22 April diperingati agar bumi lestari

Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, seyogyanya menjadi momentum bagi kita semua dalam menjaga kelestarian planet bumi tercinta. Karena kelestarianya berperan besar bagi kelangsungan hidup kita semua. Tidak hanya khusus bagi umat manusia. Melainkan juga bagi makhluk hidup lainnya.

Bumi dengan segala isinya, merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Ekosistem yang terdapat didalamnya merupakan suatu bentuk keseimbangan. Jika terdapat ketimpangan dalam suatu ekosistem, maka kelangsungan makhluk hidup didalamnya pun berada dalam ancaman.

Seperti yang tengah kita rasakan saat ini. Terjadi perubahan iklim yang ekstrem dengan cuaca yang bervariasi setiap hari. Jika hari ini turun hujan, esok hal tersebut belum tentu kembali terjadi. Mungkin sebaliknya, cuaca akan panas dengan tingginya terik matahari. Padahal jika meruntut pada siklus musim tahunan, harusnya telah memasuki musim panas di seantero negeri ini.

Perubahan iklim yang ekstrem, harusnya disikapi dengan sigap oleh kita semua. Mengingat kita adalah mikrokosmos yang memiliki peran vital dalam keseimbangan alam raya. Maka dengan demikia kita harus memiliki rasa peduli. Yaitu dalam menjaga lingkungan hidup yang berperan dalam menentukan nasib kita sekarang hingga kedepannya.

Untuk itulah tujuan diperingatinya Hari Bumi yang diselenggarakan sejak era 70-an. Selain sebagai bentuk simbolisasi, ternyata momen Hari Bumi telah menjadi semacam peringatan. Yaitu untuk mengingatkan betapa penting dan berharganya lingkungan. Oleh karena itu sejak diperingatinya, beribu aktivis dan masyarakat berperan aktif dengan melakukan beragam kegiatan.

Mengingat penting dan berharganya planet bumi ini. Maka kita harus ikut berperan aktif menjaganya sebagai bentuk partisipasi. Walau dengan contoh tindakan yang sederhana, namun telah memiliki andil menjaga bumi agar lestari. Misalnya, contoh perbuatan menghemat listrik sebagai bentuk dari hemat energi. Jika energi dapat kita hemat maka akan menjaga kelangsungan bumi ini.

Nah, sekarang tinggal rasa peduli dalam diri yang akan mendorong kita untuk aktif menjaga bumi ini. Karena sekecil apapun perbuatan kita dalam rangka menjaga bumi, telah mengandung manfaat yang besar bagi semua dan pribadi.

(sampahfly033/24/04/2010)

Iklan

Duka Koja di Utara Ibukota

Tanjung Priok kembali berduka, kali ini menimpa Pelabuhan Peti Kemas Koja. Setelah dahulu sebuah tragedi kemanusiaan telah terjadi di sana. Di bawah rezim yang dinilai otoriter yaitu pada masa Orba. Kini kembali sebuah tragedi kemanusiaan pun menerpa. Yaitu tragedi pertikaian atau bentroknya aparat dengan warga. Tragedi yang menyisakan duka lara. Yang menuai derita nestapa. Baik bagi pihak aparat maupun warga. Dan banyak dari kedua belah pihak yang terluka. Bahkan hingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Sungguh mengenaskan jika mengingat pertikaian itu yang berlangsung dari pagi hingga senja. Yang akhirnya menyebabkan hilangnya beberapa nyawa. Padahal seyogyanya pertikaian tersebut dapat dicegah, jika kedua belah pihak memiliki sikap tenggang rasa. Yaitu dengan saling mengendalikan diri dan tidak terpancing oleh amarah semata. Agar terhindar dari pertikaian yang hanya akan meninggalkan prahara.

Bentrokkan warga akibat permasalahan lahan sengketa

Tragedi bentrokan antara aparat dengan warga yang terjadi ketika itu, sesungguhnya dipicu oleh permasalahan sebuah lahan sengketa. Sengketa yang berkepanjangan dan telah berlangsung lama. Hingga saat ini pun tak pernah menemui akhir cerita. Bahkan malah semakin menambah panjang rentetan kisahnya. Bahkan sengketa tersebut berawal dari masa kolonial Belanda, hingga masa Indonesia merdeka.

Permasalahan lahan tersebut semakin rumit, lantaran tidak hanya melibatkan dua pihak yang bersengketa. Antara perusahaan pemegang hak guna dengan ahli waris pemilik area. Namun telah menjadi permasalahan yang kompleks karena melibatkan berbagai kelompok massa.

