Memahami Jakarta(2)

Keanekaragaman, sebuah niscaya yang mewarnai Jakarta. Seperti dalam konteks etnisitas dan agama. Sejarah yang melatari berdirinya Kota Jakarta kental akan dinamika. Tatkala Kota Jakarta masih bernama Sunda Kelapa, berdiamlah suatu suku bangsa. Yaitu suku bangsa Sunda, yang mendiami wilayah barat pula Jawa.

Kemudian dengan kian tersohornya Sunda Kelapa di telinga bangsa Asia maupun Eropa. Datanglah bangsa Asia dan Eropa dengan berbagai motif yang melatarinya. Mulai dari alasan untuk menjalin hubungan dalam bidang perekonomian, mensyiarkan ajaran keagamaan, hingga motif imperialisme untuk memperluas daerah kekuasaan di Asia Tenggara.

Namun dari sekian motif yang melatari berbagai bangsa asing, Asia maupun Eropa, untuk datang ke Sunda Kelapa. Ternyata tak semuanya hanya terpaku pada alasan tersebut saja. Justru karena terjadinya persinggungan antara bangsa asing dengan masyarakat pribumi atau Sunda, akhirnya mengakibatkan timbulnya suatu kontak budaya.

Peristiwa itu yang perlahan, seiring waktu berjalan, membaurkan bangsa asing dengan  pribumi nusantara. Serta membiaskan motif-motif awal kedatangan mereka ke Sunda Kelapa. Sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan yang baru dengan kebhinekaan didalamnya.

Keadaan tersebut berulang dari masa Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta. Mulai dari masa Kerajaan Sunda, Kerajaan Islam Demak, Kolonialis Belanda, hingga Indonesia merdeka. Hal itulah yang kian memajemukkan kondisi sosial di Jakarta. Berbagai etnis, beragam adat-istiadat, berbhineka budaya, hingga bermacam agama tumpah ruah di sana.

Masyarakat Betawi yang mendominasi Jakarta

Berbicara etnisitas, sesungguhnya terdapat beragam etnis di Jakarta. Namun yang mendominasi dan menjadi tuan rumah adalah etnis Betawi yang telah mendiami lama Jakarta.[20] Hal itu telah tampak dari suatu proto type etnis Betawi pada abad ke-19, yang memiliki cara dan kesenian yang berbeda dengan masyarakat Sunda pada umumnya.[21] Mengingat letak geografis Jakarta berada dalam wilayah Jawa Barat yang notabene-nya beretnis Sunda.

Etnis Betawi memang memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan masyarakat Sunda. Hal tersebut karena adanya unsur budaya asing yang membaurinya. Seperti budaya Arab, Portugis, Belanda, maupun Cina. Berbagai unsur budaya asing itu mempengaruhi budaya lokal, mengkolaborasinya dengan unsur budaya lama. Sehingga menciptakan budaya, adapt-istiadat, maupun kesenian baru yang berbeda.

Masyarakat Betawi dan ragam budaya

Pengaruh unsur budaya asing yang menghiasi ragam seni masyarakat Betawi dapat di lihat dari seni musik, tari maupun drama.[22] Salah satu contohnya terlihat jelas dalam seni musik maupun suara. Seperti gambang kromong ataupun tanjidor yang memiliki keidentikan dengan budaya Eropa.

Begitu pula dengan pengaruh budaya Asia, khususnya Arab maupun Cina. Hal itu terlihat dalam pakaian adat perkawinan bagi sang mempelai wanita. Busana sang mempelai wanita biasanya memiliki hiasan cadar pada wajahnya. Hiasan atau aksesoris tersebut merupakan bentuk adopsi dari budaya Cina.

Masih banyak contoh lain yang dapat menggambarkan adanya unsur akulturasi dalam adat etnis Betawi atau masyarakat Jakarta. Namun teori mengenai asal usul nama etnis Betawi masih mengundang banyak tanya. Ada yang mengatakan bahwa nama atau istilah “betawi” digunakan untuk menyebut nama masyarakat yang tinggal di Batavia. Penyebutan tersebut dikarenakan dialek masyarakat pribumi kala itu yang sulit melafalkan bunyi “vi” atau “via”. Sehingga menyebut Batavia dengan “batawia”, “batawi”, menjadi “betawi” hingga sekarang yang telah berganti era.

