama lagi dapat menjaga dan mempertahankan bangsa ini dalam kerangka NKRI. Sebagaimana yang telah digariskan serta diperjuangkan oleh founding father dan para pahlawan negeri ini.

Dengan mengenal jati diri, sebagai bagian dari bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai kegotong-royongan dalam kerja bakti, diharapkan ancaman dari hegemoni prilaku individualistis dapat teratasi. Karena dalam budaya yang penuh dengan nilai kegotong-royongan, sikap individualistis tidaklah masuk dalam kategori. Sikap tersebut merupakan ekses dari majunya peradaban dengan ditandai tingginya pertumbuhan ekonomi.

Ketika pertumbunan ekonomi meninggi maka konsekuensi yang tak dapat dihindari adalah kian mengikisnya sikap kebersamaan dikarenakan adanya pergeseran orientasi. Dari orientasi yang awalnya menjunjung tinggi pada kemaslahatan bersama, bergeser kapada orientasi terhadap kesuksesan pribadi yang selalu diukur dari segi materi. itulah realita yang terjadi pada era global saat ini. Akibatnya kegiatan kerja bakti di sebagian tempat kini kian sulit ditemui.

Bekerja dan Berbakti Demi Negeri

Untuk itu mari bersama kembali mengintrospeksi diri dengan bercermin pada nilai-nilai luhur dan kembali mengamalkan tradisi. Melakukan kegiatan kerja bakti dalam berbagai aspek kehidupan dengan tujuan menumbuh-kembangkan kembali nilai-nilai kekeluargaan bangsa ini. Agar pada saat ini dan masa yang akan nanti tradisi dapat selalu terjaga dan terwariskan pada tiap generasi demi lestarinya negeri dan bahagianya ibu pertiwi. (Fly; 23 Maret 2012)

Guruku Pelita Hidupku

Gambar

Untuk semua guru-guru kami.

 

oleh Hanni Safitri

(peserta didik di “saungelmu” Jakarta)

 

Guru…

Dengan sabar mendidikku.

Hingga aku menjadi pandai.

Hingga aku mengerti kehidupan.

                                Guru…

                                Tak kenal lelah memberikan ilmu.

                                Tanpa mengharapkan imbalan.

Guru…

Semoga Tuhan membalas kebaikanmu.

Karena engkau pelita hidupku.

Kesadaran Terhadap Arti Pentingnya Kesehatan

 Gambar

       Sejak pertama kali menginjakkan kaki di lapak ini, saya sungguh terkejut. Karena saya tidak menyangka, selain dijadikan sebagai tempat tinggal serta mencari nafkah, ternyata banyak sampah yang ditimbun di lapak ini. Akibatnya hampir setiap hari saya dan penghuni lapak lainnya terpaksa menghirup bau tak sedap yang berasal dari sampah-sampah tersebut.

       Tidak hanya bau tak sedap yang dihasilkan setiap harinya dari timbunan sampah tersebut. Jika musim penghujan tiba, kami juga disibukkan dengan “kedatangan” gerombolan hewan belatung yang masuk melalui celah-celah “bedeng” tempat tinggal kami. Gerombolan belatung tersebut begitu luwesnya berlenggak-lenggok di depan pandangan mata kami kala sedang beristirahat di malam hari.   

       Sampah-sampah yang di timbun tersebut terkadang juga dimusnahkan dengan cara di bakar dengan tujuan mengurangi jumlah tumpukannya. Namun efek lain dari pembakaran sampah tersebut, kami malah terpaksa menghirup asap tebal yang dihasilkannya.

Gambar

       Dengan beragam kejadian tersebut, akhirnya kami menyadari akan arti pentingnya kesehatan. Kami sadar dan bersepakat untuk tidak lagi menimbun sampah dan mengalihkannya ke tempat khusus pembuangan. Dan kami juga tak lagi membakar sembarangan sampah-sampah tersebut. Karena kami khawatir akan terserang oleh berbagai macam jenis penyakit, seperti penyakit kulit, diare ataupun penyakit saluran pernapasan.   

       Semenjak kesadaran itu dilakukan, kini kami dapat menghirup nafas dengan lega karena tak lagi menghirup bau tak sedap yang menyengat. Dan tak ada lagi asap tebal yang membumbung tinggi.    

 

oleh; Hanni Safitri (peserta didik paket B di “saungelmu” Jakarta)

diedit oleh: Fly

Sosialisasi dan Edukasi Mengenai Hewan Reptil oleh Deric Education dan Planet Satwa di sekolah “saungelmu”

Pada hari Minggu lalu (26 Februari 2012), saya dan teman-teman berkumpul untuk melihat hewan reptil di Mushola As-Syifa (saungelmu) dalam acara sosialisasi dan edukasi yang dibawakan oleh Deric Education dan Planet Satwa. Pada acara itu kami melihat berbagai jenis hewan reptil, seperti ular, buaya, kadal dan biawak. Kami juga diperbolehkan memegang ular dan kadal yang sudah jinak itu.

Gambar

Kakak-kakak dari komunitas pencinta reptil (Deric Education) menerangkan bahwa hewan-hewan reptil tersebut banyak yang berasal dari dalam negeri. Namun ada pula yang berasal dari luar negeri seperti, Argentina di benua Amerika maupun benua Afrika.

Selang beberapa waktu kemudian, ketika acara berjalan, turunlah hujan dengan derasnya. Dan kerap beberapa kali terdengar suara petir yang menggelegar. Namun kami tetap tenang karena di hibur oleh kakak-kakak dari komunitas pencinta reptil untuk bernyanyi bersama.

Gambar

Selesai bernyanyi bersama, kami di beri beberapa pertanyaan. Bagi yang dapat menjawab pertanyaan tersebut langsung di beri hadiah berupa sabun dan pasta gigi. Dan bagi yang tidak menjawab di beri hadiah pula di penghujung acara. Setelah itu kami pulang ke rumah masing dengan hati riang.

 

oleh: Faizah (peserta didik di saungelmu/kelas VI sekolah formal)

editor: Fly

  

Dayat, Please Forgive Me.

Dayat, mungkin kau tak mengerti makna eksploitasi.

Kau juga mungkin tak ingin peduli.

Pancaran sinar kedua bola matamu itulah sebagai bukti.

Karena yang penting bagimu adalah menuntut ilmu demi mengangkat derajat hidup ini.

 Gambar

                Dayat, mungkin kau tak paham tentang harga diri.

                Karena yang lahir dalam dirimu adalah naluri.

                Bagaimana bertahan dalam kerasnya hidup ini.

                Di tengah realita kehidupan di mana harga diri tak lagi berarti.

 

Dayat, mungkin kau tak pernah menyadari.

Kegigihanmu dalam mengais rezeki sungguh menjadi motivasi.

Bagaimana kau melawan perih mata untuk keluar di pagi hari.

Dan mendobrak letih untuk kembali pulang menjelang tenggelamnya mentari.

 

                Dayat, kau sungguh mengispirasi.

                Dengan kegigihan serta ketulusan hati yang kau miliki.

                Kau sadarkanku akan besarnya makna sebuah arti.

                Arti hidup dari apa yang kau perjuangkan selama ini.

 

Dayat kini ku berujar; please forgive me.

Ingatkan aku jika keluar dari konsistensi!

Somasi aku jika mengingkari jalan suci yang telah kita sepakati.

Sadarkanku jika lupa diri karena tergoda oleh gemerlapnya materi.

Yang bagimu itu hanyalah ujian yang datang dari Illahi Robbi.

 (Fly, 13 Maret 2012)