Lahan sengketa  yang dinilai berharga

Permasalahan sengketa lahan kian meluas akibat adanya penilaian terhadap sesuatu yang “berharga” disana. Yaitu berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Seperti nilai historis yang terdapat didalamnya, karena terdapatnya “situs makam” seorang ulama. Dan  konon sang ulama itu hidup di masa kolonial Belanda. Dia memiliki andil yang besar dalam menyiarkan suatu agama. Terutama di wilayah utara Jakarta yang dahulu masih bernama Batavia. Ulama tersebut bernama Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad, yang area makamnya kini menjadi sengketa.

Tidak hanya nilai historis yang terkandung didalamnya. Yang telah menjadi sebuah legenda. Dan menjadi buah bibir secara turun-temurun di kalangan masyarakat ibukota. Namun terdapat nilai lain yang tak kalah pentingnya, seperti sosial-budaya.

Nilai sosial-budaya ini yang kental terkandung didalam lahan sengketa. Karena keberadaan situs makam di sana menggambarkan adanya nilai sejarah yang membudidaya. Dan telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat ibukota. Sehingga mereka berharap kepada penguasa daerah, dalam hal ini Pemda. Agar kawasan lahan tersebut dilestarikan dan dijaga. Bahkan mereka menuntut agar makam sang ulama dijadikan cagar budaya.

Selain kedua nilai diatas, ada hal lain justru lebih utama. Yaitu adanya nilai yang mengandung sistem kepercayaan ataupun agama. Karena di atas lahan tersebut terdapat bangunan makam seorang ulama yang dinilai memiliki karomah atau kesakralan yang tinggi oleh para warga. Sehingga dijadikan tempat mencari berkah dan untuk berdoa. Oleh karena itu mereka mati-matian menjaga keberadaan bangunan makam melalui berbagai cara.

***bersambung

Stigma dalam balutan busana

Tragedi pengeboman yang kerap terjadi, selalu menyisakan beribu duka dan berjuta kecewa. Tidak hanya menyelimuti mereka para korban yang menderita. Namun juga bagi segenap warga negara. Karena tragedi tersebut terjadi layaknya suatu bencana yang menimpa tanah air Indonesia. Dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Bahkan bagi mereka yang tak berdosa. Sehingga menggoreskan sebuah luka. Yang takkan pernah terlupa. Yaitu sebuah luka berupa trauma.

Ketraumaan kerap menyelimuti mereka para korban bencana. Dalam hal ini bagi mereka para korban peledakkan bom, yang kian sering terjadi pasca runtuhnya Orba. Dan berbarengan pula dengan berulirnya millennium ketiga. Semenjak itu teror bom kerap menimpa. Menyusul kian berhembus kencangnya angin propaganda. Yaitu propaganda berupa sentimen suku, agama, ras dan antar golongan yang dikenal dengan SARA.

Propaganda pemicu konflik bermuatan SARA

Sikap sentimen berbau SARA memang semakin kental dirasa. Khususnya semenjak era reformasi dan jatuhnya rezim Orba. Padahal jika menoleh ke awal tujuan dari reformasi, bukanlah untuk menumbuhkan sikap bangga. Apalagi menanamkan kebanggaan terhadap suku, agama, ras dan antar golongan dalam suatu komunitas massa. Tetapi lebuh memfokuskan pada suatu agenda. Yaitu dengan mengubah sistem yang telah ada. Yang ditengarai telah membawa derita dan membuat sengsara. Dan menggantinya dengan sistem baru yang diklaim dapat mengarah pada tingkat sejahtera.

Namun, untung tak dapat diraih, yang terjadi saat ini adalah kian tumbuh suburnya sikap sentimen berbau SARA. Sikap tersebut pun kerap kita temui di mana-mana. Karena bukan lagi sebatas isu belaka atau sesuatu yang mengada-ada. Namun telah menjadi realita dalam kehidupan berbangsa. Seperi yang telah terjadi di berbagai belahan nusantara. Berbagai konflik meletus dan mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa.

Berbagai konflik yang telah terjadi, tidak hanya disebabkan akibat permasalahan yang sederhana. Seperti akibat sikap kedaerahan yang berlebihan dalam suatu kelompok massa. Namun lebih kompleks lagi, karena telah merambah ke bidang agama. Hal tersebut yang kita jumpai saat ini, seperti dalam kejadian peledakkan bom khususnya. Karena para pelaku peledakan bom tersebut selalu bertindak “berdasarkan” perintah agama.

Alat legitimasi kekerasan mengatasnamakan agama

Permasalahan ini menjadi semakin rumit dan sulit untuk dipecahkan bersama. Karena jika telah menyinggung wilayah agama, maka penyelesaiannya pun menjadi sebuah dilema. Di satu sisi perbuatan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, dianggap sebagai perbuatan yang melanggar hukum dan hak asasi manusia. Namun di sisi lain, para pelakunya masih bersihkeras bahwa mereka bertindak berdasarkan perintah agama.