(bersambung)


[20] Ibid., (http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/375-budaya)

[21] Ibid.,

[22] Ibid.,

Iklan

Memahami Jakarta(1)

Jakarta, sebuah kota yang memiliki nilai historis didalamnya. Setelah pada era sebelumnya mengalami banyak pergantian nama, seiring pula dengan silih-bergantinya rezim yang menguasainya. Mulai hanya dari penyebutan bagi sebuah daerah kecil berupa pelabuhan di utara pulau Jawa, yaitu Sunda Kelapa. Kemudian diubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta, lalu di ganti kembali oleh Kolonialis Belanda menjadi Batavia. Kini nama Jakarta-lah yang di gunakan untuk menyebut nama daerah tersebut pasca Indonesia merdeka.

Perubahan nama yang dialami, mengindikasikan bahwa sejak dahulu Jakarta telah memiliki ragam pesona. Bukan hanya terdengar dalam linkup nusantara, tetapi telah menggema ke berbagai penjuru dunia. Bahkan sampai ke tanah Cina, India, Arab, Persia maupun hingga ke dataran Eropa. Maka tak heran jika sejak abad ke-14 telah terjalin suatu bentuk kerjasama.

Perniagaan antar bangsa di Sunda Kelapa

Bentuk kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat Sunda Kelapa dengan bangsa asing lainnya, berupa perniagaan antar bangsa. Terlebih sejak dahulu nusantara sudah terkenal sebagai pemasok rempah-rempah terbesar di kawasan Asia. Dan Sunda Kelapa merupakan salah satu tempat pemasarannya. Di tambah pula jika meninjau dari  letak geografis, kawasan nusantara begitu strategis dan termasuk ke dalam jalur perdagangan antar bangsa yang di kenal dengan istilah “jalur sutra”.

Selain kestrategisan dan kesohoran sebagai bangsa penghasil rempah-rempah, Sunda Kelapa juga memiliki potensi sumber daya alam lain, seperti sumber daya kelautannya.[18] Hal itu tak lain karena sebagian besar kawasan nusantara merupakan laut, bahkan luasnya sekitar dua pertiga.

Motif lain yang melatari kerjasama antar bangsa di Sunda Kelapa

Kerjasama dalam bidang perniagaan yang terjadi dahulu di Sunda Kelapa, ternyata tidak hanya didasari oleh motif ekonomi saja. Melainkan juga oleh motif lainnya seperti agama. Hal itu yang dapat ditelusuri dari datangnya banyak saudagar Arab ke nusantara, khususnya ke Sunda Kelapa.

Selain datang untuk berniaga, mereka juga membawa misi khusus untuk mensyiarkan suatu agama. Melalui media perniagaan, mereka menyampaikan nilai-nilai kebaikan suatu agama. Sehingga akhirnya ada respon balik dari masyarakat pribumi untuk lebih mengenal ajaran agama baru yang dikenalkan oeh mereka.

Adanya kontak dengan bangsa Asing, seperti Arab, Persia, maupun Cina lambat laun menimbulkan terjadinya difusi budaya. Salah satu bentuknya melalui perkawinan lintas bangsa. Hasil perkawinan tersebut menghasilkan generasi baru dengan budaya baru pula. Sehingga menambah keanekaragaman budaya maupun suku bangsa di Sunda Kelapa.[19]

Jika dahulu sebelum adanya kontak dengan bangsa lain, masyarakat Sunda Kelapa beretnis Sunda atau Jawa. Maka setelah adanya asimilasi, terjadi kemajemukan suku bangsa. Jika dahulu masyarakat Sunda Kelapa di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Padjajaran menganut ajaran Hindu-Budha. Kemudian setelah adanya akulturasi dengan bangsa Arab maupun Cina menambah keragaman agama.

(bersambung)


[18] Jakarta atau dikenal dahulu dengan Sunda Kelapa, dengan kondisi geografis lautan yang lebih luas dari daratan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar, yakni berupa sumber daya mineral dan hasil laut.

