Menguapnya “keramahan” warga ibukota

Sore itu di sebuah stasiun kereta.

Beribu manusia pulang kerja.

Berpeluh keringat terkuras tenaga.

Berharap ke rumah dengan segera.

Naas, kereta besi tak jua tiba.

Resah, gelisah, bercampur amarah, terlontar kata.

Mengintip sang waktu berlalu dengan cepatnya.

Sedang sang muazin bersiap mengumandangkan seruannya.

Beribu pasang mata menatap asa.

Masih berharap kereta segera tiba.

Mendengar himbauan Toa bicara.

“kereta telah berangkat dari stasiun sebelumnya.”

Secerca asa kembali merasuk jiwa.

Hati yang gundah seakan sirna.

Berharap cemas menanti kereta.

Mengharap seonggok raga terbawa.

Syukurlah, kereta yang dinanti tiba jua.

Namun tak seperti yang di duga.

Ternyata kereta membawa lebih ribuan manusia.

Hingga tak terlihat lagi wujud aslinya.

Ribuan manusia lain, menanti menyiapkan tenaga.

Untuk mengadu fisik dengan saudaranya.

Tak peduli tua-muda, balita-dewasa, kuat-renta pun dihajarnya.

Berdesakan satu dengan lainnya,

bersikutan dengan disampingnya,

hingga mendorong sekuat tenaga dengan didepannya.

Demi satu tujuan, dapat tiba ke rumah dengan segera.

Apa ini yang dinamakan dengan masyarakat modern ibukota?

Yang katanya lebih maju daripada masyarakat desa.

Atau ini akibat virus metropolitan yang mendera.

Membawa wabah individualistik kepada mereka.

Sehingga menghilangkan rasa peduli terhadap sesama.

Lantas dimana “keramahan” yang katanya menjadi karakter bangsa?

“keramahan” yang dahulu selalu di puja.

Apa karena virus metropolitan tersebut merusak semua?

Atau kejamnya ibukota menelurkan trauma?

Sehingga menjadikan manusia lupa akan jati dirinya.

Dan “keramahan” itu sirna entah kemana.

Menguap ke udara dan hanya menyisakan romansa.

(Fly)

Mewaspadai ideologi “ekstrimis” keagamaan

Terorisme yang kerap diperbincangkan dalam berbagai kesempatan, tampaknya masih menjadi suatu headline news yang terdepan. Dalam kurun waktu satu dekade belakangan ini, baik di Indonesia maupun dunia, topic yang sangat menarik perhatian, salah satunya adalah aksi teror yang diidentikkan dengan pengeboman, penghancuran, ataupun pembunuhan.

Dalam kacamata humanisme, aksi teror sangat melanggar norma kemanusiaan. Karena melakukan suatu tindakan sosial, menurut seorang Max Weber, yang langsung berpengaruh buruk terhadap manusia dan kehidupan. Seperti tragedi pengeboman di Bali maupun di Jakarta yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban.

Dalam perspektif keagamaan, yang pada dasarnya bersinergitas dengan nilai kemanusiaan, aksi teror tentu tak dapat dibenarkan. Beragam keyakinan dalam berbagai agama pun jelas mengajarkan kepada pengikutnya untuk menabur benih rasa cinta kasih antar sesama dan bukan menebar rasa ketakutan ataupun kebencian.

Nilai keagamaan sering dijadikan landasan

Permasalahan yang sering dijumpai adalah bahwa dalam melakukan aksi terornya seorang “teroris”, dalam pandangan si korban, atau seorang “pejuang”, menurut para pelakunya, dilatari atas protokol keagamaan. Mind set demikian yang sangat memprihatinkan. Karena memahami suatu nilai keagamaan menurut ortodoksi kebenaran. Dimana pemahaman seperti ini yang mereka  miliki dianggap telah berlisensi kebenaran. Sehingga menafikan “kebenaran” lain yang diyakini pula oleh para korban.

Menurut seorang Imam, orang yang dinisbatkan sebagai pemimpin oleh pengikutnya, yang bernama Al-Syafi’i, kebenaran yang ia yakini belum tentu benar menurut lainnya, dan berlaku kebalikan. Baginya kebenaran mengandung unsur subjektivitas perorangan. Namun ada satu kebenaran mutlak yang hanya dimiliki oleh sang pemilik otoritas kebenaran.

