Memaknai kekudusan dalam tragedi penyaliban

Kisah seorang pembawa pesan kedamaian yang begitu dramatik, tatkala dia harus menebus kesalahan umat manusia dengan mengorbankan dirinya di tiang penyalib  an, sungguh mengandung nilai kesucian. Terutama bagi para pengikutnya, ketika masa itu di Tanah Kanaan hingga sekarang maupun akhir zaman. Tokoh yang disalib itu adalah Isa putra Maryam, sang juru selamat kehidupan.

Menapak tilasi keadaan sosio-kultural pra-penyaliban

Berbagai makna sesungguhnya terkandung dalam tragedi penyaliban. Bagaimana seorang Isa putra Maryam rela mengorbankan nyawanya demi suatu agenda penyelamatan. Yaitu secara umum dengan menyelamatkan umat manusia keseluruhan. Namun lebih spesifik dalam konteks masa terjadinya penyaliban itu, adalah menyelamatkan nyawa bangsa Yahudi dan umatnya dari tindak kekejaman. Kekejaman yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi yang tiran dalam pendudukan Kota Yerusalem dan Tanah Kanaan.

Pendudukan tersebut dikarenakan Yerusalem kala itu telah menjadi lahan perebutan kekuasaan. Lantaran lokasinya yang strategis dalam jalur perdagangan. Sehingga pendudukan atas Yerusalem menjadi suatu kemutlakan. Dengan demikian, maka segala bentuk ajaran yang disinyalir dapat mengganggu hegemoni Kekaisaran Romawi di Tanah Kanaan harus ditekan. Bahkan kalau bias diberanguskan, agar tak tersisa ajaran sempalan yang nantinya dapat membahayakan.

Atas dasar demikian, maka pemerintah yang berkuasa kala itu menindak Isa putra Maryam dengan ajarannya mengenai kedamaian serta kebijakan. Karena ditengarai oleh mereka dapat menumbuhkan benih-benih patriotisme di kalangan para militant. Sehingga dapat memicu meletusnya api pemberontakan. Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Karena ajaran yang dibawanya lambat laun memperoleh banyak dukungan dari para simpatisan. Terutama di kalangan Bangsa Yahudi yang merupakan satu keturunan.

Ditambah lagi dalam keyakinan mereka (bangsa Yahudi) terdapat kepercayaan akan datangnya “sang juru selamat” yang membawa mereka keluar dari penindasan. Dan juga membawa mereka pada suatu kemerdekaan. Apalagi Isa putra Maryam digadang-gadang oleh mereka sebagai prototipe raja yang ideal dalam menciptakan kemaslahatan. Yang kelak akan menjadi raja yang bijaksana dari segi kepemimpinan.

Alasan mengorbankan sang juru selamat keatas bukit penyaliban

Kekhawatiran yang berlebihan tersebut yang pada akhirnya menjadi kebijakan yang diambil oleh Pilatus, penguasa Yerusalem kala itu, untuk mengambil suatu tindakan. Yaitu dengan menangkap Isa putra Maryam dan menjebloskannya ke dalam tahanan. Dengan begitu menurutnya, benih-benih pemberontakan dapat diminimalisir dan memberi shock terapy bagi rakyat kebanyakan.

Namun kekhawatirannya tak lantas hilang begitu saja, lantaran dia tak dapat memenjarakan Isa putra Maryam tanpa suatu alasan. Alih-alih untuk memberi suatu penjelasan. Maka cara lain pun harus ditempuh agar legitimasi penangkapannya menjadi jelas yaitu dengan dikenai pasal penistaan terhadap ajaran. Sehingga pengadilan terhadapnya pun harus diserahkan kepada mereka (bangsa Yahudi) sendiri yang memeluk suatu ajaran kepercayaan. Dengan begitu, Pilatus atas nama kekaisaran lepas tangan. Dan menyerahkan proses hukumnya kepada rakyat kebanyakan.

Dengan mempertimbangkan konstelasi politik yang ketika itu tengah memanas karena adanya benih pemberontakan. Dan juga menimbang akan utamanya kemaslahatan. Maka mereka (bangsa Yahudi) mengambil suatu keputusan dengan mengadili Isa putra Maryam melalui proses penyaliban. Agar stabilitas politik dan kemasyarakatan kambali terkendali dan aman.