Legitimasi kekerasaan yang mengatasnamakan agama menjadi sebuah permasalahan yang menggurita. Karena tingkat sensitivitasnya begitu terasa. Jika sistem kepercayaan telah dijadikan alasan dalam melakukan tindakan diluar batas kemanusiaan, seperti teror bom misalnya. Sesungguhnya hal tersebut telah menggadaikan kesakralan dari suatu agama. Dan dapat menumbuhkan stereotip negatif terhadap suatu agama. Bahkan akan menumbuhkan sikap sentimen terhadap agama tertentu dan memicu meledaknya konflik antar pemeluk agama.

Stereotip negatif terhadap suatu agama

Pandangan negatif terhadap suatu agama, tidaklah muncul dengan sendirinya. Melainkan suatu rangkaian akibat tindakan yang memicu permusuhan diantara berbagai agama. Salah satu tindakanny, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Yaitu peledakkan bom dengan dalih perintah agama. Apalagi jika para pelakunya membawa symbol-simbol agama. Serta menjadikan lembaga atau penganut agama lain diluar mereka sebagai target dari peledakkan bom yang halal darahnya.

Akibat dari prilaku pemeluk agama seperti diatas, maka citra negatif pun diterima. Khususnya kepada suatu agama yang dianut oleh mereka. Terlebih mereka (para pelaku/pemeluk agama) dalam aksinya membawa-bawa symbol agama. Tidak hanya dalam aspek ideologi sebagai landasan tindakannya. Tetapi juga dalam ranah materi, dimana mereka merealisasikan simbol agama ke dalam unsur busana.

Busana menunjukkan identitas suatu agama

Busana merupakan salah satu bagian dari kebutuhan primer manusia. Selain kegunaannya untuk menutupi kemaluan atau aurat kita. Busana juga bermanfaat pula melindungi diri iklim maupun cuaca. Sehingga kebutuhan akan busana atau sandang menjadi suatu hal yang utama.

Tidak hanya sebagai penutup aurat semata. Busana ternyata telah menjadi suatu identitas diri manusia. Terlebih dalam suatu kelompok massa. Yang dengan demikian dapat membedakan antara ciri kelompok satu dengan lainnya. Apalagi jika mengingat beranekaragamnya ras manusia maupun budaya. Semakin menambah pula keragaman dalam segi pemakaian busana.

Khususnnya dalam konteks agama. Ternyata busana telah menjadi suatu identitas bersama. Yaitu dalam suatu komunitas massa penganut agama yang sama. Tidak hanya dalam ideologi yang sama, tetapi juga mereka menyeragamkan dalam aspek berbusana. Sehingga busana yang mereka kenakan menjadi bagian dari simbol agama. Dan menumbuhkan pencitraan terhadap mereka dengan busananya dalam benak penganut agama lainnya.

Relevansi tragedi peledakkan bom dengan busana suatu pemeluk agama

Tragedi atau teror berupa peledakkan bom seakan menjadi momok bagi kita semua. Terutama bagi mereka para korban yang dirundung duka hingga trauma. Ketraumaan itu berbekas hingga saat ini dan tak mudah hilang begitu saja. Apalagi jika telah tertanam dendam dalam diri mereka. Maka menjadi semakin sulit hilang apalagi hingga terlupa.

Ditambah jika mengingat para pelaku peledakkan bom yang telah membawa sengsara. Tidak hanya ketraumaan, tetapi juga dendam pun akan terus menyelimuti mereka. Sehingga menumbuhkan stigma negatif terhadap suatu agama. Yang di”dakwa” mengajarkan ajaran kekerasan seperti teror dan lainnya.

Tidak hanya stigma negative terhadap ajaran agama saja. Namun juga kepada para penganutnya sebagai pelaku dan aktor utama. Imbasnya mereka, khususnya para korban, selalu diliputi ketraumaan tiap kali berjumpa dengan suatu pemeluka agama. Yang diduga mereka sebagai teman dari pelaku teror, lantaran busananya.

Sintesa dari ketraumaan hingga berbuah stigma

Disinilah titik temu dari permasalahan yang ada. Berawal dari ketraumaan yang diderita, kemudian menanamkan sebuah stigma. Yaitu pandangan terhadap suatu kelompok massa yang berlatar ideology yang sama. Yang diidentikan dalam cara berbusana. Sehingga mengerucut pada stereotip negatif dalam citra. Dan menimbulkan ketakutan dan sikap paranoid di benak para warga. Padahal busana tidaklah sepenuhnya mencerminkan karakter seseorang ataupun kelompok massa. Bahkan dapat menipu mereka yang telah berpandangan negatif dalam praduga.

