Pemuda Sebagai Agen Perubahan:


Potensi pemuda Kampung Baru untuk berperan aktif mengubah kondisi lingkungan hidup sekitar kearah yang lebih baik melalui gerakan penghijauan.

(oleh; Ahmad Rafli A.)

Dalam perjalanan hidup manusia terdapat beberapa fase kehidupan. Fase tersebut dimulai sejak ia dilahirkan. Mulai dari masa kanak-kanak, muda, hingga tua, dimana akan ditinggalkannya kembali kehidupan. Pada masa kanak, mungkin hanya segelintir pengetahuan yang didapatkan. Namun ketika beranjak remaja atau menuju dewasa, bertambah pula pengetahuan berkat adanya proses pembelajaran. Dan di masa tua, tinggallah pengetahuan tersebut diwariskan.

Namun apakah dengan menunggu datangnya tua pengetahuan itu baru diwariskan? Bukankah manusia tidak pernah tahu akan datangnya kematian? Untuk itu di kala hayat di kandung badan, terlebih jika usia masih muda dengan semangat membara, ada baiknya pengetahuan itu diamalkan.

 

Pemuda; Agen Perubahan

Nah, disinilah pentingnya peran pemuda dalam mengamalkan pengetahuan. Karena dalam jiwa pemuda memiliki potensi yang dapat diharapkan. Pemuda memiliki semangat yang sulit dipadamkan. Terlebih jika semangat bercampur dengan pengetahuan dan diimplementasikan melalui tindakan. Maka akan terciptalah suatu perubahan.

Pemuda sebagai agen perubahan (agent of chance). Hal tersebut merupakan suatu keniscayaan. Bahkan dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia, telah tertorehkan beragam peran pemuda dalam hal perubahan. Tak terkecuali dalam sejarah bangsa Indonesia, para pemuda menorehkan hal yang demikian. Berdirinya organisasi pemuda di masa penjajahan, tercetusnya Sumpah Pemuda 1928, hingga peran pemuda dalam membantu memproklamirkan kemerdekaan. Bahkan  salah seorang founding father bangsa menaruh apresiasi pada sosok pemuda; “Berikan aku 10 pemuda maka akan aku ubah dunia”, demikian yang ia katakan.

 

Kondisi Lingkungan Hidup; Deforestasi mengancam kelestarian hutan 

Berbicara mengenai lingkungan hidup, maka takkan terlepas dari bumi beserta isinya, seperti halnya manusia, hewan maupun tumbuhan. Namun tidak terbatas pula pada makhluk hidup, karena dalam lingkungan hidup terdapat segala macam “benda” lainnya, seperti air, tanah, ataupun sumber energi, yang kesemuanya merupakan satu kesatuan.

Jika menilik kondisi lingkungan hidup saat ini seperti halnya hutan. Maka akan banyak problematika yang ditemukan. Permasalahan deforestasi (penggundulan) hutan, seperti penebangan liar (illegal logging) memiliki dampak sangat mengerikan. Dapat mengakibatkan erupsi lahan, terancamnya berbagai aneka satwa didalamnya, hingga mengakibatkan global warming atau pemanasan. Bahkan jika tidak dihentikan, tidak menutup kemungkinan dapat menghilangkan hutan di masa depan dan menyisakan kenangan. Menurut Menteri Kehutanan, pada tahun 2009, luas kawasan hutan Indonesia mencapai 138 juta hektare.[i]  Dengan laju deforestasi hutan pada periode 2005-2009 mencapai 5,4 juta hektare, yang secara finansial juga menyebabkan timbulnya kerugian.[ii]

Jakarta; Potret buram lingkungan hidup perkotaan

Tak berbeda jauh dengan kondisi hutan Indonesia, dalam lingkup yang lebih kecil, kondisi lingkungan hidup di perkotaan juga terlihat mengalami penurunan. Contoh saja yang terjadi di Jakarta sebagai kota metropolitan. Dengan kian tingginya laju pertumbuhan, baik dari segi kependudukan maupun bangunan, mengakibatkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan. Akibatnya setiap musim hujan datang, banjirpun tak dapat terelakkan. Untuk itu disinilah pentingnya peran ruang terbuka hijau (RTH) dalam meminimalisir terjadinya banjir dan sebagai penyaring udara dari ancaman polutan.

