Yoga ala Anand Krisna

Spiritualisme, menjadi tema yang selalu hangat diperbincangkan di antara kita. Tema tersebut bersifat universal melampaui perbedaaan kepercayaan maupun paham agama. Karena spiritualisme sejatinya adalah kodrat Sang Pencipta kepada insan manusia. Dan tak dapat dipisahkan dalam kehidupan yang nyata.

Dalam diskursus ini, spiritualisme dibahas dalam bingkai dialektika. Khususnya dalam ranah agama maupun budaya. Karena sifatnya melebihi segala benda. Melintasi batas dimensi material dunia. Melebihi kepuasan biologis dan hasrat akan harta. Sehingga penilaian terhadap kepuasan spiritualisme berada pada puncak tertinggi dalam beragama. Baik itu yang kerap disebut dengan tahap pencapaian ma’rifatubillah, manunggaling kawula Gusti, wahdah al-wujud, atau ana al-Haq, yang mengklaim sebagai pelepasan dir terhadap hal yang fana. Hingga pencapaian moksa maupun prilaku asketik terhadap dunia dalam tradisi gereja.

Berharganya aspek spiritualisme dalam menyikapi evolusi manusia maupun masa

Begitu pentingnya aspek spiritual dalam diri setiap manusia. Sehingga meposisikanya sebagai suatu kebutuhan fundamen yang harus selalu dipenuhi oleh kita. Apalagi dalam konteks kehidupan postmodernisme sekarang, yang menafikan ketentraman jiwa. Lantaran hanya mengejar tuntutan zaman maupun biologis saja.

Hal itu yang menjadikan manusia modern saat ini seakan kehilangan arah; hendak kemana dia? Walaupun banyak dari mereka yang mengaku menganut suatu ajaran agama. Namun ternyata tak mendalami sepenuhnya. Seperti sebatas memenuhi perintah-Nya saja dengan menjalankan berbagai ritual, tanpa memahami sebuah makna. Padahal jika direnungkan, ritual itu merupakan salah satu mediasi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Selain itu juga alasan lain menganut agama, mungkin hanya untuk melengkapi syarat identitas diri sebagai warga negara.*

Kekosongan jiwa yang dialami manusia modern seperti kasus diatas, menyebabkan mereka tergiring ke dalam hidup yang hampa. Seakan merasa teralienasikan dalam kehidupan di dunia. Karena merasa terbebani dengan kondisi dan suasana. Sehingga menumbuhkan motivasi untuk keluar dari kehampaan yang menyiksa. Mencari berbagai metode atau solusi untuk mengatasinya. Dan ternyata salah satu metode mengatasinya, seperti yang ditawarkan oleh seorang spiritualis, Anand Krisna.

Metode rehabilitasi spiritual yang ditawarkan oleh Anand Krisna begitu banyak menarik minat warga, baik domestic maupun mancanegara. Hal tersebut tidak hanya karena ajaran spiritualnya. Namun juga karena figur pribadinya yang toleran dan terbuka. Dengan memandang semua manusia sama. Sehingga tidak melihat seseorang dari latarnya. Baik itu dari segi agama, suku bangsa maupun usia.

Karena sikap keterbukaannya tersebut maka tak heran banyak orang yang menaruh simpati untuk mengikuti ajarannya. Ajaran yang memuat metode untuk memenuhi hasrat jiwa manusia. Yaitu berupa metode dalam merehabilitasi jiwa-jiwa yang hampa. Baik itu karena perubahan dunia yang telah menggila. Ataupun pemenuhan dalam rangka menyejukkan rohani dalam beragama. Metode rehabilitasi yang ditawarkan olehnya, yaitu meditasi ala India yang dikenal dengan istilah yoga.

**bersambung

Iklan

Kasus pajak yang digelapkan; momentum untuk menjernihkan kembali nama baik orang-perorang maupun golongan

Jika kemarin drama century telah berakhir walau masih menyisakan banyak pertanyaan. Namun tak mengurangi semangat dalam menegakkan hukum di seluruh lapisan. Baik dari tingkat aparat pemerintahan hingga aparat ketertiban lingkungan. Hal itulah yang menandakan adanya kepedulian di seluruh kalangan dalam pemberantasan mafia peradilan maupun pelaku pelanggaran.

Setelah kasus century kemarin yang telah menyeret keterlibatan beberapa nama orang- perorang maupun golongan. Pada kasus pajak yang digelapkan inipun masih menyeret berbagai nama, yang justru masih menjabat dalam pemerintahan. Namun sepertinya kasus ini seakan telah dikondisikan. Lantaran nama yang terlibat, merupakan “pemain” lama dalam kasus sebelumnya yang sangat menarik perhatian.