Walau busana telah menjadi suatu identitas, namun kita harusnya dapat memilah dan membedakan sesuatu prasangka. Karena penampilan kadang tak seperti adanya. Seperti orang bijak mengatakan; Jangan melihat buku dari sampulnya. Agar kita tak terjerembab pada ketakutan dan keparanoidan semata. Sehingga kita tidak menutup diri dan dapat saling terbuka. Dan kecurigaan pun tak selalu membayangi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(sampahfly31/21/04/2010)

Yoga ala Anand Krisna (jilid 2)

Yoga telah lama dikenal oleh bangsa India. Terutama di ranah spiritualitas dalam aliran kepercayaan ataupun ajaran keagamaan mereka. Tujuan dari yoga itu sendiri adalah untuk mengontrol pikiran manusia. Serta pula untuk mengendalikan alam sadar kita. Dan metode ini yang kemudian diadopsi dalam ajaran Anand Krisna.

Meditasi yoga ala Anand Krisna ini telah banyak menarik simpati dikalangan masyarakat Indonesia. Terutama bagi mereka yang berdomisili di Pulau Dewata. Karena lokasi pendopo/petilasan sang guruji, sebutan bagi Anand Krisna, terletak di sana. Bahkan tidak hanya masyarakat setempat yang menjadi pengikutnya. Namun juga para pengunjung yang sedang berwisata. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Yoga ala Anand Krisna menjadi metode penentraman jiwa

Keberadaan Anand Krisna di sana, seakan menjadi solusi bagi mereka yang mencari ketenangan jiwa. Meditasi yoga yang ditawarkannya, terbukti ampuh mengobati “sakit jiwa” yang diderita para pengikutnya. Akibat keberhasilan pengobatan jiwa tersebut, ternyata menimbulkan juga rasa “kecanduan” dalam diri mereka. Tidak hanya rasa candu tetapi juga menumbuhkan sikap loyalitas dan rasa keterikatan yang berlebih kepada sang guruji, Anand Krisna.

Rasa keterikatan berlebih, seakan tak dapat melepaskannya, yang lantas menanamkan sikap kultus persona. Oleh pengikutnya, sang guruji dianggap sebagai manusia setengah dewa. Dengan tutur katanya yang bijaksana. Yang memberikan pencerahan pada alam pikir yang terbuka. Serta pula mengobati hati-hati yang tengah terluka. Sehingga figurnya begitu memesona dan sungguh berkarisma.

Karisma yang dimiliki sang guruji, memesona beratus pasang mata. Terutama bagi mereka para pengikutnya yang bergender wanita. Mereka seakan terbius oleh beragam patah kata indah serta bijaksana yang terlontar dari sang guruji yang dikaguminya. Sehingga menggelorakan suatu rasa. Melebihi rasa murid kepada gurunya. Tidak hanya rasa kagum semata, namun semacam rasa seseorang yang sedang terpanah asmara.

Rasa keterikatan yang berlebihan mengakibatkan suatu perkara

Hal tersebut yang kemudian menimbulkan “tindakan tak wajar” yang dilakukan oleh sang guruji kepada muridnya. Terutama terhadap seseorang dari kaum hawa. Dengan dalih suka sama suka, sang guruji mewajarkan suatu cara. Cara yang dinilai olehnya masih dalam batas kewajaran karena tak ada unsur memaksa. Melainkan adanya rasa diantara mereka berdua. Yang pada akhirnya menganggap tindakan tersebut seperti hal yang biasa.

Namun berbeda dengan penilaian salah satu murid wanitanya. Merasa dilecehkan, dia lantas membongkarkan tindakan diluar kewajaran yang dialaminya oleh sang guruji, Anand Krisna. Dia pun lantas melaporkan tindakan tersebut kepada aparat negara. Dalih pelaporannya itu lantaran sang guruji telah melecehkannya secara fisik dengan mengontrol alam bawah sadarnya. Seolah dia terhipnotis oleh sang guruji seketika.

Namun terlepas dari polemik antara guru dengan muridnya. Biarlah perkara tersebut diproses oleh para aparat negara. Untuk mencari kebenaran dari alibi yang bertentangan diantara mereka. Dan kita juga berusaha untuk menarik sebuah benang merah dari suatu analisa.

Sebuah analisa sederhana

Zaman modern memaksa manusia beradaptasi dengan peradabannya. Tuntutan materi menjadikan manusia lupa akan segala. Akibatnya melupakan hal esensial dalam dirinya. Yaitu spiritualitas dalam realitas sempurna.