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, beginilah nasib ibukota sekarang dan mungkin masa depan. Laju pembangunan telah mengikis kepedulian akan pentingnya kelestarian. Dahulu Jakarta asri dengan rimbunnya pepohonan di taman maupun di sisi jalan, kini seakan telah tergerus zaman. Bahkan amanat konstitusi tampaknya tidak lagi dihiraukan. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, luas ruang terbuka hijau (RTH) idealnya sebesar 30% dari luas wilayah provinsi keseluruhan.[iii] Tetapi realitanya luas RTH DKI Jakarta pada tahun 2007 ditaksir tinggal 6.2% dan jauh dari harapan.[iv]

Berkurangnya peran ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan

Dengan minimnya luas tersebut, maka semakin sedikit pula volume air tanah di Jakarta, dikarenakan menurunnya peran RTH sebagai daerah resapan. Akibatnya Jakarta akan mengalami krisis air tanah yang berkepanjangan. Dan yang memprihatinkan adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan. Volume air tanah yang dikonsumsi mencapai 251,8 juta meter kubik pertahun dan hal itu diatas batas penggunaan.[v]

Dampak eksploitasi air tanah yang berlebihan dan berkepanjangan mengakibatkan adanya ruang hampa dibawah permukaan. Akibatnya terjadilah penurunan permukaan tanah secara perlahan. Sehingga tak dapat dihindari lagi akan terjadinya banjir rob, terutama di daerah utara Jakarta yang berbatasan langsung dengan lautan. Mungkin tak ayal pula jika mimpi buruk akan tenggelamnya Jakarta di masa depan menjadi kenyataan.

Pemuda yang Berwawasan Lingkungan

Sebagai seorang pemuda yang memiliki semangat belajar dan rasa ingin tahu yang besar, idealnya ia memiliki kepekaan. Yakni kepekaan terhadap kelestarian lingkungan. Sehingga timbul kepedulian untuk menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan seputar lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi potensi yang dimiliki pemuda untuk mengimplementasikannya ke dalam suatu tindakan ataupun gerakan.

Gerakan tersebut bertujuan untuk melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik terkait dengan kondisi lingkungan hidup saat ini yang tengah berada pada titik nadir yang memprihatinkan. Gerakan perubahan tersebut dimulai dari diri dan lingkungan. Yang diharapkan kelak gerakan perubahan tersebut dapat berkelanjutan. Sehingga dapat menyelamatkan kondisi lingkungan saat ini dan menatap masa depan penuh harapan.

Pemuda Kampung Baru mencanangkan gerakan penghijauan

Gerakan perubahan yang dimulai dari diri dan lingkungan, membangkitkan semangat khususnya pemuda wiayah Kampung Baru untuk melakukan suatu tindakan. Yaitu tindakan untuk ikut berperan aktif melestarikan lingkungan. Terlebih jika mengingat kondisi lingkungan wilayah DKI Jakarta secara keseluruhan yang telah mengalami penurunan.

Dengan kurangnya lahan hijau di wilayah DKI Jakarta, maka dengan niat melestarikan lingkungan, Pemuda Kampung Baru mencanangkan gerakan penghijauan. Yakni dengan penanaman seribu pohon di wilayah Kampung Baru dengan menggunakan media pot, mengingat semakin minimnya luas lahan.

Gerakan penghijauan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi polusi udara akibat tingginya tingkat emisi kendaraan. Serta dapat menciptakan lingkungan hidup yang asri dan nyaman. Sehingga mengurangi kepenatan dan warga merasakan betapa sejuknya udara sekitar walau berada di tengah perkotaan.