Kasus ini memang tak kalah dibandingkan sebelumnya, bahkan dapat dinilai sepadan. Dan sampai menyita waktu masyarakat untuk meyaksikan. Karena dinilai menarik, lantaran berbagai nama yang ditengarai bertanggung jawab pada kasus sebelumnya, kembali ikut memeriahkan. Jadi seperti pendangan diatas bahwa pengangkatan kasus ini ke permukaan, mengandung unsur “pesan” dan “titipan”. Misalnya dimanfaatkan dalam rangka mengklarifikasi, atau mengalihkan, atau juga menuntaskan dendam yang hendak dibalaskan.

Pesan dalam rangka klarifikasi nama orang-perorang atau golongan yang telah disudutkan

Jika pada kasus sebelumnya, beberapa nama telah terlanjur disebutkan. Apalagi jika diduga sebagai pihak yang memiliki keterlibatan. Secara otomatis telah mencoreng nama baiknya diberbagai kalangan. Dan akan menjatuhkan kredibilitas ataupun citranya yang selama ini telah diperjuangkan. Sehingga menjadikannya sebagai pihak yang disudutkan.

Karena alasan tersebut, maka digelontorkanlah kasus ini sebagai pembandingan. Dalam rangka menjernihkan kembali namanya yang telah didakwakan. Dengan begitu diharapkan akan timbulnya antitesis, dari tesis awal “dugaan keterlibatan” menjadi seorang pahlawan. Mana untuk itulah kasus ini diangkat dengan tujuan menarik perhatian dan menormalisasikan keadaan. Sehingga pandangan-pandangan yang tadinya seakan menyudutkan, diputarbalikkan agar menjadi sebuah dukungan.

Mengalihkan kasus sebelumnya dari perhatian

Kasus yang sedang menjadi fokus utama diberbagai media belakangan ini, tampaknya tak sekedar kasus biasa yang begitu saja mencuat ke permukaan. Apalagi sampai menjadi kasus utama yang selalu menjadi perbincangan. Tampaknya seperti sebuah skenerio yang sedang dimainkan. Karena munculnya kasus ini seakan telah menjadi bagian dari sebuah rangkaian. Yang dimulai dengan mencuatnya kasus “cicak melawan buaya”, terus meletusnya skandal century hingga ramainya berita dalam pemberantasan mafia peradilan.

Oleh sebab itu, kasus ini diduga merupakan suatu tindakan dalam rangka pengalihan. Yaitu mengalihkan perhatian masyarakat maupun aparat pada kasus sebelumnya yang sudah lebih dahulu berjalan. Sehingga penanganan kasus sebelumnya menjadi lamban. Yang terbukti dengan barjalanya proses hukum yang lamban. Sehingga membuat garah berbagai kalangan. Terutama bagi mereka para anggota dewan. Mereka bahkan berencana untuk menggunakan hak konstitusionalnya dalam rangka tindakan percepatan.

Menuntaskan dendam yang ingin dibalaskan

Jika kecurigaan atau kemungkinan diatas merupakan sebuah fakta, dalam rangka klarifikasi ataupun sebagai bentuk pengalihan. Maka motif dari tindakan tersebut bisa disebabkan oleh adanya kekecewaan. Kecewa terhadap orang atau golongan yang telah menguakkan aibnya kepada orang kebanyakan.

Atau motif lainnya memang berdasar pada pengungkapan suatu kebenaran. Yang berakibat timbulnya kekecewaan dalam diri orang yang melakukan kesalahan. Tidak hanya karena skandalnya yang dibongkar kepada khalayak ramai, namun bisa karena merasa dirinya dijerumuskan. Dan tidak tanggung pula penjerumusan terhadap dirinya hingga ke ruang tahanan.

Akibat dari sikap kecewanya tersebut, maka diambillah suatu tindakan sebagai bentuk pembalasan. Seperti halnya dengan menggulirkan suatu kasus ini sebagai tandingan. Tak lain untuk menyerang mereka yang dianggap sebagai “lawan”. Seperti yang tengah kita saksikan, dimana seseorang yang didalam kasus sebelumnya berperan sebagai seorang “pesakitan”. Namun dalam kasus ini bak seorang pahlawan.***

Nah, beginilah kondisi negeri kita sekarang, dimana para elit pemerintahan saling mengkambinghitamkan. Entah siapa diantara para aktor tersebut yang berkata sesuai keadaan. Karena mereka semua berdalih berkata jujur tidak dilebihkan. Apalagi saling mengklaim dalam menegakkan kebenaran. Namun hal itu tampak begitu sulit untuk dibuktikan. Dan tinggallah kita masyarakat awam yang dibingungkan. Karena mengalami kebimbangan dalam menggantungkan harapan. Agar kehidupan menjadi lebih baik di masa depan. Mengingat kesejahteraan kita saat ini yang belum mengalami peningkatan.

(sampahfly029/08/04/2010)