Jika meninjau antro-sosiokultural Indonesia, mayoritas pemeluk agama Islam merupakan seorang Syafi’iyah secara individual, ataupun bermazhab Syafi’i secara golongan. Seyogyanya jika seorang teroris atau pejuang memang bermazhab demikian, maka hal destruktif tersebut dapat dihindarkan. Namun yang lebih banyak dijumpai saat ini adalah tidak adanya kesadaran dan pengenalan yang dimiliki mereka akan latar belakang keagamaan.

Rasa kebencian personal melatari aksi “perjuangan”

Rasa kebencian yang dirasa, akhirnya tak tertahankan dan melahirkan suatu aksi perjuangan. Motif tersebut yang tampak dominan terlihat dari berbagai aksi perjuangan seperti pengeboman. Tidak hanya yang terjadi di negeri ini, tetapi juga di negeri lain yang masih memperjuangkan terciptanya perdamaian.

Bahkan sebenarnya aksi perjuangan di negeri yang tengah perang, justru jauh lebih relevan dilakukan. Dibandingkan dengan aksi perjuangan berupa pengeboman di negeri yang indah nan damai dalam keadaan. Pemahaman seperti itu yang pada tempo lalu sempat terlontar dari seorang mantan Amir Mujahiddin Indonesia dalam suatu forum pendidikan.

Aksi perjuangan dalam perbedaan keadaan

Rasa kebencian dalam diri orang yang terzhalimi melatari perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Seperti yang terlihat dari perjuangan rakyat Palestina yang sedang dirundung penderitaan. Dalam konteks keadaan tersebut, maka wajar dan relevan jika aksi perjuangan mereka dilakukan.

Namun dalam konteks Indonesia, aksi perjuangan yang dilakukan dapat saja dipertanyakan. Apakah aksi tersebut dilatari oleh ortodoksi keagamaan atau oleh perasaan akan kebencian? Jika dilatari oleh ortodoksi kegamaan, maka seyogyanya ada suatu pelurusan. Agar pemahaman keagamaan dapat selaras dengan nilai kemanusian.

Tetapi jika aksi tersebut dilatari oleh rasa kebencian. Maka dapat dipertanyakan kepada siapa rasa benci tersebut ditujukan. Mengingat yang sering menjadi korban adalah masyarakat biasa yang justru tak memiliki sentimen personal ataupun golongan. Sehingga kerap dijumpai korban dari berbagai aksi tersebut tidak tepat sasaran.

Mengenali diri dan menjalin persaudaraan

Untuk itu dalam rangka menghindari sikap ekstrimis dalam pemahaman keagamaan. Sudah seharusnya mari bersama melakukan suatu perenungan. Yaitu dengan berangkat dari pribadi dengan pemahaman yang arif, sehingga dapat menerima perbedaan. Seperti nilai diatas yang telah diajarkan oleh seorang pemimpin keagamaan.

Dengan mengenali diri, maka diharapkan tumbuhnya rasa rasa persaudaraan. Baik itu antara sesama pengikut suatu aliran keagaman maupun antar pemeluk yang berbeda keyakinan. Agar tercipta suatu perdamaian dan ketentraman yang diidamkan.

(sampahfly044/22/08/2010)

Hal kecil yang tak mudah dilihat oleh mata inderawi, kecuali oleh mata hati

Klarifikasi terhadap stigmatisasi

Tahun 2006, setelah bergulirnya masa reformasi, ternyata angin perubahan yang diidamkan tak jua dinikmati. Pada tahun itu, tidak berbeda jauh kondisinya dengan saat ini, masalah pendidikan telah menuai kontroversi. Selain masalah mahalnya biaya untuk mengeyam pendidikan, pada tahun itu pula telah diberlakukannya standarisasi. Yaitu standarisasi dalam menentukan kelulusan insan akademisi. Walau standarisasi kelulusan pada tiap tahunnya menuai polemik, namun toh tetap diimplementasi.