Dengan pertimbangan demikian, maka secara lansung mereka memiliki andil dalam menormalisasi keadaan. Sehingga konstelasi politik yang sebelumnya sempat memanas dapat kembali didinginkan. Dan ketakutan akan meletusnya pemberontakan yang mengakibatkan pertumpahan darah dapat terelakkan.

Maka proses penyaliban terhadap Isa putra Maryam pun segera dilaksanakan. Dengan terlebih dahulu dilakukan eksekusi terhadapnya berupa cambukan. Baik cambukan yang dilakukan di halaman istana kekaisaran. Maupun cambukan ketika Isa putra Maryam melakukan perjalanan dari ruang tahanan hingga sesampainya di bukit penyaliban.

Makna tragedi penyaliban bagi umat manusia keseluruhan

Perlakuan kekerasan berupa cambukan yang menimpa Isa putra Maryam tak menyurutkannya dalam menyikapi suatu keyakinan. Keyakinan terhadap ajaran kedamaian yang dirisalahkan kepadanya melalui kasih Tuhan. Baginya, cambukan bertubi-tubi yang dihujamkan oleh para algojo istana kepadanya, hanyalah segelintir perih di dunia dan tak sebanding dengan kenikmatan yang dijanjikan Tuhan di akhir zaman. Karena baginya pula, dunia ini hanyalah seponggah derita dan menilai harta tidak sebagai suatu kekayaan. Kekayaan di dunia baginya justru adalah kedamaian dan kemerdekaan.

Oleh karena itu, diutuslah dia ke dunia oleh Tuhan melalui rahim sang perawan. Dengan tujuan membawa pesan damai dan menjunjung tinggi kasih Tuhan. Melalui rahim (ar-rahim, bahasa Arab yang berarti kasih/pengasih) seorang perawan yang terjaga kesuciannya, Tuhan meniupkan roh kudus untuk membuktikan kekuasaan. Sehingga kelahiran Isa putra Maryam tersebut menyiratkan pula pesan kekuasaan dan kesucian Tuhan.

Hingga menjelang proses penyalibannya tersebut, Tuhan pun masih menunjukkan kesucian dan kekuasaan. Dengan menunjukkan keteguhan hati seorang Isa putra Maryam dalam memandang suatu kebenaran. Rasa sakit yang dideritanya akibat cambukan tak menjadi sebuah hambatan. Melainkan menjadi suatu kenikmatan dan kebahagian. Kebahagiaan itu yang dirasanya, walau tidak demikian penilaian orang kebanyakan. Karena dia telah melampaui batas manusia biasa dalam aspek mencintai Tuhan.

Jangankan Isa putra Maryam, seorang istimewa yang tengah merasakan cinta terhadap Tuhan yang berlebihan. Manusia biasa saja dapat merasa mabuk kepayang ketika merasakan jatuh cinta dengan sesama insan. Bahkan dapat membawanya pula larut dalam suatu kebahagiaan yang berlebihan. Namun menurut orang lain yang tidak merasakan deikian akan menganggapnya sebagai suatu kegilaan. Hal tersebut yang terjadi dalam kasus Isa putra Maryam yang tengan mengalami kegilaan sehingga menafikan segala rasa sakit akibat cambukan maupun penyaliban.

Karena kegilaannya dalam mencintai Tuhan. Maka dengan kasih-Nya, Tuhan pun lantas mengangkatnya ke dalam surga keabadian. Disana dia akan menemukan kedamaian abadi yang semasa hidupnya diperjuangkan. Hal tersebut merupakan bentuk dari ganjaran dan penghargaan terhadapnya dalam hal pengabdian. Dan kelak kasih Tuhan pun selalu memberkati umat manusia yang beriman.