Spiritualitas manusia mengalami degradasi makna. Sehingga menimbulkan berbagai penyakit jiwa. Penyakit tersebut harus diobati dengan suatu cara. Yoga merupakan salah satu diantaranya.

Anand Krisna menawarkan yoga sebagai meditasi spiritual untuk menentramkan jiwa. Keberhasilan yoga yang diajarkannya menimbulkan sifat adiktif dalam diri para pengikutnya. Sehingga menumbuhkan ketergantungan serta kecintaan berlebih  terhadapnya.

Kecintaan yang berlebihan menumbuhkan bentuk kultus persona. Dalam konteks ini sang murid mengagungkan gurunya. Seakan “menghipnotisnya” untuk rela melakukan apa saja. Maka muncullah skandal antara guru dengan muridnya. Yang akan kita lihat kelanjutannya. Dan nanti akan diputuskan siapa diantara mereka yang berbicara apa adanya. Baik bagi yang merasa dilecehkan ataupun dicemarkan nama baiknya.

(sampahfly030/12/04/2010)

Yoga ala Anand Krisna

Spiritualisme, menjadi tema yang selalu hangat diperbincangkan di antara kita. Tema tersebut bersifat universal melampaui perbedaaan kepercayaan maupun paham agama. Karena spiritualisme sejatinya adalah kodrat Sang Pencipta kepada insan manusia. Dan tak dapat dipisahkan dalam kehidupan yang nyata.

Dalam diskursus ini, spiritualisme dibahas dalam bingkai dialektika. Khususnya dalam ranah agama maupun budaya. Karena sifatnya melebihi segala benda. Melintasi batas dimensi material dunia. Melebihi kepuasan biologis dan hasrat akan harta. Sehingga penilaian terhadap kepuasan spiritualisme berada pada puncak tertinggi dalam beragama. Baik itu yang kerap disebut dengan tahap pencapaian ma’rifatubillah, manunggaling kawula Gusti, wahdah al-wujud, atau ana al-Haq, yang mengklaim sebagai pelepasan dir terhadap hal yang fana. Hingga pencapaian moksa maupun prilaku asketik terhadap dunia dalam tradisi gereja.

Berharganya aspek spiritualisme dalam menyikapi evolusi manusia maupun masa

Begitu pentingnya aspek spiritual dalam diri setiap manusia. Sehingga meposisikanya sebagai suatu kebutuhan fundamen yang harus selalu dipenuhi oleh kita. Apalagi dalam konteks kehidupan postmodernisme sekarang, yang menafikan ketentraman jiwa. Lantaran hanya mengejar tuntutan zaman maupun biologis saja.

Hal itu yang menjadikan manusia modern saat ini seakan kehilangan arah; hendak kemana dia? Walaupun banyak dari mereka yang mengaku menganut suatu ajaran agama. Namun ternyata tak mendalami sepenuhnya. Seperti sebatas memenuhi perintah-Nya saja dengan menjalankan berbagai ritual, tanpa memahami sebuah makna. Padahal jika direnungkan, ritual itu merupakan salah satu mediasi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Selain itu juga alasan lain menganut agama, mungkin hanya untuk melengkapi syarat identitas diri sebagai warga negara.*

Kekosongan jiwa yang dialami manusia modern seperti kasus diatas, menyebabkan mereka tergiring ke dalam hidup yang hampa. Seakan merasa teralienasikan dalam kehidupan di dunia. Karena merasa terbebani dengan kondisi dan suasana. Sehingga menumbuhkan motivasi untuk keluar dari kehampaan yang menyiksa. Mencari berbagai metode atau solusi untuk mengatasinya. Dan ternyata salah satu metode mengatasinya, seperti yang ditawarkan oleh seorang spiritualis, Anand Krisna.

Metode rehabilitasi spiritual yang ditawarkan oleh Anand Krisna begitu banyak menarik minat warga, baik domestic maupun mancanegara. Hal tersebut tidak hanya karena ajaran spiritualnya. Namun juga karena figur pribadinya yang toleran dan terbuka. Dengan memandang semua manusia sama. Sehingga tidak melihat seseorang dari latarnya. Baik itu dari segi agama, suku bangsa maupun usia.

Karena sikap keterbukaannya tersebut maka tak heran banyak orang yang menaruh simpati untuk mengikuti ajarannya. Ajaran yang memuat metode untuk memenuhi hasrat jiwa manusia. Yaitu berupa metode dalam merehabilitasi jiwa-jiwa yang hampa. Baik itu karena perubahan dunia yang telah menggila. Ataupun pemenuhan dalam rangka menyejukkan rohani dalam beragama. Metode rehabilitasi yang ditawarkan olehnya, yaitu meditasi ala India yang dikenal dengan istilah yoga.