(http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/tentang-jakarta/sumber-kekayaan-alam)

[19] Keanekaragaman ditambah dengan pengaruh bangsa asing melahirkan keanekaragaman corak seni dan budaya. Beberapa lamanya daerah ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai bangsa dan suku suku bangsa dan bermacam-macam adat istiadat, bahasa dan budaya daerah masing-masing. Berbaurnya suku-suku bangsa dari seluruh tanah air dengan bangsa lain seperti Cina, Arab, Turki, Persia, Inggris dan Belanda mengakibatkan terjadinya perkawinan di antara mereka, sehingga terjadilah perpaduan adat istiadat, budaya dan falsafah hidup hingga melahirkan corak budaya dan tata cara yang baru.

(http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/375-budaya)

Mengenal Jakarta(3)

Pemerintahan Belanda di Batavia berlangsung sekitar tiga setengah abad lamanya. Terhitung dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, berbarengan dengan kian panasnya pergolakan politik antar negara-negara di dunia. Berakhirnya pemerintahan Belanda tersebut dikarenakan perebutan kekuasaan secara paksa. Yaitu oleh bangsa Jepang dari timur Asia.

Keberhasilan Jepang mengambil alih kekuasaan di Batavia pun tidak datang dengan sendirinya. Selain factor militer, keberhasilan pasukan Jepang (Dai Nippon) dikarenakan juga factor budaya. Yaitu dengan adanya budaya atau mitos yang berkembang di nusantara. Mengenai konsep “akan hadirnya Ratu Adil” di nusantara yang akan membawa rakyat Indonesia merdeka.

Dalam mitos tersebut diterangkan bahwa akan datangnya Ratu Adil yang bercirikan fisik berkulit kuning dan berasal dari benua yang sama, yaitu Asia. Dan ciri fisik itu akhirnya menjurus pada bangsa Jepang yang kala itu memang tengah berjaya. Dengan militer yang kuat dari berbagai armada, baik itu darat, laut, maupun udara.

Berakhirnya sepenggal cerita mengenai sebuah nama; Stad Batavia

Masa pendudukan Jepang dimulai pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua.[15] Sejak saat itu bangsa Jepang-lah yang memerintah di Kota Batavia. Dengan otoritas yang dimilikinya, Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.[16] Namun lebih terdengar familiar di telinga rakyat pribumi dengan nama Jakarta.

Pergantian nama tersebut dikarenakan Jepang ingin mengapus unsur-unsur yang berbau Belanda. Dan juga karena factor ejaan Jakarta yang sesuai dengan bahasa Sansekerta. Sehingga mempermudah rakyat pribumi untuk melafazkannya.

Pemerintahan Jepang di Jakarta tidaklah berlangsung lama. Hal tersebut dikarenakan adanya pergolakan politik, baik dalam maupun luar negeri Pemerintahan Jepang. Terutama dalam politik luar negeri, Jepang kala itu tengah menghadapi perang yang berkecamuk di dunia. Yang di kenal dengan perang dunia kedua.

Untuk menghadapi perang dunia kedua, mau tak mau Jepang mengerahkan semua bala tentara. Termasuk merekrut orang pribumi untuk dilatih menjadi seorang prajurit dan ksatria. Maka didirikanlah organisasi kepatriotan yang bertujuan membela tanah air, dengan nama PETA.

Pada masa krusial itulah terjalin suatu kerjasama. Antara pemerintah Jepang dengan rakyat Indonesia. Jika rakyat Indonesia mau membantu pasukan Jepang menghadapi tentara sekutu yang memeranginya. Maka Jepang akan memberikan imbalan kepada bangsa Indonesia berupa negara yang merdeka.

Disahkannya nama Jakarta oleh pemerintahan bangsa sendiri pasca Indonesia merdeka.

Akhirnya harapan yang dinanti pun tercipta. Tanah air yang merdeka terdeklarasi pula pada tahun empat lima. Deklarasi itu dibacakan oleh duet pahlawan nasional, Soekarno dan Hatta. Pembacaan deklarasi kemerdekaan tersebut bertempat di bilangan Menteng, Jakarta.