Akibat dari pemberlakuan standarisasi kelulusan yang pada tiap tahunnya ditingkatkan dalam segi nilai. Maka berbagai carapun ditempuh oleh para insan akademisi, termasuk orang tua, siswa, maupun guru yang di sertfikasi. Dengan tujuan yang satu, yaitu standar kelulusan yang terpenuhi.

Contoh nyata dari hal kecil yang tak mudah dilihat oleh mata inderawi, kecuali oleh mata hati

Berangkat dari keprihatinan, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Studi Pemuda (KSP) termasuk didalamnya seorang bernama Rafli, melakukan sebuah aksi. Yaitu dengan membuka lahan untuk mediasi. Tempat yang diperuntukan bagi mereka insan akademisi yang mencintai edukasi. Tempat dimana bagi siapapun tanpa terkecuali dapat mengakses buku dengan mudah dan tak terbatasi.

Pembukaan lahan tersebut dengan tujuan edukasi didasari dari kepekaan hati. Dengan menilai bahwa edukasi adalah hal yang sangat berarti. Karena orang akan lebih dihargai dengan ilmu yang dimiliki.

Pembukaan lahan tersebut awalnya berjalan dengan selayaknya, bagai seorang manusia yang masih bayi. Namun berbanding terbalik dengan yang dialami oleh seorang manusia; lahir, tumbuh besar, tua dan mati. Ternyata usia lahan edukasi tersebut tak dapat menyelaraskan, diakibatkan oleh faktor materi. Pembiayaan untuk membuka lahan tersebut berasal swadaya dari rasa peduli.

Dan kini lahan edukasi tersebut tinggallah sebatas kenangan dalam memori. Namun spirit bahkan buku sebagai bahan edukasi, yang dimiliki oleh para pemuda tersebut masih dimiliki dan bersemayam dalam diri. Jika nanti di kemudian hari semua telah terpenuhi, maka lahan edukasi tersebut akan dibangkitkan kembali.(Fly)

Mengkritisi Kemerdekaan Indonesia

Telah enam puluh lima tahun bangsa ini merdeka. Terhitung sejak dibacakannya teks proklamasi oleh duo founding father bangsa; Soekarno dan Hatta. Hal itu mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia telah memasuki babakan baru dalam rangkaian sejarah perjalanannya.

Namun ditengah gegap-gempita beragam kegiatan peringatan, ternyata pada hakikatnya kemerdekaan yang dirasakan hanya sebatas formalitas belaka. Yaitu merdekanya bangsa Indonesia dari belenggu penjajah asing, terutama kolonialis Jepang dan Belanda. Hal tersebut ditinjau dari masih adanya intervensi asing dalam urusan rumah tangga negara.

Intervensi dalam teknologi informasi di Indonesia

Sebagai contoh adalah dalam bidang teknologi informasi yang tengah berkembang saat ini di Indonesia. Dalam pidatonya beberapa waktu silam di daerah dalam pembukaan sebuah acara, Menkominfo menjelaskan bahwa akan di bangun suatu jaringan komunikasi ke seluruh daerah di nusantara. Dengan tujuan agar seluruh rakyat di daerah memperoleh akses yang sama rata. Sehingga memudahkan rakyat Indonesia dalam berkomunikasi maupun berbagi informasi satu dengan lainnya.

Namun dari rencana yang dijelaskan tersebut ada sesuatu yang sulit untuk di terima. Ternyata sistem atau jaringan komunikasi tersebut akan bermuara ke sebuah server yang berada di Amerika. Dan keadaan ini menjadi sebuah dilema. Di satu sisi, bangsa ini butuh pengembangan teknologi dalam bidang informasi yang tengah mendunia. Namun di sisi lainnya, bangsa ini pun tak mau di jajah untuk kedua kalinya.

Contoh lainnya yang hangat diperbincangkan di berbagai media dan masih terngiang di telinga, yaitu desas-desus pemblokiran salah satu layanan “ponsel pintar” di Indonesia. Pemblokiran itu lantaran masalah secure, yang menjadi keunggulan dari layanan “ponsel pintar” tersebut, dipersoalkan oleh beberapa pihak di Indonesia. Terutama oleh pihak keamanan yang bertanggung jawab terhadap pertahanan dan keamanan negara.