**bersambung

Kasus pajak yang digelapkan; momentum untuk menjernihkan kembali nama baik orang-perorang maupun golongan

Jika kemarin drama century telah berakhir walau masih menyisakan banyak pertanyaan. Namun tak mengurangi semangat dalam menegakkan hukum di seluruh lapisan. Baik dari tingkat aparat pemerintahan hingga aparat ketertiban lingkungan. Hal itulah yang menandakan adanya kepedulian di seluruh kalangan dalam pemberantasan mafia peradilan maupun pelaku pelanggaran.

Setelah kasus century kemarin yang telah menyeret keterlibatan beberapa nama orang- perorang maupun golongan. Pada kasus pajak yang digelapkan inipun masih menyeret berbagai nama, yang justru masih menjabat dalam pemerintahan. Namun sepertinya kasus ini seakan telah dikondisikan. Lantaran nama yang terlibat, merupakan “pemain” lama dalam kasus sebelumnya yang sangat menarik perhatian.

Kasus ini memang tak kalah dibandingkan sebelumnya, bahkan dapat dinilai sepadan. Dan sampai menyita waktu masyarakat untuk meyaksikan. Karena dinilai menarik, lantaran berbagai nama yang ditengarai bertanggung jawab pada kasus sebelumnya, kembali ikut memeriahkan. Jadi seperti pendangan diatas bahwa pengangkatan kasus ini ke permukaan, mengandung unsur “pesan” dan “titipan”. Misalnya dimanfaatkan dalam rangka mengklarifikasi, atau mengalihkan, atau juga menuntaskan dendam yang hendak dibalaskan.

Pesan dalam rangka klarifikasi nama orang-perorang atau golongan yang telah disudutkan

Jika pada kasus sebelumnya, beberapa nama telah terlanjur disebutkan. Apalagi jika diduga sebagai pihak yang memiliki keterlibatan. Secara otomatis telah mencoreng nama baiknya diberbagai kalangan. Dan akan menjatuhkan kredibilitas ataupun citranya yang selama ini telah diperjuangkan. Sehingga menjadikannya sebagai pihak yang disudutkan.

Karena alasan tersebut, maka digelontorkanlah kasus ini sebagai pembandingan. Dalam rangka menjernihkan kembali namanya yang telah didakwakan. Dengan begitu diharapkan akan timbulnya antitesis, dari tesis awal “dugaan keterlibatan” menjadi seorang pahlawan. Mana untuk itulah kasus ini diangkat dengan tujuan menarik perhatian dan menormalisasikan keadaan. Sehingga pandangan-pandangan yang tadinya seakan menyudutkan, diputarbalikkan agar menjadi sebuah dukungan.

Mengalihkan kasus sebelumnya dari perhatian

Kasus yang sedang menjadi fokus utama diberbagai media belakangan ini, tampaknya tak sekedar kasus biasa yang begitu saja mencuat ke permukaan. Apalagi sampai menjadi kasus utama yang selalu menjadi perbincangan. Tampaknya seperti sebuah skenerio yang sedang dimainkan. Karena munculnya kasus ini seakan telah menjadi bagian dari sebuah rangkaian. Yang dimulai dengan mencuatnya kasus “cicak melawan buaya”, terus meletusnya skandal century hingga ramainya berita dalam pemberantasan mafia peradilan.

Oleh sebab itu, kasus ini diduga merupakan suatu tindakan dalam rangka pengalihan. Yaitu mengalihkan perhatian masyarakat maupun aparat pada kasus sebelumnya yang sudah lebih dahulu berjalan. Sehingga penanganan kasus sebelumnya menjadi lamban. Yang terbukti dengan barjalanya proses hukum yang lamban. Sehingga membuat garah berbagai kalangan. Terutama bagi mereka para anggota dewan. Mereka bahkan berencana untuk menggunakan hak konstitusionalnya dalam rangka tindakan percepatan.

Menuntaskan dendam yang ingin dibalaskan

Jika kecurigaan atau kemungkinan diatas merupakan sebuah fakta, dalam rangka klarifikasi ataupun sebagai bentuk pengalihan. Maka motif dari tindakan tersebut bisa disebabkan oleh adanya kekecewaan. Kecewa terhadap orang atau golongan yang telah menguakkan aibnya kepada orang kebanyakan.

Atau motif lainnya memang berdasar pada pengungkapan suatu kebenaran. Yang berakibat timbulnya kekecewaan dalam diri orang yang melakukan kesalahan. Tidak hanya karena skandalnya yang dibongkar kepada khalayak ramai, namun bisa karena merasa dirinya dijerumuskan. Dan tidak tanggung pula penjerumusan terhadap dirinya hingga ke ruang tahanan.