(sampafly028/05/04/2010)

Iklan

Pertikaian antar geng; sebuah contoh perebutan kekuasaan baik dalam konteks premanisme jalanan maupun provesionalisme “negarawan”

Pertikaian antar geng yang mengakibatkan meninggalnya seseorang diantara mereka terjadi pada dini hari minggu kemarin di bilangan Jakarta Selatan. Pertikaian tersebut disinyalir buntut dari perebutan daerah kekuasaan. Dan seperti telah menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka akan penguasaan suatu lahan. Walaupun cara penguasaan harus dilalui dengan tindak kekerasan. Yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban. Tetapi tak menjadikan hal itu sebagai sebuah persoalan.

Melihat realita diatas, tampaknya keberadaan “geng” dalam masyarakat menjadi suatu kenyataan yang tak dapat terelakkan. Kerena dinilai telah menjadi suatu kebutuhan bagi segelintir kalangan. Baik itu kebutuhan akan pemenuhan hajat kehidupan. Maupun kebutuhan yang berdasar pada hasrat kekuasaan. Entah itu kekuasaan dalam konteks premanisme jalanan ataupun provesionalisme sang “negarawan”.

Menarik jika mencermati kenyataan yang demikian. Kerena keberadaan atau eksistensi suatu kelompok massa tak mungkin tanpa alasan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, mungkin karena alasan pemenuhan kebutuhan maupun hasrat kekuasaan. Namun itu bukanlah semata alasan untuk bertindak dengan kekerasan.

Walau tak dapat dipungkiri bahwa cara-cara kekerasan telah lumrah menjadi suatu kebiasaan dalam konteks premanisme jalanan. Namun menjadi hal yang tak biasa jika cara-cara kekerasan itu merambah dunia provesionalisme sang negarawan. Apalagi bagi mereka para wakil rakyat yang duduk di gedung dewan. Seperti kejadian waktu itu yang disiarkan langsung oleh media kepada rakyat kebanyakan.

Tingkah-tingkah seperti memang kurang pantas dilakukan oleh para anggota dewan. Namun tak kuasa untuk mereka hindarkan. Lantaran hasrat kekuasaan dalam diri mereka begitu kuat dan belum dapat ditekan. Sehingga berkecamuk dalam diri dan meluap dalam bentuk tindakan yang kurang sopan.

Cara-cara “kekerasan” yang mereka (anggota dewan) tunjukkan, serupa dengan cara penyelesaian ala preman jalanan. Seperti kejadian yang telah dijelaskan. Itu mengindikasikan adanya persamaan diantara preman dengan seorang “negarawan”. Persamaan itu adalah dalam memandang hasrat kekuasaan sebagai suatu kepintingan bahkan kebutuhan. Sehingga perlu adanya suatu tindakan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

Persamaan pandangan tersebut yang pada akhirnya memotivasi mereka (preman dan negarawan) untuk berkolaborasi dalam meraih kekuasaan. Jika bagi seorang preman kekuasaan itu cukup dalam bentuk penguasaan suatu daerah atau kawasan. Lain bagi seorang “negarawan” yang memandang kekuasan lebih dari sekedar kawasan. Yaitu memandang kekuasaan dalam konteks pemerintahan maupun kebijakan.

Dengan adanya “kolaborasi” diantara mereka, maka semakin besar kekuatan. Dan semakin banyak peluang untuk memperoleh dan mempertahankan suatu kekuasaan. Sehingga akan menumbuhkan benih-benih sikap otoriter maupun arogan. Dan ketika sikap itu telah mengusai mereka, berbagai tindakan apapun akan dilakukan. Hal demikian yang pada akhirnya melegitimasikan tindakan kekerasan.

Pandangan saling membutuhkan diantara mereka yang kemudian menjadi hal yang sulit dipisahkan. Sehingga untuk memisahkan atau menindak salah satu diantaranya menjadi suatu kesulitan. Terutama bagi para aparat keamanan. Karena untuk menindak seorang atau sekelompok preman (geng) akan membutuhkan suatu kekuatan. Tidak hanya dari segi jumlah pasukan, tetapi juga elektabilitas hubungan.