Beberapa hari kemudian pasca deklarasi kemerdekaan terjadilah sebuah gerakan besar massa. Yang terjadi pula di sebuah lapangan di pusat kota Jakarta. Tujuan gerakan massa tersebut tak lain adalah untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Pada September 1945, untuk pertama kalinya di bawah pemerintahan bangsa sendiri, nama Jakarta pun disahkan dengan nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.[17] Hingga saat ini nama Jakarta menjadi nama resmi bagi Ibukota Negara.

(bersambung)


[15] Ibid., http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[16] Op. Cit., http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[17] Ibid.,

Mengenal Jakarta(2)

Peralihan kekuasaan dari Bangsa Portugis ke Kerajaan Demak di Jawa

Perjanjian yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda Padjajaran dengan Bangsa Portugis, dianggap oleh Kerajaan Islam Demak sebagai sebuah propaganda. Dan dinilai sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi mereka. Sehingga Kerajaan Demak di Jawa mentitahkan Fatahillah[5] untuk mengusir Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa sekaligus menguasainya.

Pada tanggal 22 Juni 1527[6], pasukan gabungan Kerajaan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) berhasil merebut dan mengusai Sunda Kelapa. Kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Nama itu di ambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kota kemenangan, atau secara etimologisnya mengandung arti kemenangan yang diraih oleh sebuah usaha.[7]

Datangnya masa kolonialisme modern dibawah kekuasaan Belanda

Usia kota kemenangan, Jayakarta tidaklah berlangsung lama. Hal itu ditengarai akibat adanya ekspansi dari kolonialis modern asing di kawasan nusantara. Bermula dengan berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda yang berlatar belakang ekonomi dan bertujuan untuk berniaga. Namun lambat laun, VOC justru menjadi kekuatan politik besar sehingga membutuhkan sokongan militer yang kuat pula.

Maka pada tanggal 30 Mei 1619,[8] akhirnya Jayakarta berhasil direbut oleh pasukan Belanda dari kekuasaan Kerajaan Demak yang sedang mengalami fragmentasi didalamnya. Pasukan Belanda tersebut di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen sebagai panglima. Di bawah pimpinannya, pasukan Belanda tidak hanya menguasai melainkan pula memusnahkan Kota Jayakarta.

Di atas puing-puing Kota Jayakarta lama, Jan Pieterszoon Coen mendirikan sebuah kota baru yang dinamai Nieuw Hoorn (Hoorn Baru), sesuai dengan kota asalnya Hoorn di Belanda.[9] Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada tanggal 4 Maret 1621 oleh kolonialis Belanda untuk pertama kali dibentuklah pemerintah kota bernama Stad Batavia.[10]

Batavia di bawah pemerintah kota kolonialis Belanda

Batavia, dibawah pemerintahan Belanda menjadi sebuah kota yang tertata baik dan terencana. Pembangunan pun terjadi dimana-mana. Yang paling terasa adalah dengan adanya pembangunan kanal di pelabuhan Sunda Kelapa. Dari mulanya kanal tersebut hanya sepanjang 810 meter, namun berkat pembangunan diperbesar menjadi 1.825 meter sekitar dua kali lipatnya.[11]

Tidak hanya itu, pada abad ke-19 di Batavia dibangunlah pelabuhan Tanjung Priok yang berjarak sekitar 15 km ke arah timur dari Sunda Kelapa. Tujuan dibangunnya pelabuhan lain selain Sunda Kelapa adalah untuk menyaingi Singapura yang kala itu menjadi rival Batavia. Mengingat kala itu tengah terjadi modernisasi di seluruh belahan dunia. Dikarenakan telah dibukannya Terusan Suez pada tahun 1869 sebagai jalur pelayaran utama.[12] Dan Batavia memiliki letak yang strategis sebagai bagian dari jalur sutra di kawasan Asia Tenggara.

Selain dari pembangunan pelabuhan, pada tahun 1869 dibangunlah moda transportasi sederhana. Yaitu trem berkuda yang ditarik empat ekor kuda, yang diberi besi di bagian mulutnya.[13] Pada tahun 1873 di Batavia pun di bangun jalur kereta api pertama.[14] Jalur kereta api tersebut menghubungkan kota Batavia dengan Buitenzorg (Bogor) yang berada di selatannya.