Rencana pemblokiran terhadap layanan tersebut dikarenakan tidak dapatnya pihak keamanan untuk meng”akses” secara telanjang data para pelanggannya. Jika ingin meng”akses” data tersebut, maka harus dengan seizin “penyedia layanan” yang bermarkas di Kanada. Sehingga muat dugaan bahwa layanan tersebut dapat berdampak buruk terhadap keamanan negara. Apalagi jika ada penggunannya yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri dan merugikan yang lainnya termasuk negara.

Produk asing dalam sistem transportasi; darat, laut, dan udara

Dalam system transportasi di Indonesia pun mengalami hal yang serupa, baik itu di darat, laut maupun udara. Bentuk “campur tangan” asing jelas terlihat dalam beragam moda transportasi massal di Indonesia. Sebagai sample adalah moda transportasi yang ada di Jakarta. Hampir semua kendaraan yang simpang-siur di jalan raya Ibukota merupakan made in asing, baik buatan negara lain di Asia ataupun Eropa.

Padahal jika melihat potensi yang dimiliki bangsa ini sangatlah besar, dengan beragam sumber daya. Jika melihat prestasi anak bangsa beberapa waktu lalu, harusnya negara ini bangga. Karena ternyata hasil karya anak bangsa di akui dunia. Terbukti dengan dimenangkannya kompetisi dunia dalam bidang alat transportasi yang hemat energi dan biaya.

Namun seperti yang telah banyak terjadi sebelumnya adalah minimnya apresiasi bagi anak bangsa yang telah mengharumkan nama bangsa. Minimnya apresiasi tersebut justru berasal dari para penyelenggara negara. Padahal mereka yang telah berdedikasi demi negeri harusnya mendapat penghargaan dan tempat yang sesuai dengan porsinya. Jika tidak, maka nasib bangsa akan selalu sama.

Penyeragaman acara dalam media massa

Salah satu bidang yang begitu signifikan terlihat adanya pengaruh asing didalamnya adalah media massa. Contoh saja dunia pertelevisian, beragam acara disuguhkan kepada jutaan pemirsa dengan beragam latar belakangnya. Mulai dari latar belakang profesi, usia, hingga budaya. Yang memprihatinkan adalah “adanya” unsur penyeragaman acara untuk men-design paradigma para penikmatnya.

Sebuah kasus seperti ditapilkannya beragam acara hiburan yang meng-copy paste dengan acara serupa dari mancanegara. Yang secara tak langsung menyusupi sistem nilai asing, yang jika dikomparasikan dengan budaya lokal jauh berbeda. Bahkan sistem nilai yang dibawa dalam acara tersebut sesungguhnya bertolak belakang dengan kearifan local nusantara yang telah turun-temurun membudidaya.

Keadaan ini sesungguhnya begitu memiriskan, lantaran lambat-laun kearifan local bangsa ini dapat terancam eksistensinya. Hal tersebut beralasan dikarenakan para penikmat acara tersebut tidak hanya berasal dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak yang masih belia. Yang dikhawatirkan dari keadaan ini adalah hilangnya kearifan local tadi lantaran paradigma para penerus bangsa telah di-design sedemikian rupa sesuai kehendak “mereka”.

Kembali pada kearifan bangsa

Jika keadaan ini didiamkan begitu saja, maka “kemerdekaan” yang selama ini didengungkan masihlah mengangkasa. “Merdeka Seratus Persen”, tampaknya hanya sebuah angan dari seorang Tan Malaka. Karena hingga detik ini apa yang dirasakan sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dari keadaan dimasa hidupnya, berada dibawah penjajah Belanda.

Untuk itu, seperti yang dikatakan oleh Bung Karno bahwa jika suatu negara ingin dihormati maka ada tiga hal yang harus dilakukan; mandiri secara politik, berdikari secara ekonomi, dan teguh pada budaya bangsa. Tiga elemen itu yang seyogyanya harus dijalankan saat ini, terutama oleh para penyelengara negara. Dan juga bagi seluruh rakyat Indonesia untuk tetap memegang teguh nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur bangsa.

(sampahfly043/10/08/10)