Akibat dari sikap kecewanya tersebut, maka diambillah suatu tindakan sebagai bentuk pembalasan. Seperti halnya dengan menggulirkan suatu kasus ini sebagai tandingan. Tak lain untuk menyerang mereka yang dianggap sebagai “lawan”. Seperti yang tengah kita saksikan, dimana seseorang yang didalam kasus sebelumnya berperan sebagai seorang “pesakitan”. Namun dalam kasus ini bak seorang pahlawan.***

Nah, beginilah kondisi negeri kita sekarang, dimana para elit pemerintahan saling mengkambinghitamkan. Entah siapa diantara para aktor tersebut yang berkata sesuai keadaan. Karena mereka semua berdalih berkata jujur tidak dilebihkan. Apalagi saling mengklaim dalam menegakkan kebenaran. Namun hal itu tampak begitu sulit untuk dibuktikan. Dan tinggallah kita masyarakat awam yang dibingungkan. Karena mengalami kebimbangan dalam menggantungkan harapan. Agar kehidupan menjadi lebih baik di masa depan. Mengingat kesejahteraan kita saat ini yang belum mengalami peningkatan.

(sampahfly029/08/04/2010)

Memaknai kekudusan dalam tragedi penyaliban

Kisah seorang pembawa pesan kedamaian yang begitu dramatik, tatkala dia harus menebus kesalahan umat manusia dengan mengorbankan dirinya di tiang penyalib  an, sungguh mengandung nilai kesucian. Terutama bagi para pengikutnya, ketika masa itu di Tanah Kanaan hingga sekarang maupun akhir zaman. Tokoh yang disalib itu adalah Isa putra Maryam, sang juru selamat kehidupan.

Menapak tilasi keadaan sosio-kultural pra-penyaliban

Berbagai makna sesungguhnya terkandung dalam tragedi penyaliban. Bagaimana seorang Isa putra Maryam rela mengorbankan nyawanya demi suatu agenda penyelamatan. Yaitu secara umum dengan menyelamatkan umat manusia keseluruhan. Namun lebih spesifik dalam konteks masa terjadinya penyaliban itu, adalah menyelamatkan nyawa bangsa Yahudi dan umatnya dari tindak kekejaman. Kekejaman yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi yang tiran dalam pendudukan Kota Yerusalem dan Tanah Kanaan.

Pendudukan tersebut dikarenakan Yerusalem kala itu telah menjadi lahan perebutan kekuasaan. Lantaran lokasinya yang strategis dalam jalur perdagangan. Sehingga pendudukan atas Yerusalem menjadi suatu kemutlakan. Dengan demikian, maka segala bentuk ajaran yang disinyalir dapat mengganggu hegemoni Kekaisaran Romawi di Tanah Kanaan harus ditekan. Bahkan kalau bias diberanguskan, agar tak tersisa ajaran sempalan yang nantinya dapat membahayakan.

Atas dasar demikian, maka pemerintah yang berkuasa kala itu menindak Isa putra Maryam dengan ajarannya mengenai kedamaian serta kebijakan. Karena ditengarai oleh mereka dapat menumbuhkan benih-benih patriotisme di kalangan para militant. Sehingga dapat memicu meletusnya api pemberontakan. Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Karena ajaran yang dibawanya lambat laun memperoleh banyak dukungan dari para simpatisan. Terutama di kalangan Bangsa Yahudi yang merupakan satu keturunan.

Ditambah lagi dalam keyakinan mereka (bangsa Yahudi) terdapat kepercayaan akan datangnya “sang juru selamat” yang membawa mereka keluar dari penindasan. Dan juga membawa mereka pada suatu kemerdekaan. Apalagi Isa putra Maryam digadang-gadang oleh mereka sebagai prototipe raja yang ideal dalam menciptakan kemaslahatan. Yang kelak akan menjadi raja yang bijaksana dari segi kepemimpinan.

Alasan mengorbankan sang juru selamat keatas bukit penyaliban

Kekhawatiran yang berlebihan tersebut yang pada akhirnya menjadi kebijakan yang diambil oleh Pilatus, penguasa Yerusalem kala itu, untuk mengambil suatu tindakan. Yaitu dengan menangkap Isa putra Maryam dan menjebloskannya ke dalam tahanan. Dengan begitu menurutnya, benih-benih pemberontakan dapat diminimalisir dan memberi shock terapy bagi rakyat kebanyakan.