(bersambung)


[5] Sebutan “Fatahillah” masih menuai beragam teori, ada yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah nama seorang panglima perang Kerajaan Demak. Dinamai Fatahillah karena dinilai berjasa dalam menguasai Sunda Kelapa, dan merupakan sebuah “gelar” baginya. “Fatahillah” berasal dari bahasa Arab. Menurut bahasa “fatah” berarti “pembuka” atau “penakluk”. Sedangkan menurut epistemologinya mengandung arti “kemenangan atas karunia Allah”.

Sedangkan ada teori lain yang menyebutkan bahwa, Fatahillah adalah gelar atau nama lain dari Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Gunung Jati Cirebon. Teori ini didukung dengan adanya sejarah yang mengisahkan bahwa dalam penyerangan ke Sunda Kelapa, pasukan Demak bergabung dengan pasukan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah atau Sunan Gunung Jati.(Fly)

[6] Peristiwa penaklukkan Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1527 itulah yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[7] Ibid.,

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Op.,Cit. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[11] Op.,Cit. http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14]Ibid.,

Mengenal Jakarta(1)

22 Juni merupakan hari jadi Kota Jakarta. Tanggal tersebut diambil dari peristiwa sejarah yang melatarinya. Seperti yang telah diketahui, Kota Jakarta pun pernah mengalami beberapa kali perubahan nama. Sebalum akhirnya nama Jakarta ditetapkan pada tahun 1956 melalui keputusan DPR Kota Sementara.[i]

Menapaki sejarah Kota Jakarta dari Pelabuhan Sunda Kelapa

Seperti yang telah disinggung diatas, Kota Jakarta sempat beberapa kali mengalami perubahan nama. Hal tersebut tak terlepas dari rezim yang menguasainya. Dan sejarah mengenai nama tersebut bermula dari masa Hindu-Budha. Yaitu di masa Kerajaan Padjajaran atau Kerajaan Sunda.[ii]

Pada masa tersebut belumlah dikenal nama Jakarta. Melainkan sebuah nama untuk menyebut suatu pelabuhan di utara, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak hanya di nusantara, nama pelabuhan tersebut telah mashur terdengar di mana-mana. Bahkan ke penjuru dunia, hingga ke tanah Eropa.

Hal itulah yang melatari datangnya berbagai pedagang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka berasal dari beragam suku bangsa. Mulai dari bangsa Arab, Persia, dan Tionghia dari benua Asia. Hingga bangsa Portugis dan Belanda dari Eropa. Mereka bertumpah ruah disana. Mulai dari melakukan transaksi bisnis sampai menyiarkan suatu ajaran agama.

Namun yang paling fenomenal adalah adanya muatan politis dalam kunjungan mereka ke Sunda Kelapa. Seperti yang dilakukan oleh bangsa Portugis ketika datang ke sana. Bangsa Portugis, yang kala itu telah menguasai wilayah Malaka, pada mulanya datang memenuhi undangan Kerajaan Sunda.[iii] Yaitu untuk membangun benteng pertahanan bagi Sunda Kelapa dari ancaman Kerajaan Demak yang ingin menguasainya.

Sebagai balas budi kepada Bangsa Portugis, Kerajaan sunda memberikan seribu keranjang rempah-rempah berupa lada. Namun tidak hanya itu, pada tahun 1522, mereka pun melakukan suatu perjanjian kerjasama. Salah satunya adalah diperkenankannya Bangsa Portugis mendirikan loji atau perkantoran serta perumahan di Sunda Kelapa.[iv]

(bersambung)


[i] http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[ii] http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[iii] Ibid.,

[iv] Ibid., (Tambahan) Peninggalan sejarah seperti perumahan maupun keturunan mereka hingga kini masih terjaga. Yaitu komunitas yang dikenal sekarang dengan Kampung Tugu di Jakarta Utara.

Tiga tradisi, dua religi, satu illahi

“Tiga hati, dua dunia, satu cinta”, sebuah judul film yang akan dirilis bulan depan ini tampaknya menarik untuk diikuti. Hal tersebut tak lain karena pesan yang dibawa dalam film tersebut sesuai dengan konteks keindonesiaan yang multikultural, seperti religi dan tradisi. Di tambah lagi dengan adanya dinamika dalam kemultikulturan yang sering dijumpai.