Melihat keadaan yang demikian, maka menjadi hal rumit bagi pihak keamanan. Apalagi jika mereka memiliki obsesi menjaga ketertiban dengan menindak tegas preman. Tentu akan menjadi suatu tantangan. Karena bukan hanya preman yang harus mereka tindak tegas, namun juga “oknum” yang bermain dibelakang seolah seperti bayangan. Apalagi jika oknum tersebut merupakan seorang “negarawan”, atau bahkan seorang dari mereka yang haus akan kekuasaan.

(sampahfly027/05/04/2010)

Keislaman dalam Keseharian (jilid 3)

Seperti sebuah analogi sederhana pada uraian sebelumnya, Islam bukanlah sebagai suatu nilai semata. Melainkan suatu nilai yang terimplementasikan pada tindakan yang nyata. Tindakan itu berbentuk prilaku hidup keseharian manusia. Tidak hanya dilakukan oleh para penganutnya, tetapi juga oleh mereka yang berada diluarnya. Prilaku keislaman, seperti diuraikan sebelumnya, bukan pula sebagai suatu nilai yang mengangkasa melainkan mendunia. Sehingga tanpa terkecuali dilakukan baik oleh kita maupun mereka.

Berikut berbagai contoh prilaku keislaman yang sederhana dalam hidup keseharian yang nyata

Ada seorang anak yang hendak pergi ke sekolahnya. Kemudian dia memohon restu dengan mencium tangan kedua orang tuanya. Permohonan itu pun dibalas oleh kedua orang tuanya dengan memberkati sebuah doa. Kemudian pergilah dia dari rumah dengan menaiki kendaraan umum menuju sekolahnya.

Selama perjalanan di dalam kendaraan, ternyata dia melihat seorang jompo yang tampak tak kuasa. Entah karena terlalu tuanya atau penyakit yang dideritanya, dia pun merasa tak tega. Apalagi ketika milihat jompo tersebut tak mendapatkan tempat duduk lantaran penumpang yang memadatinya. Dia pun kontan mempersilahkan sang jompo itu untuk menempati kursi yang dudukinya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, dia kembali melihat seorang pengemis tua bertubuh lesuh dengan pakaian kusam yang dikenakannya. Hatinya pun terketuk untuk memberikan pengemis itu sebagian uang sakunya. Setelah memberikan sebagian uang sakunya pada pengemis itu, dia pun melanjutkan perjalanannya. Setibanya di halaman sekolah, dia melihat ada benda kecil tajam yang merintangi jalannya. Lalu dia mengambil benda tersebut dan membuangnya ke tempat yang aman agar terhindar dari para siswa.

Begitu hendak memasuki kelas, dia tak lupa mengucapkan salam seraya merekahkan senyuman kepada temannya. Temannya pun membalas salam dan juga menyapa. Maka terjadilah senda-gurau dan timbullah kehangatan diantara mereka para siswa. Hal itu menggambarkan betapa indahnya keislaman yang ada dalam dunia mereka.***

Betapa indah pesan kedamaian yang terkandung dalam keislaman seorang hamba. Seperti contoh yang diperankan oleh seorang anak diatas baik kepada orang tua maupun sesamanya. Bagaimana sikap dia dalam rutinitas kesehariannya yang ternyata sarat akan makna. Makna akan sebuah kedamaian yang termanifestasikan dalam kehidupan nyata.

Jadi, Islam dan keislaman bukanlah suatu yang mengangkasa. Yang hanya memuat pesan-pesan kedamaian di surga. Sehingga tanpa disadari telah memiliki andil dalam meninabobokan para umatnya. Dengan penanaman paradigma yang menilai kehidupan dunia ini bersifat nisbi dan sementara. Sehingga menafikan sikap berusaha untuk menggapai kebahagiaan di dunia. Paradigma tersebut yang kemudian membawa umat Islam dalam tidur berkepanjangan tanpa berusaha untuk meraih kebahagiaan di dunia. Dan telah terlena oleh janji-janji surga yang mengobral kemolekan tubuh sang bidadari maupun makanan-minuman yang berlimpah ruah yang bias dinikmati sesukanya. Padahal sejatinya surga tersebut adalah Dia, sang pemilik alam semesta. Tak ada yang lain kecuali Dia.

(sampahfly026/04/04/2010)