Namun kekhawatirannya tak lantas hilang begitu saja, lantaran dia tak dapat memenjarakan Isa putra Maryam tanpa suatu alasan. Alih-alih untuk memberi suatu penjelasan. Maka cara lain pun harus ditempuh agar legitimasi penangkapannya menjadi jelas yaitu dengan dikenai pasal penistaan terhadap ajaran. Sehingga pengadilan terhadapnya pun harus diserahkan kepada mereka (bangsa Yahudi) sendiri yang memeluk suatu ajaran kepercayaan. Dengan begitu, Pilatus atas nama kekaisaran lepas tangan. Dan menyerahkan proses hukumnya kepada rakyat kebanyakan.

Dengan mempertimbangkan konstelasi politik yang ketika itu tengah memanas karena adanya benih pemberontakan. Dan juga menimbang akan utamanya kemaslahatan. Maka mereka (bangsa Yahudi) mengambil suatu keputusan dengan mengadili Isa putra Maryam melalui proses penyaliban. Agar stabilitas politik dan kemasyarakatan kambali terkendali dan aman.

Dengan pertimbangan demikian, maka secara lansung mereka memiliki andil dalam menormalisasi keadaan. Sehingga konstelasi politik yang sebelumnya sempat memanas dapat kembali didinginkan. Dan ketakutan akan meletusnya pemberontakan yang mengakibatkan pertumpahan darah dapat terelakkan.

Maka proses penyaliban terhadap Isa putra Maryam pun segera dilaksanakan. Dengan terlebih dahulu dilakukan eksekusi terhadapnya berupa cambukan. Baik cambukan yang dilakukan di halaman istana kekaisaran. Maupun cambukan ketika Isa putra Maryam melakukan perjalanan dari ruang tahanan hingga sesampainya di bukit penyaliban.

Makna tragedi penyaliban bagi umat manusia keseluruhan

Perlakuan kekerasan berupa cambukan yang menimpa Isa putra Maryam tak menyurutkannya dalam menyikapi suatu keyakinan. Keyakinan terhadap ajaran kedamaian yang dirisalahkan kepadanya melalui kasih Tuhan. Baginya, cambukan bertubi-tubi yang dihujamkan oleh para algojo istana kepadanya, hanyalah segelintir perih di dunia dan tak sebanding dengan kenikmatan yang dijanjikan Tuhan di akhir zaman. Karena baginya pula, dunia ini hanyalah seponggah derita dan menilai harta tidak sebagai suatu kekayaan. Kekayaan di dunia baginya justru adalah kedamaian dan kemerdekaan.

Oleh karena itu, diutuslah dia ke dunia oleh Tuhan melalui rahim sang perawan. Dengan tujuan membawa pesan damai dan menjunjung tinggi kasih Tuhan. Melalui rahim (ar-rahim, bahasa Arab yang berarti kasih/pengasih) seorang perawan yang terjaga kesuciannya, Tuhan meniupkan roh kudus untuk membuktikan kekuasaan. Sehingga kelahiran Isa putra Maryam tersebut menyiratkan pula pesan kekuasaan dan kesucian Tuhan.

Hingga menjelang proses penyalibannya tersebut, Tuhan pun masih menunjukkan kesucian dan kekuasaan. Dengan menunjukkan keteguhan hati seorang Isa putra Maryam dalam memandang suatu kebenaran. Rasa sakit yang dideritanya akibat cambukan tak menjadi sebuah hambatan. Melainkan menjadi suatu kenikmatan dan kebahagian. Kebahagiaan itu yang dirasanya, walau tidak demikian penilaian orang kebanyakan. Karena dia telah melampaui batas manusia biasa dalam aspek mencintai Tuhan.

Jangankan Isa putra Maryam, seorang istimewa yang tengah merasakan cinta terhadap Tuhan yang berlebihan. Manusia biasa saja dapat merasa mabuk kepayang ketika merasakan jatuh cinta dengan sesama insan. Bahkan dapat membawanya pula larut dalam suatu kebahagiaan yang berlebihan. Namun menurut orang lain yang tidak merasakan deikian akan menganggapnya sebagai suatu kegilaan. Hal tersebut yang terjadi dalam kasus Isa putra Maryam yang tengan mengalami kegilaan sehingga menafikan segala rasa sakit akibat cambukan maupun penyaliban.

Karena kegilaannya dalam mencintai Tuhan. Maka dengan kasih-Nya, Tuhan pun lantas mengangkatnya ke dalam surga keabadian. Disana dia akan menemukan kedamaian abadi yang semasa hidupnya diperjuangkan. Hal tersebut merupakan bentuk dari ganjaran dan penghargaan terhadapnya dalam hal pengabdian. Dan kelak kasih Tuhan pun selalu memberkati umat manusia yang beriman.

(sampafly028/05/04/2010)