Penggambaran kemultikulturan dalam film tersebut menunjukkan kelebihan yang dimiliki. Karena pasti akan mengangkat beragam konflik yang terjadi. Konflik tersebut tentu tak terjadi dengan sendiri. Akibat adanya kemultikulturan, misalnya dalam tradisi pasti akan menyebabkan terjadinya kesalahpahaman karena minimnya sikap saling mengerti.

Seperti yang digambarkan dalam film tersebut, dimana dua tradisi yang berbeda “bersinggungan” antara gadis keturunan Chinesse dengan pemuda Betawi asli. Namun persinggungan antara keduannya tak begitu saja menyebabkan asimilasi. Justru menyebabkan terjadinya pertentangan akibat kepatuhan pada patron tradisi yang dimiliki.

Pertentangan tersebut bukan semata karena faktor tradisi. Tetapi juga karena unsur lain yang memiliki dominasi, yaitu religi. Bila diamati, pelaksana tradisi Tionghoa erat ber”koalisi” dengan religi nasrani. Sedangkan bagi pemegang adat Betawi justru ber”oposisi” dan lebih memilih menggiati prilaku-prilaku islami.

Perbedaan itu yang mencuatkan pertentangan diantara keduanya sehingga sulit untuk berdifusi. Padahal jika mau meruntut lebih jauh, perbedaan tradisi maupun religi tersebut hanyalah sebatas ranah materi. Tradisi merupakan bentuk implementasi. Demikian pula dengan religi yang merupakan bagian dari aplikasi. Sedangkan yang esensi ada dalam imateri, seperti hati ataupun illlahi.

Hal itulah yang ingin disampaikan melalui film ini. Konflik yang digambarkan pun merupakan sebuah refleksi dari kehidupan yang nisbi. Namun konflik tersebut tak mungkin dapat dipungkiri, justru harus dijalani sebagai cobaan untuk menyatukan hati. Dan “satu cinta” itulah yang sesungguhnya hakiki, terlepas dari perbedaan tradisi maupun religi.

(sampahfly041/21/06/2010)

Memahami selebriti yang melakoni

Masih seputar kisruh pornografi dalam ranah dunia selebriti. Setelah sekian lama masyarakat dibaluti polemik antar opini. Kini seakan menemui titik terang seiring berjalannya proses hukum, baik itu formal maupun informal yang berlaku didalam negeri.

Proses hukum yang tengah berjalan saat ini memang memiliki andil yang signifikan dalam meredam gejolak hujatan maupun diskriminasi. Seperti yang dialami oleh para selebriti yang ditengarai memerani prilaku pornoaksi. Baik itu di pihak si wanita maupun bagi sang lelaki.

Hujatan yang di terima mereka merupakan bentuk diskriminasi. Bagaimana tidak, akibat prilaku tadi mereka di cekal seantero negeri. Lahan pekerjaan yang sebelumnya ditekuni terancam terhenti. Hal itu mengindikasikan tertutupnya pintu rezeki.

Tidak hanya masalah tertutupnya pintu rezeki. Pencekalan yang dilakukan oleh massa hingga pemda, seakan menambah derita baik jasmani maupun rohani. Terlebih berbagai ormas berlatar religi dengan dalil sebagai legitimasi memvonis para pelaku mesum tadi.

Proses hukum informal tersebut yang selama ini menghujam Ariel, Luna, dan Cut Tari. Mereka bertiga kini seakan menjadi orang-orang yang hina karena layak dicaci. Padahal proses hukum formal belumlah memvonis siapa pihak yang bertanggung jawab atas kekisruhan ini.

Untuk itu biarlah pihak yang berwenang memproses dan menegakkan hukum formal yang berlaku di negera ini. Agar permasalahan yang berkepanjangan ini berakhir dan menjadi pembelajaran dalam proses pendewasaan bagi anak negeri. Sehingga kian terbuka dalam menghadapi polemik seperti ini, supaya tidak lagi berlarut-larut jika terjadi kembali.

(sampahfly040/20/06/2010)